Those Olympics and I

Those Olympics and I

Banyak orang yang menuliskan kesuksesan-kesuksesan terbesar dalam hidup mereka. Entah dalam post-post di blog, buku, personal website, atau mungkin autobiografi. Tapi nggak banyak yang menuliskan detail kegagalan-kegagalan mereka, kalaupun ada lebih banyak yang menuliskannya ketika akhirnya sudah sukses. Terinspirasi dari beberapa artikel yang saya baca, ada beberapa orang yang kemudian membuat failures CV, karena bagi mereka, CV mereka yang keren itu bisa ada karena failures CV itu.

Ini kemudian membuat saya tertarik untuk menuliskan hal serupa, tapi dalam konteks dan format yang agak berbeda. Secara saya masih remaja 16 mau 17 tahun, pengalaman saya juga nggak banyak-banyak amat, masih bocah kalau kata orang mah.

Simply, saya mau cerita tentang olimpiade atau lomba akademik. Percaya atau enggak, sejak SD (OSN tingkat kelurahan jaman SD nggak masuk itungan lah ya) sampai mau lulus SMA ini, saya belum pernah ngerasain yang namanya menang lomba akademik. Yang olimpiade gitulah, belum pernah sama sekali. Dari yang saya niat banget ngusahainnya, sampe ikutan pre competition intensive training berhari-hari, sampe yang saya udah hopeless bahkan sebelum lomba mulai, belum pernah ada satupun yang bawa trofi ke rumah. Ini berbanding terbalik banget sama lomba-lomba public speaking yang Alhamdulillahnya beberapa kali udah nganter trofi ke rumah.

Kadang kecewa, karena kok bisa nggak dapet terus sih. Malu juga udah buang-buang uang sekolah buat daftar. Walaupun saya tetep seneng karena dapet sertifikat :). Nah, pada salah satu lomba terakhir yang saya ikutin, yang saya udah belajar sampe dini hari, dan hasilnya ya saya nggak menang juga, akhirnya saya bisa lebih santai. Bukan karena saya  nggak mengharapkan lomba itu, bukan juga karena saya nggak bisa jawab soalnya, tapi mungkin karena akhirnya saya ada di satu titik kepasrahan, nothing to lose dalam arti yang bener.

Dan akhirnya saya pikir-pikir, perjalanan lomba public speaking saya juga nggak mulus kok. Saya pernah grogi gara-gara Ibu saya nonton, butuh waktu hampir 5 tahun sampai akhirnya saya mengizinkan Ibu saya atau orang yang saya kenal untuk nonton saya lomba. Sekarang, disaat ketika bahkan debat aja saya bisa cengengesan dan senyum-senyum santai disaat lawan berapi-api mendebat argumen saya, ini adalah proses yang panjang. Jadi wajar aja sebenernya lomba akademik saya belum pernah dapet, karena walaupun frekuensinya hampir sama seringnya dengan lomba non akademik, tapi rentang waktunya belum sepanjang non akademik.

Satu lagi, pas saya lomba di salah satu universitas, ketika mengumumkan yang lolos ke babak selanjutnya, kakak panitianya bilang “Setiap orang punya jatah kegagalan yang sama dalam hidupnya. Jadi adek-adek, lebih baik kita habiskan jatah kegagalan kita ketika kita masih muda”. Saya sejak itu selalu menanamkan kata-kata ini ke diri saya sendiri setiap ada kemenangan yang tertunda. Mungkin Allah masih ingin saya fokus ke usaha, bukan hasil. Karena, Dia selalu tahu yang terbaik bukan?

Advertisements

2 thoughts on “Those Olympics and I

  1. Hey Salma! Masih inget aku? Your’s old friend. You’re so cool, amazing. Terlihat dari tulisanmu, menjadikan sebuah pengalamanmu itu gurumu, kamu orang yang selalu berfikir positif! Semoga alir kehidupanmu selalu positf yya! Wish you all the best friend!! See ya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s