Tentang Sebuah Pencarian

Tentang Sebuah Pencarian

“Kalian akan merasa sukses duniawi kalau?”

“Kalau saya masuk Harvard, Bu”

Teman-temannya menoleh, tak mengerti. Mereka masih SD.

Landasan Cita

Aku tumbuh dengan sebuah kecintaan yang luar biasa pada Ilmu Sosial. Semenjak kecil menghabiskan waktu dengan menonton berita di televisi, berdiskusi dengan kakekku mengenai kasus korupsi yang begitu marak di negeri ini, menyimak konflik-konflik yang terjadi di berbagai belahan bumi.

Mengenal nama Saddam Hussain bahkan ketika usiaku belum genap 3 tahun. Kemudian mulai intens mengikuti segala perkembangan dunia ketika George W Bush memenangkan pemilihan umum Amerika Serikat 2004 silam. Semenjak itu pula, ketertarikan terhadap isu-isu Internasional berkembang pesat.

Ketika SD, aku melihat banyak sekali kekacauan di negeri ini. Korupsi, isu lingkungan, keamanan perbatasan hingga perlindungan terhadap buruh migran yang minim. Maka sejak itu pula, cita-citaku satu, melakukan apapun untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. Dengan bentuk kontribusi apapun, karena diatas segalanya, aku mencintai negeri ini.

Aku pernah memilih arkeolog, lalu sejarawan, hingga wartawan olahraga sebagai profesi impian masa depanku. Hingga aku mengenal sebuah disiplin ilmu baru, Ilmu Hubungan Internasional ketika membaca sebuah buku karya Ahmad Fuadi. Buku yang kemudian membuatku memacakkan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran sebagai impian, yang kelak aku lepaskan ketika aku telah begitu dekat dengannya.

 

Sebuah Tujuan

Suatu siang, saat Facebook baru saja booming diseluruh dunia, guruku berkisah tentang sebuah universitas terbaik di dunia, almamater sang pencipta Facebook, Harvard. Beliau juga bilang tentang Harvard sebagai salah satu Universitas tertua di dunia, bersama Oxford, Al Azhar dan serangkaian nama besar lainnya.

Kemudian di hari lainnya, guruku bertanya tentang mimpi-mimpi kami. Tentang pencapaian duniawi yang membuat kami merasa sukses. Teman-temanku menyebutkan menjadi yang terbaik dalam pelajaran ini itu, masuk 5 besar, nilai diatas 9 atau paling jauh masuk SMP negeri favorit. Ya memang pencapaian apalagi yang dipikirkan anak SD kelas 5?

Tapi hari itu, dengan senyum aku dengan yakin berkata,

“Saya akan merasa sukses kalau saya berhasil masuk Harvard, Bu”. Saat aku mengatakannya, aku bahkan tidak tahu Harvard ada di bagian mana Amerika. Tidak tahu program apa saja yang ditawarkan di Harvard. Yang aku tahu, masuk Harvard tidak akan mudah. Berstatus sebagai universitas terbaik di dunia saat itu, aku cukup tahu diri bahwa berkuliah disana tidak akan menjadi soal sederhana.

Maka sejak itu, aku berusaha fokus menyiapkan diri. Memperbaiki bahasa inggris, menjadi patokan utama. Aku masih ingat bagaimana essay bahasa inggris pertamaku dibuat, berlari ke setiap sudut rumah mencari orang yang bisa membantu menerjemahkan kata-kata sulit. Essay yang dibuat karena tantangan guru TIK ku, untuk berkisah tentang pengalaman supercamp 3 hari kami.

 

Kala Mimpi Pecah Berkeping

Semenjak memilih Harvard sebagai tujuan, lalu kemudian menyandingkannya dengan Oxford dan Cambridge, aku hanya berfikir bagaimana caranya agar aku menempuh jalur yang tepat untuk menuju kesana. Bagaimana merealisasikan impian-impian besar itu.

Salah satu pijakan fundamentalnya adalah ketika memilih sekolah menengah pertama. Sejak lama orangtuaku memang menginginkan aku untuk menempuh pendidikan di pesantren. Mereka telah mencoba mengenalkan beberapa pesantren, membawa aku agar aku dekat dengan lingkungannya.

Tapi aku kukuh menolak. Aku tidak rela kedekatan dengan Nenek-Kakek, Om-Tante dan terutama orangtuaku harus tergadaikan demi masuk pesantren. Di sisi lain, aku juga sudah diterima di sebuah sekolah swasta yang menawarkan kurikulum semi-internasional dan program menghafal Al-Qur’an yang baik.

Pertimbangan lainnya adalah jika aku masuk pesantren, maka segala akses informasi akan tertutup. Jangankan akses internet, bahkan koran dan buku bacaan sepert biografi dan motivasi saja diharamkan untuk dibawa. Maka lantas bagaimana aku akan berkembang disana?

Orangtuaku kukuh membujuk untuk memilih pesantren. Bahkan guru-guru SD yang begitu kucintai ikut serta melobi agar aku berkenan melanjutkan sekolah ke pesantren. Aku terus mengulur waktu, menolak masuk pesantren. Hingga suatu sore, selepas ashar aku memeluk Ibuku sambil berkata, Ya aku akan masuk pesantren.

Hidup selanjutnya berjalan cepat, sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke pesantren. Hingga akhirnya hari yang tidak pernah aku inginkan datang, hari aku masuk pesantren. 11 Juli 2011. Berpisah dengan orangtua, rumah, kamar, yang memberikan kenyamanan selama ini.

Seminggu pertama kulalui dengan homesick berat, rindu yang mengakar. Mandi yang mengantri. Makan yang begitu berbeda dengan makanan rumah. Bangun dibangunkan oleh bel yang memekakkan telinga. Mana sempat memikirkan Harvard saat itu?

Yang sempat terfikir adalah beberapa tulisan mengenai kerajaan-kerajaan di Eropa yang sempat kubaca sebelum pergi. Tulisan yang kusalin sendiri dari laptop, kata perkata, karena takut akan disita kalau berbentuk print out. Sesekali tersenyum saat mengingat perjuanganku menyalinnya. Itu satu-satunya alasan aku tersenyum di seminggu itu.

Minggu selanjutnya, ketika mulai masuk sekolah, aku dihadapkan oleh sebuah fakta besar, aku akan belajar 22 mata pelajaran. Lebih dari setengahnya adalah pelajaran agama. Dengan waktu kegiatan yang begitu padat. Otak kritisku lantas cepat berfikir, lantas kapan waktuku mengembangkan diri? Mengikuti kompetisi? Bersenang-senang bersama artikel olahraga dan politik yang aku sukai? Bahkan koran saja sulit. Kegelisahanku bertambah, bagaimana aku akan masuk Harvard jika begini?

Maka setelah 2 minggu, aku berketatapan untuk bicara kepada kedua orangtuaku, aku tidak mau lagi melanjutkan pendidikanku disini. Aku ingin kembali ke Jakarta. Kembali ke duniaku. Kembali meniti jalanku kepada mimpiku. Orangtuaku menolak, memintaku untuk bersabar sedikit lagi dan bertahan.

Akhirnya aku menjalani hari disana dengan kesedihan. Berpisah dengan orangtua bagi gadis 11 tahun tentu bukan perkara sederhana. Belum lagi ditambah kedukaan tidak mempelajari hal-hal yang aku cintai. Seakan belum cukup, sama sekali tidak ada orang yang bisa diajak berbagi, tentang tekanan, ketidakbetahan dan utamanya impian.

Disamping fakta bahwa hampir semua mata pelajaran diajarkan dalam bahasa arab, aku juga harus menghadapi sekian inkonsistensi dan peraturan yang tidak masuk akal dari sekolah itu. Seolah itu semua belum cukup, peraturan disana labil sekali. Bisa berubah per 2 minggu sekali. Aku yang terbiasa dengan peraturan yang ajeg, tentu saja tidak bisa menerimanya. Aku benar-benar tersiksa disana.

Pada pertengahan masa studiku disana, orangtuaku akhirnya mendapatkan ilham untuk memberikan opsi pindah. Memilih sekolah manapun yang aku pikir cocok untukku. Hanya saja, dipertengahan jalan, ayahku melontarkan sebuah kalimat sederhana yang kelak menjadi cambuk bagiku untuk bertahan.

 

Menghadapi Realita

“Kalau bertahan disitu saja tidak mampu, bagaimana mau masuk NUS?” -Ayah

Loh kok jadi NUS? Di akhir masa SMP, aku akhirnya menyadari bahwa dengan persiapan yang sangat minim dan bahasa inggris yang masih berantakan, berat bagiku untuk masuk Harvard. Berat pula bagiku untuk kembali berpisah dengan orangtuaku sebegitu jauh untuk setidaknya 4 tahun masa studi S1-ku.

Akhirnya aku memutuskan memilih NUS atau NTU sebagai tujuan kuliah S1-ku. Fakta bahwa Singapura tidak begitu jauh dan posisi NUS dan NTU sebagai universitas dengan ranking tertinggi se-Asia membuatku cukup tertarik. Lagipula, masih ada S2 dan S3 untuk menimba ilmu di Harvard nantinya.

Aku pikir, tak apa bukan yang terbaik di dunia tapi yang terbaik di Asia. Ayah pernah diterima di NUS, jadi seharusnya masuk NUS tidak sesulit itu, pikirku saat itu. Pada saat itu, aku juga telah memilih untuk masuk sebuah SMA swasta berasrama di daerah Subang, Jawa Barat. Konon kabarnya, sekolah ini terkenal dengan prestasi akademik yang cukup baik dan management sekolah yang rapi. Oke, tidak ada inkonsistensi peraturan lagi, pikirku senang.

Sejak menginjakkan kaki di SMA-ku, tujuanku begitu terang dan jelas, bekerja keras agar nilaiku cukup untuk seleksi awal dua universitas di Singapura itu dan mempersiapkan diri untuk test masuk dua universitas tersebut.

Bergabung dengan organisasi intra sekolah juga menjadi salah satu aktifitasku. Untuk menambah pengalaman. Disamping itu aku juga mengikuti berbagai perlombaan agar pengalaman dan prestasiku cukup menarik pada saat proses aplikasi. Aku merasa sudah on the track, hingga diujung masa studiku, berbagai hal datang, membuat aku harus teguh menghadapi realita bahwa NUS dan NTU tidak berjodoh denganku saat ini.

 

Bersambung—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s