A Glass Of Green Thai Tea

Jadi hari ini, ceritanya saya lagi dirumah karena sakit dan yeah mungkin stress. But lets not get into details with such things, and just get into the main business. Since there’s no one at home (excluding my mbak) and i’ve got bored, I decided to cook a new recipe I’ve always been curious about, takoyaki and green thai tea.

Takoyaki itu resepnya simple, nggak aneh-aneh, dan kekurangan saya cuma satu, nggak ada takoyaki pan-nya dan saya nggak mau beli sebelum saya bisa masak takoyakinya dulu dengan baik dan benar. Pagi-pagi saya semangat buka resep yang udah di screen shot dari berbulan-bulan lalu (I actually planned to make it since a while ago), dan nyiapin bahannya. Pas saya masukin dan nyampur bahannya, saya mikir, “This one should be really simple and the price outside there is really really not worth it“. Udah belagu dan sok banget lah ya. Tapi apa yang terjadi? Takoyakinya gagal. Gagal total karena kebanyakan kaldu instan yang jadinya, Takoyaki saya keasinan sodara-sodara. Akhirnya nasib si Takoyaki berakhir di tempat sampah.

Sorenya, Ibu saya pulang dan nanyain mana Takoyakinya (She left when the Takoyaki was on its way), dan Ibu saya bilang coba aja bikin lagi, tapi jangan pake fry pan biasa, tapi coba pake pan untuk kue cubit. Berbekal semangat pengen makan takoyaki, akhirnya saya coba bikin lagi (kali ini adonannya setengahnya aja, antisipasi gagal), saya nyoba bikin lagi dan voila! Takoyaki saya sukses, dengan melted cheese yang enak sekaliii (oke gue mulai hiperbola).

And my cooking journey today hasn’t over yet, masih ada green thai tea yang mau saya bikin. Cerita si green thai tea ini udah lama banget, hampir setahun lalu pas sekeluarga liburan ke Thailand dan kita beli bubuk green thai tea ini di salah satu toko oleh-oleh besar dalam perjalanan Pattaya menuju Bangkok dengan, well, bahasa isyarat sama pramuniaganya. Dari sekian banyak merk yang ada, si pramuniaganya menyodorkan merk yang akhirnya nyokap beli dan nyokap sudah nanya-nanya tentang cara bikinnya (yang pada akhirnya gagal juga, karena sama-sama nggak ngerti).

Pas balik ke Jakarta, kita langsung bersemangat untuk nyoba karena sebelumnya instant thai tea yang dibeli bokap di Pattaya Floating Market rasanya enak banget, exactly kayak yang ada di restoran Thailand di Jakarta plus kita juga abis kecewa sama thai tea kemanisan yang dibeli di salah satu convenience store di Pattaya Beach Walk.

Karena itu teh bubuk, direbus dulu, baru abis itu dikasih condensed milk alias susu kental manis dan gula. Teorinya sederhana bangetlah, gampang. Kenyataannya setelah setaun berlalu, sampe itu merk yang exactly sama itu ada di salah satu hypermarket di Indonesia, belum ada orang rumah yang berhasil bikin green thai tea seenggaknya sama kayak yang ada di restoran thailand. Dan hari inipun, setelah percobaan kesekian kali, gue tetap gagal bikin green thai tea yang enak.

Tapi, at the end gue belajar tentang konsistensi dan ketekunan. Juga kerja keras, semangat. Dalam hidup, ada hal-hal yang ketika diusahakan langsung jadi (kayak gue bikin cheese cake) tapi pas dicoba lagi gagal. Ada hal yang pertamanya gagal, pas dicoba lagi berhasil. Ada juga hal-hal yang dicoba berkali-kali, dan gagalnya juga berkali-kali (seperti kisah gue dan bubuk green thai tea yang sekarang sudah kembali lagi ke tempat air tight-nya itu).

Terus kita harus ngapain? Nyerah? Ngebiarin gitu aja? atau bilang, ya emang bakat gue nggak disana kali, gagal terus? Nggak. Hidup ya nggak asik kalo nggak ada usahanya, nggak ada sacrificial nya, nggak ada gagalnya. Usaha aja lagi, nothing to lose, karena toh kalo gagal lagi, nggak berarti kita nggak dapat apa-apa kan? Yang gue percaya sih, setiap failure itu ngasih tau gue lagi, salah gue dimana, kekurangan gue dimana, yang mungkin belum gue tau dari failure(s) sebelumnya. Jadi makin banyak kita gagal, makin banyak juga pelajaran yang kita dapet.

Gitu aja sih dulu, gue juga nggak tau ini blog post ada yang baca apa nggak, dan yah, maafkan bahasa gue ya. Nyampur, berantakan. Gue lagi belajar nulis pakek bahasa Indonesia full sih, tapi ya apa daya, masih banyak italicnya, hehehe. Later, mungkin gue akan bahas tentang bahasa, tentang boarding life, atau apapun daily life gue. See you later!

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s