On Politics, Beliefs and Friendship

“You can tell me that politics is distasteful, that it is corrupt. But there is no human-invented institutions that can impact the world the way government does”
-Prof. Steve Jarding sebagaimana dikutip dalam captions instagram @afutami

Untuk seseorang yang kukuh menjaga idealisme perjuangannya, yang kukuh bagai karang pada prinsip dan nilai yang diyakini, yang menjaga kehormatan dalam setiap langkah dan sikap yang diambil meski itu tidak mudah,

Kata banyak orang, Salma dan politik begitu erat hubungannya. Kata banyak orang, Salma mafhum sekali jika bicara politik. Iklim, lingkungan, keluarga membangun kepekaannya terhadap dunia politik kian kuat. Melanjutkan pendidikan di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Terbiasa aktif di organisasi, pernah di calonkan dalam pemilu ketika SMA. Ekspektasi orang sederhana, ketika kuliah, semuanya akan berlanjut. Tapi kalau kata orang sekarang, tidak semudah itu, Ferguso.

Pada kepanitiaan pertama yang diikuti di tataran universitas, kepercayaannya runtuh. Harapannya hilang. Semenjak itu, ia kemudian banyak menarik diri dari dunia perpolitikan kampus. Bahwa baginya, terkadang memilih bukan tentang rasa percaya yang ada, tapi kerapkali memilih adalah setidaknya tentang tidak memenangkan pasangan yang lebih ia tidak percayai. Pragmatisme kemudian menjalar, bahkan tak memilih terkadang diambil menjadi pilihan.

Berkali-kali, bertalu-talu, ajakan untuk pupuk rasa percaya hadir dan datang. Berkali-kali, kanan-kiri-atas-bawah, semuanya pernah berhenti berusaha untuk mengajak, untuk ikut. Seseorang bahkan dengan tidak sopannya pernah mencela keputusannya untuk tidak terjun dalam politik praktis. Ia tidak berkontribusi, katanya. Ia tidak berjuang, katanya. Tapi apalah arti kata dan ajakan, jika memang percaya tak kunjung hadir? Apalah arti bujuk rayu, jika pada akhirnya yang ia tidak melihat kesamaan nilai, visi, orientasi dan cara berjuang?

Karena pada akhirnya, memutuskan untuk mengkampanyekan, memutuskan untuk membantu proses pemenangan, akan memberikan tanggungjawab sosial dan moral yang besar. Utamanya, akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan kelak. Maka bagi Salma, kesamaan nilai, visi, cara pandang, jadi bagian dari list panjang yang harus terpenuhi. Selama belum ada, maka ia memutuskan untuk berjuang dengan caranya sendiri, dan tak terlalu banyak ikut campur.

Tapi hari ini, kisah baru akhirnya akan dimulai. Kisah baru akhirnya akan menemui titik awalnya. Ketika seseorang yang ia percayai, yang memegang nilai dan norma yang sama dengannya, yang selama ini kerapkali dikatakan apatis, yang tidak semua orang memahami dirinya dan visinya, akan memutuskan untuk turun dan terlibat dalam dunia politik praktis. Keputusan yang tidak sedikitpun terbersit di pikirannya, bahwa teman terbaiknya, akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan ini, jalan politik. Tidak pernah sebelumnya terbayangkan, seseorang yang kerapkali dilihat sebagai seseorang yang begitu santai dan tenang, seseorang yang seolah hidupnya tanpa beban, yang kerapkali dianggap ingin sekali kebebasan, yang kerapkali dianggap tak peduli, akhirnya memutuskan untuk maju dalam kontestasi pemilihan raya.

Masih segar dalam ingatan bagaimana dulu seseorang yang sama meminta pendapatnya tentang menjadi staff BEM atau DPM. Masih jelas bagaimana seseorang yang sama, meminta pertimbangan akan komisi mana yang akan ia pilih. Bahkan masih jelas, bagaimana suatu siang, seseorang yang sama sedang gelisah, menunggu telefon dari Ayahnya tentang aplikasinya di universitas tempatnya belajar saat ini.

Looking back to those high school years, I have never imagined that you will finally be in this stage. Tidak pernah sedikitpun terbayangkan, akhirnya politik praktis akan jadi jalan yang sang teman pilih. Tidak sedikitpun. Tidak pernah terbayang. Tidak pernah terbersit dalam pikiran, walau sekejap. Tapi ternyata, inilah kehidupan.

Aku tahu dan faham sekali, transformasi yang terjadi padanya setahun terakhir ini. Menjadi staff dari organisasi perwakilan mahasiswa, telah banyak merubah paradigma dan pola berfikir. Maka meski tak pernah sedikitpun terbersit di pikiranku bahwa kau akhirnya akan memilih jalan ini, tapi aku tak pernah ragu alasan mengapa percaya itu diberikan padamu. Aku selalu tahu, bahwa jabatan tidak pernah jadi alasan, tak pernah jadi emas yang silaukan pandangan, tapi aku tahu, bahwa fokus dan tujuanmu jelas, berguna, mengabdi dan membawa kebaikan bagi sekalian alam. Memperjuangkan nilai-nilai yang kau percaya sebagai kebenaran.

Maka hari ini, Haya Syahira, kau berhasil membangunkanku dari tidur panjang dan ketidak percayaan terhadap dunia politik. Hari ini, disaat aku sulit sekali untuk percaya bahwa masih ada orang-orang tulus yang masuk ke politik untuk mengabdi, tanpa kepentingan atau apapun yang melatari, bukan berarti aku bilang tak ada, tapi tak banyak. Keputusan kau hari ini, untuk mendaftar, jadi cambuk dan pengingat untukku, bahwa memang ada orang-orang yang terjun untuk benar-benar memperjuangkan nilai, idealisme dan hal-hal yang dianggapnya benar.

Siapa sangka, bahwa diantara kita, kamulah orang yang kemudian hadirkan percaya itu. Siapa sangka jika diantara kita berdua, ternyata saat ini, kamulah yang terjun dengan berani ke medan politik praktis. Siapa sangka jika diantara kita berdua, ternyata kamu yang berdiri tegap, dengan berani, membela hal-hal yang dipercayai terjun ke medan yang berat dan ganas.

Tapi esensiku menuliskan tulisan panjang ini hari ini sebenarnya sederhana. Agar apa yang kutulis hari ini, agaknya jadi pengingat, agaknya jadi hal yang selalu kau patri dalam hati. Agar apa yang aku tulis hari ini, akan bisa bermanfaat dan bisa menjaga nafas perjuanganmu dalam hari-hari pemilihan raya berat yang panjang. Dan yang terpenting, menjaga idealisme jika nanti terpilih.

Politik, bukan dan tidak pernah akan jadi dunia yang sederhana dan mudah untuk di jalani. Godaan akan kekuasaan, jabatan dan sebagainya kerapkali akan menganggu idealisme. Kadang, prinsip mudah sekali tergoda, mudah goyah. Bukan berarti aku bilang prinsip yang kau pegang tak cukup kuat. Bukan juga aku tak percaya padamu. Tapi sesederhana bahwa, aku tahu bertahan diantara terpaan angin kencang tak mudah. Atau kadang, boleh jadi anginnya tidak kencang, tapi pelan dan sepoi, sehingga seolah menenangkan, padahal itu ancaman.

Maka, semoga iman tak pernah lepas dari hati dan selalu terefleksi dalam sikap dan keputusan yang diambil, semoga keyakinan dan idealisme yang selama ini dipupuk selalu jadi penjaga dari godaan nafsu. Semoga kekuatan, akan selalu mengiringi dalam mengaplikasikan prinsip yang sama-sama kita percaya, bahwa politik bisa dibangun bersama idealisme, prinsip dan utamanya kehormatan. Bahwa politik, adalah salah satu alat untuk menyebarkan kebaikan.

Seumur hidup aku mengenal kau, aku selalu tahu dan selalu percaya bahwa kau adalah seseorang yang menjaga idealisme dan kehormatan. Bahwa kau, jika meminjam istilah Tere Liye, adalah petarung yang selalu memenangkan kehormatan diatas segalanya. Maka terus begitu, terus menjadi petarung yang bertarung untuk nilai-nilai yang ia percayai, dan tak pernah lepas dari kehormatan dalam proses memperjuangkannya.

Hari ini, ada beberapa orang yang punya niat baik, tapi kerapkali niat baik itu mereka lupakan dalam proses meraihnya. Ada beberapa orang yang baik, tapi melupakan apa tujuan mereka diujungnya. Kau punya dua kombinasi jitu itu, prinsip dan idealisme ketika melakukannya dan tujuan baik yang kau cari diujungnya. Maka perjuangkan, maka usahakan, maka bekerja keraslah. Maka semoga, semesta merestui, bukakan jalan, berikan kemudahan.

Ah dan pada akhirnya aku tersadarkan. Jalan yang hari ini kau pilih, boleh jadi akan menghadapkan kau pada kesulitan, liku, tikungan kedepannya. Tapi ingat selalu, bahwa sejatinya kita telah sama-sama memilih jalan ini, jalan perjuangan. Ketika kau memilih Ilmu Komunikasi, dan aku memilih Hubungan Internasional bersama sekian mimpi dan idealisme yang membersamainya, kita tahu kita tidak sedang memilih jalan yang sederhana.

Kita tidak sedang memilih jalan yang akan menawarkan kemudahan hidup, tapi kita memilih jalan perjuangan. Hari ini, ketika takdir membawa perjuanganmu ke titik ini, semoga kau tak akan pernah lupa alasan mengapa kita menapaki jalan ini pada awalnya. Ini akan jadi langkah awal, bagi perjuangan-perjuangan selanjutnya. Semoga, itu cukup untuk jadi bagian dari instrumen yang menjagamu, hari ini, besok dan selamanya.

Aku bangga dengan beranimu, aku bangga dengan idealisme yang kau pilih, dan selamanya aku menghargai dan mendukung jalan yang kau pilih. Sekarang, besok, selamanya, sepanjang tak keluar dari koridor Tuhan. Berdoa, berjuang, jaga ikhlas, jaga prinsip, maka semoga semesta berpihak padamu. Jika satu hari nanti kau merasa jalan ini sungguh berat, maka ingat selalu, bahwa memang perjuangan tak pernah jadi soal sederhana.

Dan disini, ada orang-orang yang akan terus mendukung, mendoakan, dan membersamai, apapun kisahnya. Aku bangga, aku salut, aku menghargai keberanianmu. Semoga pengabdian yang kau ambil hari ini, juga akan jadi pembuka jalan, untukmu meraih mimpi-mimpi selanjutnya.

Aku bangga dan aku percaya, selamanya begitu.

 

Advertisements

Tentang Masa SMA – Tahun Pertama

Kata orang-orang, masa SMA itu masa-masa yang tidak terlupakan. Kata orang-orang juga, masa-masa SMA itu masa-masa paling indah buat dikenang karena isinya seru-seruan. Katanya, masa-masa SMA itu masa-masa kenakalan yang asik banget. Kata orang. Kata gue?

Gue SMA di SMAIT As Syifa Boarding School, Subang. Sekolah yang katanya, masuknya susah. Bener sih, masuknya susah. Tes akademiknya di luar materi yang sudah diajarkan di grade kita, ada pengetahuan umum, tes wawancara, tes tahfiz dan sebagainya. Oke, sampe sini kita sepakat bahwa masuk As Syifa itu susah. Seperti yang gue pernah bilang di tulisan sebelumnya, gue bangga sih bisa masuk As Syifa.

But, little did people outside there knows, bertahan dan lulus dari As Syifa itu juga ngga sederhana. It takes effort, it takes tears, it takes sweat, it takes struggle to finally graduated from As Syifa. It was not as easy as it seems to be, and here a story how I went trough my highschool life, in that small little town called, Subang.

Gue bingung gue harus mulai darimana, but let’s just get started from my first year. Kelas sepuluh, gue masuk, terus standart, fantastic. Gue pikir awalnya fantastic itu sederhana, cuma tinggal duduk, dengerin materi, kelar. But it was more than that. Semuanya dilatih, dari disiplin lo makan, disiplin lo bangun tidur, disiplin lo ngerjain tugas, sampe solidaritas seangkatan. Seminggu rasanya kaki lo abis disuruh lari sana sini, naik turun tangga, sampe naik tangga ke kasur aja rasanya gemeter. Pegel banget coy.

Ngga, Fantastic tu bukan perploncoan. Sama sekali bukan. Karena yang gue sadar, fantastic itu memang kepake banget di kehidupan gue sehari-hari di As Syifa. Gue memang kenyataannya harus seefisien itu, harus sekerja keras itu, dan harus se sigap itu.

Fantastic kelar setelah seminggu, dan gue tau, semua aturan yang di sosialisasikan ketika fantastic itu ngga basa basi. Kerudung lo bener bener harus sesiku, lo harus ke sekolah pake sepatu pantofel hitam (months after I know how to ‘cheat’ on this regulations by using skechers, karena gue gabisa pake sepatu kulit hitam), lo harus bener-bener on-time ke aula buat shalat, otherwise ada konsekuensinya.

Sebagai anak yang sudah sangat muak dan lelah sama inkonsistensi peraturan di sekolah gue yang lama, As Syifa adalah pilihan yang sangat baik buat gue. Gue senang melihat disiplin benar-benar berjalan, tidak ada toleransi, semuanya benar-benar sederhana. Salah, ada konsekuensinya.

Tahun pertama ini, gue mutusin buat gabung sama BEM alias Badan Eksekutif Murid. Gue sebenernya punya prefrensi buat gabung di MPK, tapi gue udah terlanjur daftar BEM, terus yaudah gue jalanin aja. Divisi yang gue pilih waktu itu Bahasa sama pilihan kedua gue Minat Bakat. Gue dapet di pilihan pertama, bareng sama dua kakak kelas. Selain di BEM, gue juga ikutan ekskul yang English Club. Cuma karena abis itu gue sibuk lomba, akademik sama BEM, gue ngga terlalu aktif jadinya.

BEM di As Syifa itu sibuk banget. Terutama kalau lo punya proker harian kayak gue. Gue tu punya proker harian bacain kosa kata baru, ngumumin jam bahasa, sama kayak ngisi di kelas buat bantu temen-temen lo ningkatin kemampuan bahasa asing mereka, belum lagi proker-proker gedenya kayak Language Festival dan kawan-kawan. It was pretty tough, hampir tiap hari gue ada rapat, disini juga gue pertama kali belajar bikin proposal, bikin LPJ dan kawan-kawannya. BEM di As Syifa juga ngga cuma ngajarin tentang ngerjain proker divisi sendiri, tapi juga bantu-bantu di proker-proker divisi lain, kepanitiaan event-event di sekolah dan sebagainya.

Kepanitiaan paling besar di As Syifa jelas As Syifa Festival, kayak event tahunan besar, ada lomba-lomba, ada penampilan dan sebagainya. Kalau di sekolah-sekolah umum mungkin namanya pensi ya. Gue kebagian divisi acara disini, dan yeah, pastinya sangat sibuk.

Di tahun pertama ini gue juga mulai aktif ikutan lomba-lomba. Di As Syifa buat ikutan lomba biasanya bakal diadain seleksi sesuai dengan peraturan lombanya, terus nanti dipilih siapa yang bakal ngewakilin sekolah. Lomba pertama yang gue ikutin itu Speech Contest. Terus gue juga mulai intensif ikutan pembinaan olimpiade geografi (buat ikut pembinaan di seleksi, di terima sekitar 10 orang per bidang OSN seinget gue). But later I found out that I’m not into Geography, especially the Earth Science, jadi di akhir tahun pertama, gue mulai melirik buat pindah bidang ke Ekonomi dan mulai ikutan lomba-lomba ekonomi.

Buat akademik, gaada yang terlalu spesial di tahun pertama. Paling gue euforia akhirnya pelajarannya IPS semua, gue akhirnya mulai jatuh cinta sama ekonomi, bidang yang sebelumnya gue ngga pernah tau itu bidang yang menarik. Di sini juga gue pertama kalinya sadar bahwa tingkat familiaritas gue dengan ekonomi tu sangat tinggi.

Kehidupan asrama gue standart-standart aja juga, gue bangun jam 3, mandi, tahajjud, ke aula, nyiapin tahfiz terus sekolah rapat tahfiz rapat belajar repeat. Gaada yang spesial kecuali gue biasanya makan di sekolah karena buat gue itu jauh lebih efisien. Gue biasa berangkat sekolah jam 6.15 atau 6.20, makan di sekolah (dulu, sebelum makan di kelas dilarang ya gaes) karena sekolah dan dapur itu dekat dan gue ngga buang-buang waktu bolak-balik asrama. Pagi-pagi gue juga bisa belajar dulu di kelas (bukan nugas), bisa nulis-nulis, bisa baca, sebelum kelas mulai. Oh, sama satu lagi, gue jarang banget di asrama, karena waktu gue biasanya habis buat rapat, lomba, pembinaan lomba dan lain-lain karena bergabung di BEM itu sama dengan deal dengan sekian kepanitiaan yang kayaknya ngga habis-habis.

Gue ngga ada masalah sama homesick di tahun pertama karena gue udah biasa pisah dari orang tua gue pas SMP juga dan gue ngga menemukan alasan gue untuk homesick. Gue betah sama sekolahnya, gue di fasilitasi untuk berkembang. Gue ngga punya alasan untuk bilang gue ngga betah. Jadi everything was fine.

Catatan dari wali kelas gue di tahun pertama ini adalah, “Skill sosialisasi gue minus, kurang”. Walaupun wali kelas gue bilang gue develop that skill trough out the year, and yes, that skill is improving. Sebagai orang introvert yang besar di lingkungan dengan orang dewasa (gue hampir ga punya temen seumuran kecuali di sekolah yang ketemu rutin, btw), sosialisasi adalah salah satu tantangan tersulit buat gue.

Gue ngga besar dengan kartun-kartun anak (gue nonton Spongebob pertama kali aja SMP kelas 3, pake bahasa arab karena waktu itu kelas bahasa arab), gue besar dengan berita. Gue ngga besar bersama gosip atau small talks, gue besar dengan obrolan-obrolan serius tentang Hak Asasi Manusia, isu-isu sosial yang berkembang di pemerintahan dan sebagainya. Hal sederhana yang gue bicarakan adalah olahraga, sepak bola, balapan F1, Moto GP dan tennis. Selebihnya gue ngga tau. Bokap gue kalau ngajak ngobrol, ngajak ngobrol tentang hidup, serius, bukan bercanda. Sederhananya, gue ngga tau gimana cara mulai small talk dengan orang, jadi gue hanya bicara hal-hal penting atau membantu menjelaskan pelajaran.

Tapi, karena gue sibuk organisasi, gue jadi tetep kenal kakak kelas dan temen-temen seangkatan gue yang juga sibuk di organisasi. Walaupun, kebanyakan obrolannya bermula dari ngomongin proker, lama-lama bisa bercanda dan ngga terlalu serius obrolannya. Was that fine to live in a boarding school with such condition? Gue sih merasanya baik-baik aja ya, gue bahagia-bahagia aja.

Well, segini dulu aja ya. Karena kalau tiga tahun di rangkum sekaligus berat juga, nanti feelnya malah hilang. Part terakhir di tulisan ini juga membuat gue pengen nulis tentang ‘Being an Introvert in a Boarding School’. Jadi ya, tunggu aja post itu dan lanjutan kisah ini di tahun kedua dan ketiga gue.

Padang Trip 2018

Jadi ya sebelumnya mohon maaf karena sebenernya niat nulis tentang trip ini udah tertunda lamaaaa sekali. Tapi yaudah lah ya, better late than never. Sekalian nambahin konten-konten yang agak lebih santai di blog ini, setelah sebelum-sebelumnya konten-konten serius terus.

Oke, jadi sekitar dua minggu yang lalu bokap, nyokap, gue dan adek gue (plus Om Tante dan Sepupu) pergi ke Padang. Bokap gue Padang tulen, dan adek gue sayangnya belum pernah ke Padang samsek. So there we go. Kenapa pas udah masuk kuliah dan sekolah? Karena kebetulan ada acara keluarga yang diadakan tanggal segitu.

Jadi, Jum’at subuh-subuh kita berangkat ke Padang naik pesawat pertama. Flights nya relatif mulus, tenang, aman dan damai. Tapi rasanya kek lama banget aja gitu (Maklum biasanya paling Jakarta-Malang). Gue rasanya udah tidur, terus kebangun, terus tidur lagi, masi belum nyampe juga 😂.

Kami sampai on-time alhamdulillah, keluar airport, langsung otw ke Sate Mak Sukur. Subhanallah deh ya, pagi-pagi, kelaperan karena belum makan samsek, terus langsung sarapan sate mak sukur. Gausah ditanya lagi lah ya rasa satenya, luar biasa deh. Nah yang menarik disini, ada minuman yang terbuat dari Jahe + Telur. Beda sama Teh Talua ya, tapi asli sih enak banget. Adek gue juga sempet nyobain salah satu kue basahnya, enak banget juga.

Lanjut, dari Sate Mak Sukur, kita langsung cus ke Istana Pagaruyung. Lumayan lama sih, mungkin sejaman kali ya. Di Istana, kita foto-foto pake baju adat gitu. Nah disini gue pertama kali akhirnya merasakan pake suntiang. Nah di istana ini ada beberapa orang-orang yang nawarin jasa foto, tapi saran gue sih kalau mau pake jasa mereka, deal-dealan dulu yang jelas diawal.

Kelar foto-foto, kita langsung makan Pongek. Pongek itu semacam gulai nangka gitu, tapi beda. Itu khas banget. Di situ juga ada masakan-masakan Padang pada umumnya, tapi dengan rasa yang mantapp. Lagi lagi yha, kelezatan warbyasah itu terletak pada dessert (karena lebih otentik kali ya, di Jakarta susah nyarinya) yang gue juga lupa namanya apa. Pokoknya ada yang dari ketan, ada yang dari santan, ah pokoknya enak.

Nah kelar dari Pongek, kita langsung ke Bukit Tinggi. Nyampe Bukit Tinggi, check in hotel terus langsung keluar lagi. Salah satu yang pengen banget gue datengin adalah toko kaos dengan tulisan-tulisan bahasa padang yang khas gitu. Khas karena tulisannya bener-bener pake bahasa padang, bukan cuma tulisan kayak ‘Bukit Tinggi’ atau ‘Padang’ (walau adasih satu dua yang simpel dan kayak gitu tulisannya). Tulisannya unik-unik, khas padang gitu lah. Ada banyak banget toko di tengah kota Bukit Tinggi itu dan harganya semuanya sama. Jadi masalah selera aja. Ohya, mereka juga jual Tumblr, Arm Bands, jam dinding, pin, hoodie gitu-gitu.

Besok paginya, kita sarapan di hotel terus lanjut jalan-jalan. Destinasi pertama adalah Gua Jepang dan Ngarai Sianok. Masuk tempat wisatanya, terus ngeliat-ngeliat plus foto-foto di Ngarai Sianok (ada semacam menara juga buat dapet view bagus). Keren banget sih, masyaAllah. Nah di dalam taman wisatanya ini, selain banyak spot foto, ada juga tempat oleh-oleh. Ya kayak semacam pasar oleh-oleh pas kita mau keluar Borobudur atau Jatim Park gitu deh. Harganya relatif standard, karena kalau gasalah pedagang-pedagang disitu disatukan di semacam koperasi gitu.

Selain itu, di situ banyak banget Monyet liar yang berkeliaran. Baik sih monyetnya, ga macam-macam, kecuali ngambil-ngambil makanan sama air mineral. Jadi kalau punya snack atau air, ati-ati aja. Adek gue, si Umar, jadi korban si monyet ini soalnya. Kan ceritanya si Umar lagi ngecek multigrain bar di kantongnya, eh tau-tau disamperin sama monyetnya dan diambil 😂.

Puas liat-liat dan belanja-belanja kita masuk ke Lubang Jepang. First Impressions gue adalah, dingin. Dingin kayak pake AC gitu. Pokoknya turun tangga gitu, lumayan jauh, terus kita nyusurin lorong-lorong yang ada. Gue ngikutin jalan yang normal-normal aja, ngga belok-belok kayak adek gue.

Dari Lubang Jepang, kita langsung di jemput di sisi lain dari Lubangnya. Abis itu perjalanan berlanjut ke Koto Gadang, kita sempet foto-foto di Masjid Koto Gadang dan Balai Adaik-nya. Kalau menurut penjelasan sepupunya bokap, orang Koto Gadang ini adalah orang-orang terpelajar dan sudah menuntut ilmu sampai tinggi sejak zaman dahulu.

Dari Koto Gadang, kita ke Harau. Basically air terjun, terus dikelilingi tebing-tebing tinggi. Ah ya, kita sempat ke Kelok Sembilan dan ngeliat kerennya konstruksi itu. Sebelumnya sempat makan di rumah makan yang random aja kami temukan karena udah kelaperan. Rencana awal sih mau balik lagi makan Pongek, tapi karena udah pada laper banget, jadi yaudah lah makan yang lain aja.

Kelar, kita akhirnya menuju Kota Padang. Nyampe Padang udah jam 8an malam, langsung makan nasi goreng dan mie Padang. Wah parah sih, Mie Rabui’nya literally THE BEST MIE I’VE EVER TASTE. BEST OF THE BEST. TERBAIK ASLI. GAADA YANG NGALAHIN. Di Jakarta, gaada yang bisa bikin sekece itu.

Check in hotel, di Hotel Daima. Enak banget sih hotelnya, pas di depan Kantor  Bank Indonesia dan relatif di tengah kota. Nyampe hotel, langsung packing-packing barang buat pulang, sama unpack baju-baju rapih buat Baralek besoknya.

Hari ketiga, the Baralek Day. Standard lah ya, pagi-pagi dengan semua kerempongan, mandi buru-buru, terus rapi-rapi. Nah di adat Padang itu ada tradisi darimana pihak pengantin dan  akan ‘turun’ atau gampangnya mungkin titik kumpul keluarga kali ya. Jadi gue pagi-pagi berangkat ke rumah adeknya nenek gue, karena kami turun dari sana.

Disana, biasa lah, sarapan dulu, ngobrol-ngobrol sampai pihak keluarga perempuan menjapui’ atau menjemput. Iya, di tradisi Padang, pihak wanita yang menjemput marapulai (pengantin pria). Gue ngga terlalu ngerti jugasih, tapi yang gue liat, pihak keluarga wanita nya membawakan seluruh pakaian yang akan di pakai sama Pengantin Prianya (termasuk jam tangan juga), terus ada makanan juga. Agak kayak tradisi bawa seserahan gitu, cuma yang menerima semuanya itu anggota keluarga perempuan (kakak, adik, tante, ponakan) dari marapulai. Terus gue ikutan gitu berdiri di depan, menerima barang-barang dari keluarga pengantin perempuannya.

Abis itu, yaudah kita iring-iringan pergi ke tempat acara. Terus yaudah standard lah kayak kondangan pada umumnya. Akad nikah, terus resepsi gitu. Keluarga foto-foto. dan makan. Hehehe.

Kita kelar dari situ kira-kira abis zuhur, balik hotel, sholat dan ganti baju. Dari situ  dikenalin kota Padang sama bokap, ditunjukin hal-hal memorable tentang nenek-kakek gue di Padang, terus kita beli oleh-oleh dan ke Pantai. Cuma foto-foto ajasi, ga main juga di pantainya.

Kelar, kita ke Masjid Raya Sumatera Barat yang ikonik itu. Keren sih, besar banget masjidnya, cuma pembangunannya kayaknya belum selesai. Jadi gue sholat di bawahnya, instead di atas. Tapi so far kata bokap gue banyak banget improvement dari semenjak bokap kesana setahun lalu.

Selesai sholat, kita makan dulu, terus ke Bandara karena pesawat kita jam 10 malam take off ke Jakarta. Pesawatnya agak delay gitu, but never mind karena toiletnya bersih banget dan ada kedai Thai Tea franchise di Bandara. Surprisingly, harganya sama dengan di luar airport. Jadi enak banget.

Sekitar jam 11-an, akhirnya boarding dan kita nyampe jakarta sekitar jam setengah satu. Ambil bagasi, dan akhirnyaaaaaaa kembali ke rumah.

This trip buat gue, memorable dan emotional at the same time. It’s not the same and will never be the same with other trip that I take to another city that has no historical correlation with me and my roots. Kita nyewa mobil dan pergi bareng sama sepupunya bokap. Dari beliau gue banyakkkkk banget denger kisah-kisah yang gue belum pernah dengar tentang nenek-kakek gue, especially Kakek gue. dan trip ini, bikin gue makin rindu sama kakek gue, menyesal karena dulu gabanyak habiskan waktu sama beliau.

Tapi, let’s save those stories for later. Ntar gajadi deh post ini jadi konten santai kalau gue tulis itu. Hehehehe.

Till the next post,

Salma R Zulfikar

Kita Tetap Teman, Kita Tetap Sahabat

Strength Lies in Differences, not Similarity

– Stephen Covey

Apakabar Indonesia? Panas? Iya Panas. Kondisi politik akhir-akhir ini membuat Agustus yang sudah panas makin panas. Aroma-aroma pemilihan presiden makin dekat, kedua calon yang akan berlomba sudah umumkan siapa pendamping mereka untuk berlaga. Terlalu banyak kejutan yang mengangetkan semua orang.

Ah, tapi bicara tentang kondisi politik terkini sejujurnya hanya buat lelah. Karena bagiku, pertarungan sejatinya belum dimulai. Bahkan nomor urut sajapun belum resmi diberikan. Jadi mari bicarakan ini nanti.

Ada hal lain tentang politik yang membuatku risau hari ini. Tentunya tak sebesar kontestasi pemilihan presiden. Tak pula sebesar pemilu legislatif dengan sekian banyak partai. Tidak. Ini tentang persahabatan, tentang pertemanan.

Semenjak politik acapkali jadi ajang bentur-benturan oleh oknum tertentu, seringkali benturan benturan ini merembet hingga lingkar persahabatan. Perbedaan pilihan politik kadang dianggap sebagai akhir dari persahabatan, karena kedua belah pihak ngotot sekali bahwa pilihannya yang paling baik, paling benar. Saling adu cerca atau tulisan nyinyir, yang cerminkan minimnya sikap dewasa.

Hari ini, aku dilanda kegalauan yang sama. Seiring dengan perjalanan waktu dan garis takdir perjuangan di kampus ini, masing-masing teman terdekatku mulai mantap memilih pilihan politiknya. Dinamika yang terjadi membuat masing-masing akhirnya mengambil jalan yang berbeda.

Aku hingga saat ini, masih berada di sisi yang sama, memilih untuk tidak menjadikan diri sebagai bagian dari entitas tertentu. Membiarkan diriku belajar banyak, mengamati dinamika yang terjadi. Lalu seketika aku disergap ketakutan, apakah perbedaan ini nantinya akan memisahkan kita? Apakah nantinya, perbedaan ini akan membuat kita tak seakrab dulu lagi?

Aku berharap tidak. Aku selalu percaya, bahwa kita berteman apa adanya. Semenjak kita masih mahasiswa baru dengan segala kepolosan dan keluguan yang membersamainya. Kita berteman tanpa peduli kita siapa, kita apa, kita bagaimana.

Maka jika hari ini, takdir mengantarkan kita pada pilihan pilihan politik yang berbeda, kita akan tetap sama. Tetap tidak peduli siapa kita, apa kita, bagaimana kita. Bahwa yang kita tahu adalah kita sekolompok manusia luar biasa dengan berbagai latar belakang yang memutuskan untuk berteman.

Aku percaya, kita bisa jadi model bagi negeri. Kita bisa jadi model perubahan, yang berhasil tunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik, tidak berarti tamatnya persahabatan. Perbedaan sikap politik tidak perlu jadi ajang saling menjatuhkan, tapi ajang bertoleransi dan belajar menghargai. Kita harus jadi contoh bagaimana indahnya harmoni dalam perbedaan.

Aku tak bilang jalan yang akan kita lalui kedepannya mudah, tapi aku percaya kita bisa 🙂

Raya Open House without Helpers? No Worries!

Sebelumnya, telattt banget mau posting ini, harusnya di hari H Idul Fitrinya. Tapi apalah daya, kisahnya tak sesederhana itu 😂😂 Jadi sekarang gue mau cerita-cerita tentang Lebaran tahun ini.

Sebagaimana kebanyakan keluarga di Indonesia lainnya, keluarga gue juga punya tradisi lebaran yang sama. Maaf-maafan, sungkeman dan makan-makan 😂 No difference, each and every year, biasanya kita ketemu di rumah nenek gue, lalu sungkeman dan makan. Tahun ini juga begitu.

Tapi, yang membuat berbeda tahun ini adalah; TIDAK ADA art dan supir inval yang berarti semuanya harus dikerjakan sendiri. Pertamakalinya juga, tahun ini Nenek gue menyerahkan urusan permakanan-an dan segala macamnya ke Nyokap gue dan Tante gue yang bungsu. Mereka sebagai konspetor dan jelas eksekutor nya adalah; Gue dan adik sepupu gue and this is where our family REAL Raya Story, began.

Karena Nenek gue ga masak (mempertimbangkan segala keribetan yang bakal terjadi kalau harus masak), akhirnya kami memutuskan untuk pake vendor soto untuk menyediakan makanan di rumah. Vendornya sudah oke banget, mereka nyediain mangkok, sendok sampe kompor buat kuahnya sekalian jadi kita semua tenang-tenang aja.

Gue mikir, yaudah lah ya ga banyak yang harus dikerjain berarti. H-2 gue masi tenang-tenang aja karena mikir yaudah sans aja gitu.

Ternyata cuy, tidak semudah itu. Karena ga masak sekalipun, tetap ada buah, kue, air mineral, teh dan kawan kawannya yang harus disediakan. Tetep harus ngelap dan ‘menggelar’ pyrex-pyrex karena tetep kepake juga ternyata.

Malam takbiran, gue sama adek sepupu gue keliling-keliling deket rumah nyari dari segala sendok plastik, piring plastik, air mineral gelas, beli teh kemasan sampe nyari bunga sedap malam. Malam-malam, udah sepi, untung masih ada satu toko plastik yang buka di pasar dekat rumah.

Terus lanjut ke agen minuman kemasan yang rata-rata minumannya udah pada abis. Kompromi berkali-kali karena Nyokap masih ngotot maunya teh kemasan yang dia suka whilst semua orang dirumah udah bilang buat realistis aja asal besoknya ada teh kemasan buat tamu.

Kelar persiapan H-1, di hari H gue cuss ke rumah nenek gue subuh-subuh. Gue datang dan melihat sotonya sudah ditata dan kami langsung shock, “Duh ini dikit banget, cukup ga ya”. Panik-panik ajaib tuh pagi-pagi, jumlah porsinya memang banyak, tapi kan porsinya kecil. Duh deg-degan abis deh pokoknya.

Akhirnya, pas orang-orang sholat, gue inisiatif goreng fish cake sama hash browns biar ga sepi-sepi amat menunya. Hash Browns kan juga bisa lah dibarengin makannya sama soto, pikir gue maksa. Goreng sekitar 4kg hashbrowns, gue sambil agak deg-degan karena awalnya beberapa hashbrown nya buyar dan bentuknya jadi jelek.

Anyway, alhamdulillah jadi lah 2 pyrex panjang penuh hashbrowns dan sebuah pyrex panjang berisi fish cake buat di hidangkan. Orang-orang pada pulang dari shalat eid, makanan alhamdulillah udah ready. Then, as usual, kami semua sungkeman, maaf-maafan dan salaman terus langsung makan!

Alhamdulillah fish cakenya berhasil, hashbrowns-nya juga berhasil banget alhamdulillah. Soto-nya juga ternyata ga kurang, and by the evening masih bisa dibagikan ke tetangga sekitar juga 🙂

Legaaa banget hari itu, alhamdulillah very first open house without helper was done successfully! Satu hal yang berasa banget menurut gue di first raya tanpa ada yang bantu adalah the warmth of the family dan bonding nya juga jadi kuat banget karena kita nyiapin semuanya sama-sama. Dari nenek-kakek, bokap nyokap, om tante, sepupu-sepupu semuanya ikut mikirin gimana open housenya, makannya, sampe beres-beres akhirnya. Alhamdulillah 😁

#LifeGoals

Your self-worth is determined by you. You don’t have to depend on someone telling you who you are.

-Beyonce

Sekolah dengan baik, masuk sekolah lanjutan unggulan, lalu melanjutkan ke perguruan tinggi favorit, kalau bisa terbaik. Jurusan dan fakultas favorit yang memiliki peluang kerja mapan. Selama kuliah, aktif berorganisasi, indeks prestasi baik (diatas 3 atau bahkan 3,5) lalu lulus tepat waktu 3,5 tahun sampai 4 tahun. Bekerja, memiliki pekerjaan yang baik, lalu menikah. Ini kan yang banyak orang definisikan sebagai #LifeGoals atau sukses secara umum?

Tidak ada yang salah dengan life path macam begini. Tidak ada yang perlu dikoreksi juga tampaknya, because this is what success defined by the society. Tapi, is that kind of life cycles is life cycles yang diinginkan oleh semua orang? Atau apakah semua orang akan nyaman ketika mengikuti siklus kehidupan macam itu?

Saya pernah ada di titik itu. High achieving student, kehidupan organisasi yang baik, ikut olimpiade pada tiga mata pelajaran berbeda (ekonomi, geografi, dan sosiologi) ketika orang lain hanya memilih untuk ikut salah satu, rajin ikut lomba non-akademik seperti pidato dan sebagainya. Hidup saya sempurna, following what society perceived as ‘success’.

Ketika saya kuliah, saya pikir saya akan tetap menjadi Salma yang seperti itu. Fokus ke banyak hal, mengerjakan sekian banyak hal dalam waktu bersamaan. Little did I know, uni life is so much different than high school life. Mendalami hal yang saya sukai semenjak lama, menjadikan rasa ingin tahu saya terhadap hal ini meningkat berkali-kali lipat. Waktu saya habis untuk belajar, mencari jurnal-jurnal terbaru, berhenti di laman-laman berita terbaru. Saya kehilangan minat untuk menjadi seaktif ketika sekolah dulu.

Saya nyaman, saya bahagia dan saya tahu apa yang saya lakukan ini baik. Tapi ketakutan mulai menggoda saya. Bagaimana dengan CV saya jika saya hanya ikut satu kepanitiaan dan satu organisasi? Apakah saya akan baik-baik saja? Bagaimana saya akan bisa menarik perhatian saat nanti mengajukan magang, beasiswa dan lainnya? Apakah indeks prestasi saya bisa menutup ini semua?

Ketakutan-ketakutan itu menggoda saya. Kadang membuat saya berfikir hingga jauh malam. Apakah saya sudah cukup bermanfaat bagi semua orang? Apakah dengan ini, saya sudah memaksimalkan seluruh potensi yang Tuhan berikan kepada saya? Dan sekian pertanyaan lainnya yang menganggu kehidupan saya, memperpanjang malam-malam saya.

Hingga saya kemudian tersadar, definisi sukses bagi setiap orang itu berbeda-beda. Kebermanfaatan bagi setiap orang, selalu berbeda-beda. Tuntutan sosial-lah yang kemudian membuat seakan-akan setiap orang harus sukses dalam definisi spesifik tertentu.

Padahal, setiap manusia dilahirkan dengan keunikan dan karakteristiknya masing-masing. Semua orang berbeda. Takdir langit, selalu memberikan manusia yang terbaik, sesuai dengan kondisi dan zona waktunya masing-masing. Soal rezeki, itu sudah ada yang mengatur. Bukan urusan kita untuk risau, karena Langit pasti sudah punya jalan terbaik.

Ini semua bagi saya sesederhana bahwa tidak semua orang harus jadi direktur, tidak semua orang harus memegang tampuk kepemimpinan organisasi, tidak semua orang harus ber-IPK sempurna. Ada orang yang nyaman dengan indeks prestasi rata-rata tapi bisa mendalami passionnya di bidang lain seperti bermusik atau seni. Ada orang yang senang belajar hingga dia mencapai indeks prestasi sempurna. Ada orang yang nyaman bekerja dengan 9 to 5 works, ada yang nyaman menjadi freelance.

Tidak ada yang salah dengan itu semua, karena toh pada akhirnya, setiap manusia punya jalan hidup masing-masing. Perbedaan yang ada inipula lah yang membuat hidup manusia jadi lebih berwarna.

Juga jangan lupa satu elemen penting bernama zona waktu. Boleh jadi da orang yang tampaknya hidupnya sudah sempurna, nilai yang baik, organisasi baik, perlombaan baik, hingga kehidupannya diinginkan semua orang. Namun kita tidak tahu apa yang orang ini rasakan, apa yang jadi kebutuhannya.

Mungkin pula ada orang yang hari ini tampak biasa saja, tapi melejit suatu saat nanti. Tidak perlu iri dengan kehidupan yang dimiliki orang lain, apalagi membandingkannya lantas merasa rendah diri. Menjadikannya motivasi untuk maju sah sah saja, tapj jika hanya membuat minder, berhenti lakukan itu. Karena rezeki dan zona waktu tiap manusia tentu saja berbeda.

Jadi nikmati saja hidupmu hari ini. Tidak perlu repot-repot berlari dan mengejar ‘standar’ yang sudah ada jika standar itu tidak membuatmu nyaman. Pilih pilihan hidup yang sesuai denganmu. Tidak usah memaksakan mengikuti standar yang ada, jika dengan mengikuti itu membuatmu merasa menjadi orang lain.

Karena Introvert juga Bisa Kesepian; Sebuah Catatan Tentang Pertemanan

Jadi sederhana saja sebenarnya sore ini, ditengah kesendirian menjalani Ibadah Puasa, gue dilanda malas tingkat dewa buat beli takjil dan makanan buat iftar. Biasanya 6 tahun jauh dari orangtua sekalipun, puasa selalu ada teman. Buka juga ada temannya. Jajan di kantin ada temannya.

Gue orang yang introvert dan seharusnya gue pikir gue survive survive aja buat terus puasa sendiri. Toh kalau puasa sunnah/puasa ganti juga sendiri ya. Jadi ya gimana atuh, ga ngaruh-ngaruh amat juga.

Ternyata, beda. Vibes Ramadan aja beda banget dan gue jadi rindu hidup gue di asrama dan dirumah. Gue ternyata masih belum sesiap itu untuk menghadapi puasa sendirian. Implikasi dari rasa asing yang gue hadapi petang ini adalah gue langsung seketika ga minat buat beli apapun. Ga minat beli takjil. Ga beli iftaar sampe jam 5.00. Which means maghrib tinggal 20 menit lagi. Ditambah emang rasanya lemes banget kan ya, seharian puasa dan aktifitas full.

Gue akhirnya mengadukan kesepian gue dan kemageran gue buat beli takjil dan iftaar di salah satu grup kesayangan. 5 menit kemudian, handphone gue langsung bunyi, ada yang nelfon. Bukan nanyain, “Salma kenapa ga beli iftaar?” atau “Salma buka apa?” tapi merepet panjang lebar, “Buruan sana beli apa kek, turun lo buruan gausah macem-macem bla bla bla bla”.

Kayak kerbau dicucuk hidungnya, gue langsung buru-buru pake rok dan jaket, ambil dompet, cabut turun. Beli takjil, beli makanan buat buka. Terus di telfon sampe gue selesai beli semuanya. Ngobrol dan ditemenin via telfon.

Ah, emang yang kita butuhkan itu yang tau gimana buat kita lebih baik, yang ngga membiarkan kita melakukan hal yang salah. Yang selalu ada meskipun jarak membentang jauh. Paling penting, tau gimana menggerakkan diri kita. Bisa jadi temen buat ketawa tiwi ngomongin hal hal receh sampe ngebahas masa depan. Yang tidak saling meninggalkan, sejauh apapun dia punya dunia baru. Yang mengusahakan untuk menyisihkan waktunya diantara kesibukan, sesedikit apapun yang bisa dia sisihkan.

Dalam hidup ini, gue beruntung sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang seperti ini. Salah satunya sudah pernah gue berikan appreciation post lain di halaman blog ini. Seorang calon film maker dan jurnalis hebat, yang disela-sela kesibukannya, meluangkan waktunya untuk gue. Yang juga pencapaian dan prestasinya dalam segala bidang, tidak pernah berhenti membuat gue tersenyum. Tapi kali ini, bukan tentang dia. Gue pengen men-cherish teman baik gue yang lain. (Kalo lo baca Hay, maaf ya kalau udah geer 😂, kalau kita jadi itikaf bareng, tar gue nulis lagi deh tentang, pengalaman itikaf sama lo 😂😂)

Maka buat seseorang yang selama ini selalu hadir buat gue, jadi emergency call gue 24/7 (literally jam 12 jam 1 gue sesek gue nelfon dia yang berkilo-kilo dari gue dan dia bisa nenangin gue even without her physical existence), yang bisa nemenin gue dari fangirling receh sampe ngomongin masa depan, there’s no appropriate word to define how thankful I am to have you in my life.

Terimakasih sudah mengajarkan gue arti berteman, bertoleransi, bekerja sama dengan proses. Terimakasih sudah jadi telinga yang mendengarkan semua kesedihan gue. Terimakasih sudah jadi orang yang mau menanggapi kekeraskepalaan gue (walau gue tau lo sebel). Terimakasih sudah memberikan gue lahan untuk berkembang dengan sama-sama mencoba berfikir menjadi dewasa dengan permasalahan permasalahan yang jadi bahan diskusi kita.

Diatas segalanya, aku berterimakasih atas waktumu yang kau berikan untuk mendengarkan dan menemani aku Karena aku sadar, setidaknya untuk saat ini, itulah yang paling mewah dan mahal.

Semoga, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk lo, Fayza! Sehat dan semangat selalu, calon bankir kebanggaan!