Padang Trip 2018

Padang Trip 2018

Jadi ya sebelumnya mohon maaf karena sebenernya niat nulis tentang trip ini udah tertunda lamaaaa sekali. Tapi yaudah lah ya, better late than never. Sekalian nambahin konten-konten yang agak lebih santai di blog ini, setelah sebelum-sebelumnya konten-konten serius terus.

Oke, jadi sekitar dua minggu yang lalu bokap, nyokap, gue dan adek gue (plus Om Tante dan Sepupu) pergi ke Padang. Bokap gue Padang tulen, dan adek gue sayangnya belum pernah ke Padang samsek. So there we go. Kenapa pas udah masuk kuliah dan sekolah? Karena kebetulan ada acara keluarga yang diadakan tanggal segitu.

Jadi, Jum’at subuh-subuh kita berangkat ke Padang naik pesawat pertama. Flights nya relatif mulus, tenang, aman dan damai. Tapi rasanya kek lama banget aja gitu (Maklum biasanya paling Jakarta-Malang). Gue rasanya udah tidur, terus kebangun, terus tidur lagi, masi belum nyampe juga 😂.

Kami sampai on-time alhamdulillah, keluar airport, langsung otw ke Sate Mak Sukur. Subhanallah deh ya, pagi-pagi, kelaperan karena belum makan samsek, terus langsung sarapan sate mak sukur. Gausah ditanya lagi lah ya rasa satenya, luar biasa deh. Nah yang menarik disini, ada minuman yang terbuat dari Jahe + Telur. Beda sama Teh Talua ya, tapi asli sih enak banget. Adek gue juga sempet nyobain salah satu kue basahnya, enak banget juga.

Lanjut, dari Sate Mak Sukur, kita langsung cus ke Istana Pagaruyung. Lumayan lama sih, mungkin sejaman kali ya. Di Istana, kita foto-foto pake baju adat gitu. Nah disini gue pertama kali akhirnya merasakan pake suntiang. Nah di istana ini ada beberapa orang-orang yang nawarin jasa foto, tapi saran gue sih kalau mau pake jasa mereka, deal-dealan dulu yang jelas diawal.

Kelar foto-foto, kita langsung makan Pongek. Pongek itu semacam gulai nangka gitu, tapi beda. Itu khas banget. Di situ juga ada masakan-masakan Padang pada umumnya, tapi dengan rasa yang mantapp. Lagi lagi yha, kelezatan warbyasah itu terletak pada dessert (karena lebih otentik kali ya, di Jakarta susah nyarinya) yang gue juga lupa namanya apa. Pokoknya ada yang dari ketan, ada yang dari santan, ah pokoknya enak.

Nah kelar dari Pongek, kita langsung ke Bukit Tinggi. Nyampe Bukit Tinggi, check in hotel terus langsung keluar lagi. Salah satu yang pengen banget gue datengin adalah toko kaos dengan tulisan-tulisan bahasa padang yang khas gitu. Khas karena tulisannya bener-bener pake bahasa padang, bukan cuma tulisan kayak ‘Bukit Tinggi’ atau ‘Padang’ (walau adasih satu dua yang simpel dan kayak gitu tulisannya). Tulisannya unik-unik, khas padang gitu lah. Ada banyak banget toko di tengah kota Bukit Tinggi itu dan harganya semuanya sama. Jadi masalah selera aja. Ohya, mereka juga jual Tumblr, Arm Bands, jam dinding, pin, hoodie gitu-gitu.

Besok paginya, kita sarapan di hotel terus lanjut jalan-jalan. Destinasi pertama adalah Gua Jepang dan Ngarai Sianok. Masuk tempat wisatanya, terus ngeliat-ngeliat plus foto-foto di Ngarai Sianok (ada semacam menara juga buat dapet view bagus). Keren banget sih, masyaAllah. Nah di dalam taman wisatanya ini, selain banyak spot foto, ada juga tempat oleh-oleh. Ya kayak semacam pasar oleh-oleh pas kita mau keluar Borobudur atau Jatim Park gitu deh. Harganya relatif standard, karena kalau gasalah pedagang-pedagang disitu disatukan di semacam koperasi gitu.

Selain itu, di situ banyak banget Monyet liar yang berkeliaran. Baik sih monyetnya, ga macam-macam, kecuali ngambil-ngambil makanan sama air mineral. Jadi kalau punya snack atau air, ati-ati aja. Adek gue, si Umar, jadi korban si monyet ini soalnya. Kan ceritanya si Umar lagi ngecek multigrain bar di kantongnya, eh tau-tau disamperin sama monyetnya dan diambil 😂.

Puas liat-liat dan belanja-belanja kita masuk ke Lubang Jepang. First Impressions gue adalah, dingin. Dingin kayak pake AC gitu. Pokoknya turun tangga gitu, lumayan jauh, terus kita nyusurin lorong-lorong yang ada. Gue ngikutin jalan yang normal-normal aja, ngga belok-belok kayak adek gue.

Dari Lubang Jepang, kita langsung di jemput di sisi lain dari Lubangnya. Abis itu perjalanan berlanjut ke Koto Gadang, kita sempet foto-foto di Masjid Koto Gadang dan Balai Adaik-nya. Kalau menurut penjelasan sepupunya bokap, orang Koto Gadang ini adalah orang-orang terpelajar dan sudah menuntut ilmu sampai tinggi sejak zaman dahulu.

Dari Koto Gadang, kita ke Harau. Basically air terjun, terus dikelilingi tebing-tebing tinggi. Ah ya, kita sempat ke Kelok Sembilan dan ngeliat kerennya konstruksi itu. Sebelumnya sempat makan di rumah makan yang random aja kami temukan karena udah kelaperan. Rencana awal sih mau balik lagi makan Pongek, tapi karena udah pada laper banget, jadi yaudah lah makan yang lain aja.

Kelar, kita akhirnya menuju Kota Padang. Nyampe Padang udah jam 8an malam, langsung makan nasi goreng dan mie Padang. Wah parah sih, Mie Rabui’nya literally THE BEST MIE I’VE EVER TASTE. BEST OF THE BEST. TERBAIK ASLI. GAADA YANG NGALAHIN. Di Jakarta, gaada yang bisa bikin sekece itu.

Check in hotel, di Hotel Daima. Enak banget sih hotelnya, pas di depan Kantor  Bank Indonesia dan relatif di tengah kota. Nyampe hotel, langsung packing-packing barang buat pulang, sama unpack baju-baju rapih buat Baralek besoknya.

Hari ketiga, the Baralek Day. Standard lah ya, pagi-pagi dengan semua kerempongan, mandi buru-buru, terus rapi-rapi. Nah di adat Padang itu ada tradisi darimana pihak pengantin dan  akan ‘turun’ atau gampangnya mungkin titik kumpul keluarga kali ya. Jadi gue pagi-pagi berangkat ke rumah adeknya nenek gue, karena kami turun dari sana.

Disana, biasa lah, sarapan dulu, ngobrol-ngobrol sampai pihak keluarga perempuan menjapui’ atau menjemput. Iya, di tradisi Padang, pihak wanita yang menjemput marapulai (pengantin pria). Gue ngga terlalu ngerti jugasih, tapi yang gue liat, pihak keluarga wanita nya membawakan seluruh pakaian yang akan di pakai sama Pengantin Prianya (termasuk jam tangan juga), terus ada makanan juga. Agak kayak tradisi bawa seserahan gitu, cuma yang menerima semuanya itu anggota keluarga perempuan (kakak, adik, tante, ponakan) dari marapulai. Terus gue ikutan gitu berdiri di depan, menerima barang-barang dari keluarga pengantin perempuannya.

Abis itu, yaudah kita iring-iringan pergi ke tempat acara. Terus yaudah standard lah kayak kondangan pada umumnya. Akad nikah, terus resepsi gitu. Keluarga foto-foto. dan makan. Hehehe.

Kita kelar dari situ kira-kira abis zuhur, balik hotel, sholat dan ganti baju. Dari situ  dikenalin kota Padang sama bokap, ditunjukin hal-hal memorable tentang nenek-kakek gue di Padang, terus kita beli oleh-oleh dan ke Pantai. Cuma foto-foto ajasi, ga main juga di pantainya.

Kelar, kita ke Masjid Raya Sumatera Barat yang ikonik itu. Keren sih, besar banget masjidnya, cuma pembangunannya kayaknya belum selesai. Jadi gue sholat di bawahnya, instead di atas. Tapi so far kata bokap gue banyak banget improvement dari semenjak bokap kesana setahun lalu.

Selesai sholat, kita makan dulu, terus ke Bandara karena pesawat kita jam 10 malam take off ke Jakarta. Pesawatnya agak delay gitu, but never mind karena toiletnya bersih banget dan ada kedai Thai Tea franchise di Bandara. Surprisingly, harganya sama dengan di luar airport. Jadi enak banget.

Sekitar jam 11-an, akhirnya boarding dan kita nyampe jakarta sekitar jam setengah satu. Ambil bagasi, dan akhirnyaaaaaaa kembali ke rumah.

This trip buat gue, memorable dan emotional at the same time. It’s not the same and will never be the same with other trip that I take to another city that has no historical correlation with me and my roots. Kita nyewa mobil dan pergi bareng sama sepupunya bokap. Dari beliau gue banyakkkkk banget denger kisah-kisah yang gue belum pernah dengar tentang nenek-kakek gue, especially Kakek gue. dan trip ini, bikin gue makin rindu sama kakek gue, menyesal karena dulu gabanyak habiskan waktu sama beliau.

Tapi, let’s save those stories for later. Ntar gajadi deh post ini jadi konten santai kalau gue tulis itu. Hehehehe.

Till the next post,

Salma R Zulfikar

Advertisements
Kita Tetap Teman, Kita Tetap Sahabat

Kita Tetap Teman, Kita Tetap Sahabat

Strength Lies in Differences, not Similarity

– Stephen Covey

Apakabar Indonesia? Panas? Iya Panas. Kondisi politik akhir-akhir ini membuat Agustus yang sudah panas makin panas. Aroma-aroma pemilihan presiden makin dekat, kedua calon yang akan berlomba sudah umumkan siapa pendamping mereka untuk berlaga. Terlalu banyak kejutan yang mengangetkan semua orang.

Ah, tapi bicara tentang kondisi politik terkini sejujurnya hanya buat lelah. Karena bagiku, pertarungan sejatinya belum dimulai. Bahkan nomor urut sajapun belum resmi diberikan. Jadi mari bicarakan ini nanti.

Ada hal lain tentang politik yang membuatku risau hari ini. Tentunya tak sebesar kontestasi pemilihan presiden. Tak pula sebesar pemilu legislatif dengan sekian banyak partai. Tidak. Ini tentang persahabatan, tentang pertemanan.

Semenjak politik acapkali jadi ajang bentur-benturan oleh oknum tertentu, seringkali benturan benturan ini merembet hingga lingkar persahabatan. Perbedaan pilihan politik kadang dianggap sebagai akhir dari persahabatan, karena kedua belah pihak ngotot sekali bahwa pilihannya yang paling baik, paling benar. Saling adu cerca atau tulisan nyinyir, yang cerminkan minimnya sikap dewasa.

Hari ini, aku dilanda kegalauan yang sama. Seiring dengan perjalanan waktu dan garis takdir perjuangan di kampus ini, masing-masing teman terdekatku mulai mantap memilih pilihan politiknya. Dinamika yang terjadi membuat masing-masing akhirnya mengambil jalan yang berbeda.

Aku hingga saat ini, masih berada di sisi yang sama, memilih untuk tidak menjadikan diri sebagai bagian dari entitas tertentu. Membiarkan diriku belajar banyak, mengamati dinamika yang terjadi. Lalu seketika aku disergap ketakutan, apakah perbedaan ini nantinya akan memisahkan kita? Apakah nantinya, perbedaan ini akan membuat kita tak seakrab dulu lagi?

Aku berharap tidak. Aku selalu percaya, bahwa kita berteman apa adanya. Semenjak kita masih mahasiswa baru dengan segala kepolosan dan keluguan yang membersamainya. Kita berteman tanpa peduli kita siapa, kita apa, kita bagaimana.

Maka jika hari ini, takdir mengantarkan kita pada pilihan pilihan politik yang berbeda, kita akan tetap sama. Tetap tidak peduli siapa kita, apa kita, bagaimana kita. Bahwa yang kita tahu adalah kita sekolompok manusia luar biasa dengan berbagai latar belakang yang memutuskan untuk berteman.

Aku percaya, kita bisa jadi model bagi negeri. Kita bisa jadi model perubahan, yang berhasil tunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik, tidak berarti tamatnya persahabatan. Perbedaan sikap politik tidak perlu jadi ajang saling menjatuhkan, tapi ajang bertoleransi dan belajar menghargai. Kita harus jadi contoh bagaimana indahnya harmoni dalam perbedaan.

Aku tak bilang jalan yang akan kita lalui kedepannya mudah, tapi aku percaya kita bisa 🙂

Raya Open House without Helpers? No Worries!

Raya Open House without Helpers? No Worries!

Sebelumnya, telattt banget mau posting ini, harusnya di hari H Idul Fitrinya. Tapi apalah daya, kisahnya tak sesederhana itu 😂😂 Jadi sekarang gue mau cerita-cerita tentang Lebaran tahun ini.

Sebagaimana kebanyakan keluarga di Indonesia lainnya, keluarga gue juga punya tradisi lebaran yang sama. Maaf-maafan, sungkeman dan makan-makan 😂 No difference, each and every year, biasanya kita ketemu di rumah nenek gue, lalu sungkeman dan makan. Tahun ini juga begitu.

Tapi, yang membuat berbeda tahun ini adalah; TIDAK ADA art dan supir inval yang berarti semuanya harus dikerjakan sendiri. Pertamakalinya juga, tahun ini Nenek gue menyerahkan urusan permakanan-an dan segala macamnya ke Nyokap gue dan Tante gue yang bungsu. Mereka sebagai konspetor dan jelas eksekutor nya adalah; Gue dan adik sepupu gue and this is where our family REAL Raya Story, began.

Karena Nenek gue ga masak (mempertimbangkan segala keribetan yang bakal terjadi kalau harus masak), akhirnya kami memutuskan untuk pake vendor soto untuk menyediakan makanan di rumah. Vendornya sudah oke banget, mereka nyediain mangkok, sendok sampe kompor buat kuahnya sekalian jadi kita semua tenang-tenang aja.

Gue mikir, yaudah lah ya ga banyak yang harus dikerjain berarti. H-2 gue masi tenang-tenang aja karena mikir yaudah sans aja gitu.

Ternyata cuy, tidak semudah itu. Karena ga masak sekalipun, tetap ada buah, kue, air mineral, teh dan kawan kawannya yang harus disediakan. Tetep harus ngelap dan ‘menggelar’ pyrex-pyrex karena tetep kepake juga ternyata.

Malam takbiran, gue sama adek sepupu gue keliling-keliling deket rumah nyari dari segala sendok plastik, piring plastik, air mineral gelas, beli teh kemasan sampe nyari bunga sedap malam. Malam-malam, udah sepi, untung masih ada satu toko plastik yang buka di pasar dekat rumah.

Terus lanjut ke agen minuman kemasan yang rata-rata minumannya udah pada abis. Kompromi berkali-kali karena Nyokap masih ngotot maunya teh kemasan yang dia suka whilst semua orang dirumah udah bilang buat realistis aja asal besoknya ada teh kemasan buat tamu.

Kelar persiapan H-1, di hari H gue cuss ke rumah nenek gue subuh-subuh. Gue datang dan melihat sotonya sudah ditata dan kami langsung shock, “Duh ini dikit banget, cukup ga ya”. Panik-panik ajaib tuh pagi-pagi, jumlah porsinya memang banyak, tapi kan porsinya kecil. Duh deg-degan abis deh pokoknya.

Akhirnya, pas orang-orang sholat, gue inisiatif goreng fish cake sama hash browns biar ga sepi-sepi amat menunya. Hash Browns kan juga bisa lah dibarengin makannya sama soto, pikir gue maksa. Goreng sekitar 4kg hashbrowns, gue sambil agak deg-degan karena awalnya beberapa hashbrown nya buyar dan bentuknya jadi jelek.

Anyway, alhamdulillah jadi lah 2 pyrex panjang penuh hashbrowns dan sebuah pyrex panjang berisi fish cake buat di hidangkan. Orang-orang pada pulang dari shalat eid, makanan alhamdulillah udah ready. Then, as usual, kami semua sungkeman, maaf-maafan dan salaman terus langsung makan!

Alhamdulillah fish cakenya berhasil, hashbrowns-nya juga berhasil banget alhamdulillah. Soto-nya juga ternyata ga kurang, and by the evening masih bisa dibagikan ke tetangga sekitar juga 🙂

Legaaa banget hari itu, alhamdulillah very first open house without helper was done successfully! Satu hal yang berasa banget menurut gue di first raya tanpa ada yang bantu adalah the warmth of the family dan bonding nya juga jadi kuat banget karena kita nyiapin semuanya sama-sama. Dari nenek-kakek, bokap nyokap, om tante, sepupu-sepupu semuanya ikut mikirin gimana open housenya, makannya, sampe beres-beres akhirnya. Alhamdulillah 😁

#LifeGoals

#LifeGoals

Your self-worth is determined by you. You don’t have to depend on someone telling you who you are.

-Beyonce

Sekolah dengan baik, masuk sekolah lanjutan unggulan, lalu melanjutkan ke perguruan tinggi favorit, kalau bisa terbaik. Jurusan dan fakultas favorit yang memiliki peluang kerja mapan. Selama kuliah, aktif berorganisasi, indeks prestasi baik (diatas 3 atau bahkan 3,5) lalu lulus tepat waktu 3,5 tahun sampai 4 tahun. Bekerja, memiliki pekerjaan yang baik, lalu menikah. Ini kan yang banyak orang definisikan sebagai #LifeGoals atau sukses secara umum?

Tidak ada yang salah dengan life path macam begini. Tidak ada yang perlu dikoreksi juga tampaknya, because this is what success defined by the society. Tapi, is that kind of life cycles is life cycles yang diinginkan oleh semua orang? Atau apakah semua orang akan nyaman ketika mengikuti siklus kehidupan macam itu?

Saya pernah ada di titik itu. High achieving student, kehidupan organisasi yang baik, ikut olimpiade pada tiga mata pelajaran berbeda (ekonomi, geografi, dan sosiologi) ketika orang lain hanya memilih untuk ikut salah satu, rajin ikut lomba non-akademik seperti pidato dan sebagainya. Hidup saya sempurna, following what society perceived as ‘success’.

Ketika saya kuliah, saya pikir saya akan tetap menjadi Salma yang seperti itu. Fokus ke banyak hal, mengerjakan sekian banyak hal dalam waktu bersamaan. Little did I know, uni life is so much different than high school life. Mendalami hal yang saya sukai semenjak lama, menjadikan rasa ingin tahu saya terhadap hal ini meningkat berkali-kali lipat. Waktu saya habis untuk belajar, mencari jurnal-jurnal terbaru, berhenti di laman-laman berita terbaru. Saya kehilangan minat untuk menjadi seaktif ketika sekolah dulu.

Saya nyaman, saya bahagia dan saya tahu apa yang saya lakukan ini baik. Tapi ketakutan mulai menggoda saya. Bagaimana dengan CV saya jika saya hanya ikut satu kepanitiaan dan satu organisasi? Apakah saya akan baik-baik saja? Bagaimana saya akan bisa menarik perhatian saat nanti mengajukan magang, beasiswa dan lainnya? Apakah indeks prestasi saya bisa menutup ini semua?

Ketakutan-ketakutan itu menggoda saya. Kadang membuat saya berfikir hingga jauh malam. Apakah saya sudah cukup bermanfaat bagi semua orang? Apakah dengan ini, saya sudah memaksimalkan seluruh potensi yang Tuhan berikan kepada saya? Dan sekian pertanyaan lainnya yang menganggu kehidupan saya, memperpanjang malam-malam saya.

Hingga saya kemudian tersadar, definisi sukses bagi setiap orang itu berbeda-beda. Kebermanfaatan bagi setiap orang, selalu berbeda-beda. Tuntutan sosial-lah yang kemudian membuat seakan-akan setiap orang harus sukses dalam definisi spesifik tertentu.

Padahal, setiap manusia dilahirkan dengan keunikan dan karakteristiknya masing-masing. Semua orang berbeda. Takdir langit, selalu memberikan manusia yang terbaik, sesuai dengan kondisi dan zona waktunya masing-masing. Soal rezeki, itu sudah ada yang mengatur. Bukan urusan kita untuk risau, karena Langit pasti sudah punya jalan terbaik.

Ini semua bagi saya sesederhana bahwa tidak semua orang harus jadi direktur, tidak semua orang harus memegang tampuk kepemimpinan organisasi, tidak semua orang harus ber-IPK sempurna. Ada orang yang nyaman dengan indeks prestasi rata-rata tapi bisa mendalami passionnya di bidang lain seperti bermusik atau seni. Ada orang yang senang belajar hingga dia mencapai indeks prestasi sempurna. Ada orang yang nyaman bekerja dengan 9 to 5 works, ada yang nyaman menjadi freelance.

Tidak ada yang salah dengan itu semua, karena toh pada akhirnya, setiap manusia punya jalan hidup masing-masing. Perbedaan yang ada inipula lah yang membuat hidup manusia jadi lebih berwarna.

Juga jangan lupa satu elemen penting bernama zona waktu. Boleh jadi da orang yang tampaknya hidupnya sudah sempurna, nilai yang baik, organisasi baik, perlombaan baik, hingga kehidupannya diinginkan semua orang. Namun kita tidak tahu apa yang orang ini rasakan, apa yang jadi kebutuhannya.

Mungkin pula ada orang yang hari ini tampak biasa saja, tapi melejit suatu saat nanti. Tidak perlu iri dengan kehidupan yang dimiliki orang lain, apalagi membandingkannya lantas merasa rendah diri. Menjadikannya motivasi untuk maju sah sah saja, tapj jika hanya membuat minder, berhenti lakukan itu. Karena rezeki dan zona waktu tiap manusia tentu saja berbeda.

Jadi nikmati saja hidupmu hari ini. Tidak perlu repot-repot berlari dan mengejar ‘standar’ yang sudah ada jika standar itu tidak membuatmu nyaman. Pilih pilihan hidup yang sesuai denganmu. Tidak usah memaksakan mengikuti standar yang ada, jika dengan mengikuti itu membuatmu merasa menjadi orang lain.

Karena Introvert juga Bisa Kesepian; Sebuah Catatan Tentang Pertemanan

Karena Introvert juga Bisa Kesepian; Sebuah Catatan Tentang Pertemanan

Jadi sederhana saja sebenarnya sore ini, ditengah kesendirian menjalani Ibadah Puasa, gue dilanda malas tingkat dewa buat beli takjil dan makanan buat iftar. Biasanya 6 tahun jauh dari orangtua sekalipun, puasa selalu ada teman. Buka juga ada temannya. Jajan di kantin ada temannya.

Gue orang yang introvert dan seharusnya gue pikir gue survive survive aja buat terus puasa sendiri. Toh kalau puasa sunnah/puasa ganti juga sendiri ya. Jadi ya gimana atuh, ga ngaruh-ngaruh amat juga.

Ternyata, beda. Vibes Ramadan aja beda banget dan gue jadi rindu hidup gue di asrama dan dirumah. Gue ternyata masih belum sesiap itu untuk menghadapi puasa sendirian. Implikasi dari rasa asing yang gue hadapi petang ini adalah gue langsung seketika ga minat buat beli apapun. Ga minat beli takjil. Ga beli iftaar sampe jam 5.00. Which means maghrib tinggal 20 menit lagi. Ditambah emang rasanya lemes banget kan ya, seharian puasa dan aktifitas full.

Gue akhirnya mengadukan kesepian gue dan kemageran gue buat beli takjil dan iftaar di salah satu grup kesayangan. 5 menit kemudian, handphone gue langsung bunyi, ada yang nelfon. Bukan nanyain, “Salma kenapa ga beli iftaar?” atau “Salma buka apa?” tapi merepet panjang lebar, “Buruan sana beli apa kek, turun lo buruan gausah macem-macem bla bla bla bla”.

Kayak kerbau dicucuk hidungnya, gue langsung buru-buru pake rok dan jaket, ambil dompet, cabut turun. Beli takjil, beli makanan buat buka. Terus di telfon sampe gue selesai beli semuanya. Ngobrol dan ditemenin via telfon.

Ah, emang yang kita butuhkan itu yang tau gimana buat kita lebih baik, yang ngga membiarkan kita melakukan hal yang salah. Yang selalu ada meskipun jarak membentang jauh. Paling penting, tau gimana menggerakkan diri kita. Bisa jadi temen buat ketawa tiwi ngomongin hal hal receh sampe ngebahas masa depan. Yang tidak saling meninggalkan, sejauh apapun dia punya dunia baru. Yang mengusahakan untuk menyisihkan waktunya diantara kesibukan, sesedikit apapun yang bisa dia sisihkan.

Dalam hidup ini, gue beruntung sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang seperti ini. Salah satunya sudah pernah gue berikan appreciation post lain di halaman blog ini. Seorang calon film maker dan jurnalis hebat, yang disela-sela kesibukannya, meluangkan waktunya untuk gue. Yang juga pencapaian dan prestasinya dalam segala bidang, tidak pernah berhenti membuat gue tersenyum. Tapi kali ini, bukan tentang dia. Gue pengen men-cherish teman baik gue yang lain. (Kalo lo baca Hay, maaf ya kalau udah geer 😂, kalau kita jadi itikaf bareng, tar gue nulis lagi deh tentang, pengalaman itikaf sama lo 😂😂)

Maka buat seseorang yang selama ini selalu hadir buat gue, jadi emergency call gue 24/7 (literally jam 12 jam 1 gue sesek gue nelfon dia yang berkilo-kilo dari gue dan dia bisa nenangin gue even without her physical existence), yang bisa nemenin gue dari fangirling receh sampe ngomongin masa depan, there’s no appropriate word to define how thankful I am to have you in my life.

Terimakasih sudah mengajarkan gue arti berteman, bertoleransi, bekerja sama dengan proses. Terimakasih sudah jadi telinga yang mendengarkan semua kesedihan gue. Terimakasih sudah jadi orang yang mau menanggapi kekeraskepalaan gue (walau gue tau lo sebel). Terimakasih sudah memberikan gue lahan untuk berkembang dengan sama-sama mencoba berfikir menjadi dewasa dengan permasalahan permasalahan yang jadi bahan diskusi kita.

Diatas segalanya, aku berterimakasih atas waktumu yang kau berikan untuk mendengarkan dan menemani aku Karena aku sadar, setidaknya untuk saat ini, itulah yang paling mewah dan mahal.

Semoga, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk lo, Fayza! Sehat dan semangat selalu, calon bankir kebanggaan!

 

Organisasi dan Prestasi; Antara Konformitas, Ambisi dan Tingkat Kebahagiaan

Organisasi dan Prestasi; Antara Konformitas, Ambisi dan Tingkat Kebahagiaan

Sejak kecil, gue hidup dengan motivasi besar untuk melakukan segala hal yang gue bisa dengan baik. Orangtua gue sangat baik memfasilitasi (materil dan immateril) gue untuk menunjukkan seluruh bakat dan potensi yang gue punya.

Menjadi teman diskusi gue, memberikan gue sekian banyak buku, langganan koran. Sampai tidak memberikan akses ke televisi di hari kerja, yang membuat gue punya banyak waktu untuk menekuri koran dan majalah, bahkan majalah bisnis milik bokap gue yang gue juga ngga ngerti itu apa (anak SD baca SWA atau Harvard Business Review ngerti apa cuy? Ehehe).

Gue kemudian tumbuh menjadi mahluk pecinta buku dan ilmu. Gue juga belajar public speaking semenjak SD, punya bakat terpendam untuk membaca puisi. Semua potensi yang gue punya kemudian mengarahkan gue untuk mulai ikut berkompetisi, berjuang keras, mengantar trofi-trofi ke rumah. Gue melakukan semua itu, untuk sebuah kepuasan yang gue sendiri gabisa mendefinisikan itu apa.

Gue beranjak SMP, dengan segala keterbatasan dan larangan yang ada, gue berusaha keras untuk berkembang. Gue juga berusaha untuk mulai mengikuti organisasi. Selama SMP, gue kemudian cukup dikenal sebagai anak aktif.

Lanjut SMA, kesibukan dan aktifitas gue makin menggila. Gue jadi BEM, ikutan hampir semua lomba, dari yang ilmiah sampai non ilmiah seperti pidato, debat dan sebagainya. Tahun kedua, bukannya berfikir untuk istirahat, ambisi gue makin menggila. Gue jadi Wakil Ketua MPK, anak olimpiade Ekonomi, sekaligus Sosiologi dan Geografi, masih juga membabat sekian kesempatan untuk ikut lomba debat dan pidato. Dari level internal sekolah sampai nasional.

Seakan belum cukup, gue juga mengambil amanah sebagai Co Acara di event tahunan terbesar sekolah gue. Di saat yang bersamaan gue juga menjadi Ketua Pelaksana Sidang Tengah Tahun BEM sekolah gue. Praktis, hari-hari gue habis dengan rapat, sekolah, pembinaan olimpiade dan lomba. Tiba di kamar ketika hampir pagi, lalu masih harus belajar lagi, mengerjakan setidaknya 20 soal olimpiade (ekonomi dan sosiologi) lalu merangkum materi pelajaran. Gue biasa tidur pukul 2 atau 3 setiap harinya.

Tahun ketiga, ambisi itu belum berhenti. Gue mulai mengurangi kesibukan organisasi, tapi masih mengejar beberapa perlombaan nasional, masih di bidang-bidang yang berbeda. Di semester dua, gue mengganti ambisi gue dengan masuk ke PTN favorit dan mendapatkan nilai UN tertinggi.

Kehidupan gue mulai berubah ketika kuliah. Gue tiba-tiba tidak punya ambisi untuk berorganisasi. Kehilangan minat untuk mengikuti perlombaan-perlombaan. Ingin sekali aku mendedikasikan hidupku hanya untuk kegiatan akademik, karena gue benar-benar mencintai bidang ilmu yang gue pelajari saat ini.

Lantas sebuah pertanyaan, atau bentuk ketakutan menyeruak, mau jadi apa kalau nanti CV-ku kosong? Bagaimana mau dapat beasiswa S2 ke luar negeri? Ini zona nyaman atau sebuah usaha mendalami passion?

Penasaran kelanjutannya? Nantikan di post selanjutnya!

Jakarta Impromptu Trip

Jakarta Impromptu Trip

Gue adalah anak manusia yang hidup dengan perencanaan yang matang. Besok mau ngapain aja, jam berapa, dari kapan sampai kapan, harus naik apa. Dalam jangka pendek. Dalam jangka panjangnya, gue juga selalu merencanakan hidup gue. Mau kuliah apa, berapa lama, dimana itu sudah gue pikirkan jauh-jauh hari.

Setiap kali keluarga kami mau jalan-jalan, walaupun kadang pake travel agent, tetep aja gue pasti riset lagi sendiri. Gue nyari kira-kira apa yang miss sampe gue memastikan tiket yang dipesan, ketentuan bagasi dari maskapai, sampe kemungkinan visa transit (kalau layover nya lumayan lama).

Singkat cerita, gue adalah mahluk hidup yang sangat peduli dengan satu hal bernama; planning. 18 tahun hidup, gue hampir tidak pernah hidup tanpa planning, karena menurut gue, planning akan membuat kita lebih siap menghadapi apapun yang terjadi di depannya, menghitung resiko, konsekuensi dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

Sampai akhirnya kemarin tiba-tiba gue ngedrop. Sakit. Udah biasa sebenernya. Cuma yang kemarin rasanya lemes banget, pusing nya ga ilang-ilang padahal udah minum obat. Diare juga.

Nelfon nyokap dong. Terus gue cerita dan vice versa, nyokap gue bilang; Udah kalau besok masih begini, pulang aja. I was like; WHAT PULANG?! Sempet ngobrol bentar sama temen gue, mikir ini itu, tapi akhirnya yaudahlah gue ngga gue pikirin lagi tawaran nyokap gue.

Sampe tadi pagi gue bangun sekalipun, gue ngga kepikiran buat balik. Gue cuma galau mau kuliah apa ngga karena gue masih ngga enak badan. Berhubung mata kuliahnya diplomasi dan sayang banget kalau gue ngga masuk, gue paksain deh tuh dateng.

Nyampe kampus (yang kurang dari 3 menit dari kosan gue, FYI buat yang belum tau), badan gue rasanya udah nano-nano kliyengan. Tapi gue pikir, the show must go on. Gue jajan as usual dan naik tangga 4 lantai karena antrian lift sudah ngga manusiawi.

Gue masuk kelas sudah mepet banget, jam 9.35 dan kelas mulai jam 9.40. Gak gue banget lah ya, gue biasanya di kelas at least 15 menit sebelum kelasnya mulai. Kalau diplomasi ini, berhubung kelasnya agak diatas (yaa maaf yaa, kelas gue semuanya lt.2 kecuali ini) gue biasanya jam 9 sudah di kampus.

Nyampe kelas, ternyata masih sepi dan badan gue rasanya makin ga karuan. Panas dingin ajib gajelas. Gue akhirnya WA nyokap dan bilang, Aku pulang aja ya? Tadinya gue mau balik sorean, biar ke Halim. Tapi berhubung nyokap gabisa jemput juga, akhirnya gue milih terbang yang jam 12.45 ke Cengkareng.

Gue meninggalkan kelas gue (yang dosennya belum masuk) buru-buru ke ATM di Perpustakaan Pusat. Untung ga pingsan di jalan dari fakultas gue ke perpusat, mengingat badan gue udah ga karuan.

Drama belum berhenti sodara-sodara, gue nyampe di ATM Perpusat dan taraaa antriannya mengular. Dalam hati gue meratap, ‘Giliran gue cuma mau withdraw biasa aja kenapa kosong siii, sekarang lagi buru-buru ngejer flight malah lama’. Mana kan ya, ada segala Ibu-ibu nyalip antrian gara-gara ada urusan penting gitu.

Ahhh, pengen rasanya tuh bilang, “Maaf Mbak, Mas, saya lagi sakit dan harus buru-buru beli tiket pulang ke Jakarta. Maaf boleh duluan ga?”. Tapi apapun itu, gue anak bokap gue. Bokap gue pasti gasuka kalau anak perempuannya nyelak antrian. Resiko gue juga kenapa baru beli tiket mepet-mepet. Hem.

Singkat cerita gue kelar dari ATM, pesen ojek online karena gue rasanya udah mau pingsan, balik kosan. Lalu gue ingat, “GUE MASIH PUNYA SEEMBER CUCIAN!”. Ga akan ngejer kalau gue cuci baik-baik. Akhirnya gue jemur aja itu cucian, asal dia tidak membusuk di ember. Itu udah jam 10.40, fyi dan gue mulai deg-degan.

Packing sebentar, (alhamdulillah masi sempet bikin peppermint tea) terus brb pesen ojek. Abangnya pengertian banget ya, pas di suhat doi nanya, “Mbaknya lagi buru-buru ga?”, Pas gue jawab buru-buru, doi ngebut parah sampai akhirnya gue sampai dengan selamat sehat di bandara jam 11.45.

Langsung check in, karena online check in udah gabisa. Naik ke ruang tunggu, sambil nge charge hape. Pesawatnya sedikit terlambat, but overall everything is alright.

Gue baca materi presentasi buat minggu depan troughout the flight, gabisa tidur sama sekali. Baca sampe kelar satu materi, lalu masang masker dan sunglasses tanda ngga mau diganggu/diajak ngobrol through out the flight.

Nyampe Jakarta, harap harap cemas bakal pake belalai gajah (dan ga terwujud). Naik bus dan duduk, jauh banget dari kebiasaan gue yang selalu berdiri, memohon pemakluman karena gue lemes banget.

Di bandara, nyari tempat damri, nanya sekali dua kali ke petugas, jalan ke tempat damri dan voila, disinilah gue sekarang. Di Café deket rumah tempat nyokap nyuruh gue nunggu (Iya, gabisa langsung karena gapunya kunci rumah).

Overall, this trip was amazing (despite bagian sakitnya). Badan gue masi ga karuan rasanya, but somehow I manage to write. I have once told you that writing heals me somehow right? That’s what happens today, perhaps.

Okee see you on the next post!

PS; Ada beberapa post yang draft nya masih betah ngendap di notes hape gue. Tunggu saja tanggal launch nya ya!