Because I Never Miss Any Boarding School the way I miss Assyifa (What it Really Takes to be Assyifa BS Student part 2)

Because I Never Miss Any Boarding School the way I miss Assyifa (What it Really Takes to be Assyifa BS Student part 2)

So this evening, in the middle of committee hectic, I saw @assyifaboardingschool instagram story. They are currently open for registration and it bring me into a major throwback.

Like it was just yesterday when ummi and ayah drove over Subang and we did the test. It feels like it was just yesterday when Ayah woke me up in the middle of the night, teary eyed, hugging me and said “Congratulations, you are accepted!”. It was one of the happiest moment in my life, I never wanted to be accepted in a boarding school the way I wanted to be accepted in Assyifa Boarding School, even more precisely, I never wanted to be accepted in a boarding school other than Assyifa. So being accepted in Assyifa is one of the greatest foot step I made in my whole lifetime.

Then everything goes fast. I finished up my sucks junior high school and prepared everything to be Assyifa student. It was hard, to be honest. To move up from your home (re: comfort zone), for the second time especially I have such a very bad experience with boarding school during my junior years, but then, I know one thing, I trust Assyifa Boarding School. I really do trust them. So there I go, packing up my things and move to a small city which later I cherished most, Subang.

Then, fantastic comes. Fantastic is Assyifa’s term for new student orientation. I woke up at 3, being rushed, learning Assyifa’s culture and dicipline. It was one of the best student orientation week I have even known. Unlike other schools who use their orientation week for seniority, Fantastic taught us a lot. From rules to habith, as well as giving chance for us to know our future three years friends better. We started to know the teacher well and at the end of the session, we all went out for camping which surely develop our bonding more than ever. Not just with our friends, but also with teachers and seniors.

After Fantastic, we started the real high school life. Where we started to learn a new focus, either science or social. Where we started our organization life. Becoming a member of each extracurricular activities according to our passion.

I choose to joined BEM (Student Executive Board) in Language Department on my first year. It was a good experience since organization enable us to develop friendship with seniors, taught us how manage time wisely, etc.

Talking about Assyifa and Organization will be very long topics, soo see u on the next post! I promise I’m trying to continue this ASAP. Because anyway I am currently on duty, writing Berita Acara. Ehehehehe

Advertisements
Mengapa Akhirnya Galau? On Choosing College and Major

Mengapa Akhirnya Galau? On Choosing College and Major

Akhir-akhir ini aku sedang dilanda kegalauan dan tentu saja bukan kegalauan tentang laki-laki seperti yang banyak remaja lain rasakan. Atau mahasiswi lain rasakan. Kurang lebih sudah sebulan semenjak statusku resmi menjadi mahasiswi melepaskan status terkatung-katung antara pelajar SMA dan Mahasiswi.

Aku bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya aku di takdirkan untuk menuntut ilmu di kota ini, di Universitas ini. Di kota kecil di ujung pulau jawa dan universitas negeri yang cukup bergengsi di Indonesia.

Akupun kemudian beruntung bahwa aku dapat menuntut ilmu di jurusan yang telah lama aku idamkan semenjak SD, Ilmu Hubungan Internasional. Sebuah bidang ilmu yang menjadi kegemaranku sehingga ketika banyak yang bertanya aku ingin jurusan apa, aku selalu mantap menjawab, HI.

Lantas kemudian apa yang membuatku galau? Jurusan. Yes you read that right, major. Kalau kalian bingung, aku juga. Tak pernah sebelumnya terbersit dalam pikiranku, bahkan dalam mimpi sekalipun, aku akan meragukan jurusan ini.

Aku mencintai berita, mengobrol tentang isu-isu terkini kemudian berdebat tentang apa yang seharusnya dilakukan bahkan sebelum aku lulus bangku sekolah dasar. Semua orang yang mengenalku dengan baik (berarti tidak termasuk saudara-saudara jauh yang terus berekspektasi aku akan jadi dokter atau akuntan) pasti tahu seberapa cocok aku dengan jurusan ini.

Aku mencintai ritme kelasku, bagaimana diskusi dan analisa saling beradu, bagaimana kami berebut menyampaikan pendapat dan pandangan tentang apa yang dosen kami sampaikan. Inilah yang selama ini aku impikan. Selama SMA, aku selalu kesal ketika diskusi dan tak ada yang kemudian mendebat argumenku atau kadang pertanyaan yang membuat teman-teman kelasku melirik sinis, anak ini nanya apaan sih, mungkin begitu pikir mereka.

Demi Allah, ini semua seperti mimpi. Too good to be true. Aku kemudian berfikir dan bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku benar-benar ingin melakukan ini seumur hidupku? Apakah aku benar-benar akan mendedikasikan hidupku untuk ini?”

Aku mencintai kemanusiaan, mencintai perdamaian, mencintai dunia akademisi. Aku memutuskan memilih Ilmu Hubungan Internasional selain karena aku mencintai dunia ini, aku ingin mengabdikan hidupku untuk kemanusiaan, aku ingin melihat lebih banyak lagi perempuan dan anak-anak yang bisa hidup tenang, bukan di daerah konflik. Aku ingin melihat lebih banyak lagi perempuan yang mampu meraih pendidikan tingginya, berkarya untuk masyarakat. Aku ingin melihat warga perbatasan bisa hidup makmur, karena batas-batas negara di hargai, tak lagi harus menggantungkan hidup pada penyelundupan dan tindakan illegal lainnya. Aku ingin melihat korban perdangangan manusia mendapatkan keadilannya, dilindungi dan dicegah untuk kembali terjadi. Aku ingin membantu memfasilitasi itu semua, maka aku memilih jurusan ini.

Harusnya aku tak akan pernah gamang. Harusnya aku yakin. Harusnya aku hanya tinggal menikmati anugerah yang luar biasa besar ini, menjadi bagian dari sedikit anak Indonesia yang mampu menikmati rasa berkuliah di jurusan impian. Jurusan yang telah terpatri di hatiku semenjak lama.

Bahkan rencana dan peta masa depan sudah jelas terpampang ketika aku memilih jurusan ini. Aku tahu kemana kakiku harus melangkah ketika aku menyelsaikan pendidikan ini nantinya. Apa cita-citaku, apa langkah-langkahku. Pencapaian apa yang kemudian aku inginkan di waktu-waktu tertentu. Semuanya sudah jelas.

Di negeri ini, ketika bahkan kebanyan generasi mudanya tak tahu apa yang mereka inginkan ketika memasuki universitas. Sekedar memenuhi tuntutan sosial untuk berkuliah. Memilih jurusan yang mereka pikir prestigious, keren atau melanjutkan tradisi keluarga bahkan karena celetukan singkat dari teman, saudara, kadang pula tetangga. Aku seharusnya bersyukur pada Allah karena aku punya informasi dan tujuan yang jelas sebelum memasuki dunia kuliah.

Aku kemudian mencoba berfikir, apa lagi yang membuat aku tidak kerasan? Lingkungan jelas out of option, karena aku mulai mencintai Malang. Meski dia tak sebising Jakarta, meski dia tak sedingin Bogor, meski dia tak seramah Bandung. Mungkin karena OSPEK atau apapun mereka menyebutnya. Mungkin juga rasa inferioritas yang mulai menghantui karena bertemu dengan orang-orang luar biasa dari seluruh Indonesia. Mungkin. Mungkin juga karena bingung menentukan kegiatan apa yang akan kupilih disamping kegiatan akademik.

Tapi baiklah, analisa kegalauanku cukup sampai disitu. Yang ingin aku sampaikan pada kalian, adik-adik yang luar biasa, adalah bahwa memilih jurusan dan universitas adalah suatu hal yang besar dan beresiko. Kalian akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang nantinya akan kalian jalani. Belum lagi jika kalian harus menerima penolakan-penolakan dari berbagai tempat, bagaimana kemudian kalian akan menjaga mental dan kepercayaan diri kalian ketika menghadapi penolakan. Ini penting, karena kehidupan paska UN SMA kalian tidak sesederhana liburan panjang 4 bulan sebelum memasuki jenjang kehidupan berikutnya.

Pre-College Life

  • Memilih Universitas dan Jurusan

Memilih ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak pernah akan menjadi hal yang mudah dan sederhana. Ada banyak pertimbangan seperti keinginan orang tua, passion dan minat kalian, lokasi universitas dan yang paling penting, kemampuan akademik dan passing grade/ranking jurusan dan universitas yang kalian inginkan.

Yang terakhir sebenarnya agak menyakitkan, karena pada faktanya banyak jurusan dengan passing grade tinggi yang akhirnya tidak diisi oleh mereka yang benar-benar punya minat di bidang itu. Hanya karena gengsi, kemudian memilih jurusan itu.

Padahal, untuk bertahan di sebuah jurusan pastinya dibutuhkan minat dan ketertarikan pada jurusan itu. Sebagai contoh, kamu ingin masuk Sejarah atau Sosiologi, tapi karena gengsi yang kurang akhirnya kamu memilih masuk HI. Walaupun kamu tidak suka public speaking, tidak suka berbicara tentang isu-isu Internasional. Dan hal ini, aku temukan secara nyata, tidak satu dua, tapi BANYAK.

Selain itu, banyak pula misconception (apasih bahasa Indo-nya? Mispersepsi?) tentang beberapa jurusan. Seperti hukum misalnya. Banyak yang berfikir ketika kamu masuk Hukum, kamu harus jago berbicara dan berdebat. Sure, itu benar. Tapi bukan asal bicara dan berdebat, tapi berdebat dengan menggunakkan logika Hukum, berdebat dengan argumentasi yang diterima secara Hukum. Remember, Law School doesn’t teach you about Law, they teach you to think like a Lawyer, Judge and etc.

Maka saranku sebelum memilih jurusan tolong pertimbangkan baik-baik. Riset, banyak bertanya, baca blog orang yang berkuliah di jurusan itu, lihat apakah prospek kedepannya cocok dengan kalian. Pertimbangkan juga seberapa berat kuliahnya, tugas-tugasnya, sanggup gak kalian bertahan dengan itu semua. Jangan hanya berfikir enak-enaknya saja, kayak HI bisa jalan-jalan keliling dunia gratis (ini mitos banget asli, karena banyaknya kalaupun keluar negeri ya kerja doang, jadi susah menikmati tempatnya. Kalau jadi diplomat juga gajinya mepet, saingan masuk Kemlu juga susah, gabisa banyak-banyak jalan, kalian itu di gaji sama pajak rakyat loh!). Pastikan bahwa kalian bener-bener suka dan mampu bertahan.

Setelah yakin sama jurusannya, tahap selanjutnya adalah memilih Universitas. Kalau aku, kemarin memilih UI karena beberapa faktor. Deket dari rumah, kondisi kesehatan dan amanat kakekku.

Untuk kalian yang orangtuanya ada di almamater tertentu, seperti UI, UGM dan ITB biasanya orangtua kalian punya pride dan legacy yang ingin dilanjutkan ke anak-anak atau cucunya. Walau gak semuanya gitusih, nenekku ga minta aku masuk UGM, hehehe. Gimana menghadapi ini? Kalau aku, selagi aku mampu akan aku usahakan. Itung-itung birrul walidain.

Selain itu ada ranking dan akreditasi Universitas yang kadang jadi pertimbangan. Ranking ini gak berarti segalanya, tapi kemudian bisa memudahkan kalian untuk melanjutkan kuliah pada jenjang selanjutnya.

Pertimbangan dosen. Pas milih UI, aku pengen karena dosennya banyak alumni LSE, which is my dream post grad school. Jadi aku bisa dapet pengalaman dan bantuan buat apply S2-ku, waktu itu sih mikirnya gitu. Jangan lupa juga riset, tanya ke senior yang udah berkuliah disana, gimana tipe dosennya? Secara umum cocok gak sama kepribadian kamu? Karena di kampus tertentu (off the record lah ya) ada dosen yang bisa ngasih nilai kamu jelek karena kamu nggak bicara pake kromo inggil dan kamu dianggap kurang sopan.

Yang gak kalah penting adalah aktifitas ekstrakulikuler. Misalnya kalian mau aktif di kegiatan MUN (Model United Nations) atau misalnya MAPALA, carilah kampus yang bisa memfasilitasi kalian dalam kegiatan-kegiatan itu. Karena kehidupan kampus kan gak cuma akademik, tapi juga kalian bakal berproses agar keluar dari situ bukan hanya kemampuan akademik kalian yang baik, tapi juga kalian bisa bener-bener jadi manusia yang berdiri sendiri dan bertanggungjawab.

Terakhir, lingkungan. Bagaimana lingkungan kampusnya. Borju gak? Pergaulannya gimana? Apakah orangtua kalian akan merasa aman meninggalkan kalian disana? Kalaupun borju dan kalian masih pengen kuliah disana, gimana ya kira-kira bertahannya?

Khusus yang sudah yakin memilih PTLN, pertimbangkan faktor beasiswa, lingkungan, asrama dan adaptasi kalian. Pertimbangkan juga bagaimana networking kalian kedepannya kalau masih ingin berkarier di Indonesia. Walau kemudian berkuliah di negeri orang akan memberikan pengalaman pendewasaan diri yang lebih (karena challenge(s) yang akan kalian hadapi juga lebih besar), meski kemungkinan besar kalian akan melalui masa perkuliahan yang relatif lebih lama daripada teman-teman kalian.

Buat anak IPA yang mau nyebrang ke IPS, let me ask you one thing, seberapa kalian yakin dengan IPS? Karena jangan dipikir kalian mau bebas dari ngitung terus kalian milih IPS. IPS itu dunia yang serba relatif, aku pernah disuruh baca makalah 16 halaman dengan tulisan super kecil dalam bahasa inggris yang njlimet untuk dapat kesimpulan bahwa gaada definisi pasti tentang HI, bahwa definisi itu harus kita dapatkan sendiri dalam perjalanan keilmuan kita nanti. Siap kalian deal dengan hal-hal kayak gitu? Ketidakpastian tingkat akut, hehehe. Baca dan nyari jurnal berlembar-lembar, baca text book tulisan kecil-kecil at least 1 bab per mata kuliah perminggu? Ini minimal loh ya, minimal.

Barulah setelah mempertimbangan semua faktor diatas, kalian bisa menentukan pilihan tujuan perkuliahan kalian.

  • Menghadapi Penolakan-Penolakan

Memilih jurusan dan universitas impian memang ribet, tapi yang lebih ribet lagi adalah ketika kalian harus memilih pilihan kedua, ketiga. Membuat Plan A, Plan B, Plan C, Plan D, Plan E dst. Sekarang kalian pasti bakal bilang, “Apaansih kak, pesimis amat. Sampe Plan E segala? Pesimis amat. Doa aja dulu biar keterima SNMPTN”.

Well, terserah sih kalau kalian mau kayak gitu. Tapi yang harus aku bilang ke kalian, untuk kebaikan kondisi psikis kalian kedepannya juga, hapus SNMPTN dari bayangan. Kenapa? Karena kita gak pernah tau apasih kriteria spesifik yang menentukan kelulusan SNMPTN. Jadi jangan pernah mengharapkan SNMPTN, pokoknya abis daftar, lupain ajadeh kalian pernah daftar. Pikirin aja SBMPTN, FOKUS!

Tapi meskipun kayak gitu, kalian juga mesti mikirin kira-kira mau naruh apa di SNMPTN. Tentunya kalau kalian gak punya kriteria spesifik universitas atau memang universitas yang kalian inginkan itu termasuk yang relatif bisa ditembus masuk lewat SNM, pilihlah universitas dengan proboabilitas masuk yang tinggi.

Kalau ternyata dream school kalian termasuk susah ditembus lewat SNM, tanyakan ke diri kalian sendiri, Apakah kalian nantinya gak akan menyesal gak pernah memperjuangkan untuk mimpi kalian? Kalau aku, aku memutuskan memperjuangkan jaket kuning sampe kesempatan terakhir, hehehe.

Yang harus aku bilang, walaupun aku tau aku hampir gak mungkin dapet SNM, di tolak SNM itu tetep nyesek. Tetep menyedihkan. Tetep menyakitkan. I thought I was ready, tapi pas buka pengumuman dan baca “Maaf anda dinyatakan tidak lulus dalam seleksi SNMPTN 2017”, Coyyyyy itu rasanya nyesek banget man. Nyesek!

Lalu ada yang namanya SBMPTN. Menentukan pilihan pertama di SBM sebenernya relatif mudah. Pilih dan perjuangkan impian kamu, no matter what happens. Kecuali, kalau memang yang kamu mau bener-bener tinggi banget dan nilai kamu masih jauh banget, kayak HI UI, FK UI, Akuntasi UI dan UGM dan pilihan kedua kamu masih tetap jurusan yang sama di Universitas lain.

Karena beberapa Universitas gaakan mau milih kamu, walau nilai kamu cukup, ketika kamu menuliskan jurusan favorit sebagai pilihan kedua atau bahkan ketiga. Ini kesalahan aku pas SBM tahun ini.

Nah pilihan kedua ketiga gimana nih? Kalau menurut aku, kamu harus pilih antara jurusan dan universitas. Pilih jurusan ketika kamu emang bener-bener sulit membayangkan kamu kuliah di jurusan lain. Ketika kamu bener-bener yakin bahwa emang jurusan itu masa depan dan dunia kamu.

Pilih universitas ketika kamu menginginkan universitas itu, orangtua kamu juga mendukung (biasanya karena faktor lokasi), ketika kamu juga sebenernya fleksibel dalam memilih jurusan (kayak kamu sebenernya suka HI, tapi gak keberatan ngambil Ilmu Politik, Hukum atau Ilmu Administrasi Negara atau bahkan Kesejahteraan Sosial) atau ada ekstrakulikuler yang bener-bener kamu bisa kejar dan kamu yakin bakal bersinar di ekskul itu.

Udah realistis gitu masih bisa ditolak Kak? Bisa banget. Bisa BANGET. Ditolak SBM itu jauh lebih nyesek daripada di tolak SNM, karena materi SBM itu susah banget, capeknya luar biasa kalian bimbel sebulan, tidur gak tidur, waduh asli nyesek banget. Desprate banget kalian mau kuliah dimana, putus asa, malu.

Disini, yang di uji adalah mental dan iman kalian. Sedih itu pasti, nyesek itu pasti. Bahkan bagi mereka yang diterima di SBM tapi nggak di pilihan pertama mereka, bahkan bagi mereka yang di terima di pilihan pertama tapi mereka nurunin standart mereka.

Mungkin akan datang masa ketika kalian akan menyalahkan diri kalian sendiri, menyalahkan orangtua karena memaksakan sesuatu terhadap kalian. Mungkin juga akan keluar kata-kata seperti ‘kalau dulu aku milih sekolah di sekolah x mungkin aku akan dapat SNMPTN’. Berhenti mikir kayak gitu, karena apapun yang kejadian sama kalian itu dari Allah. Seperti yang Tere Liye bilang, Takdir langit akan selalu adil, meskipun kadang kita belum mengerti bentuk keadilan itu. Dan menyesali ini semua gaakan membantu kalian mendapatkan universitas impian kalian.

Satu hal yang aku pelajari dari pengalamanku, bahwa semuanya akan datang ketika kita benar-benar ikhlas dan tidak menyalahkan keadaan. Aku dulu marah dengan konsep pendidikan di Indonesia yang membuat beberapa jam SBMPTN sebagai penentu masa depan, aku marah dengan fakta bahwa SBM tidak pernah diajarkan, ketidakseimbangan demand dan supply perguruan tinggi.

Aku kesal dengan pandangan meremehkan universitas swasta di Indonesia. Aku marah pada orangtuaku karena memaksaku masuk SMP-ku yang kuanggap jadi batu sandungan bagiku untuk ke Harvard, NUS dan UI. Kalian pasti pernah dengar ungkapan “Kalian tidak akan pernah mendapatkan sesuatu kalau kalian terlalu menginginkannya”. Aku merasakan betul bahwa ungkapan itu nyata. Aku akhirnya dapat HI UB ketika aku benar-benar tidak lagi mengharapkannya, ketika aku sudah siap menerima fakta aku harus masuk universitas swasta di Jakarta. Ketika aku tidak lagi marah dengan sistem yang ada di hadapanku.

So first, I’ll tell you, you’re not alone. You’re not the only person who faced rejections, you’re not the only person who feels miserable. Its always okay to be sad, to feel pathetic but you can’t do that forever. Tentukan waktu bersedih kalian, 3 hari aku pikir cukup, lalu pikirkan langkah kalian kedepannya mau ngapain.

Kalian harus daftar mandiri kah, mau ambil universitas swasta, mulai mempertimbangkan kuliah di PTLN atau bahkan memutuskan ronin. Semua keputusan baik dan kondisi setiap orang beda-beda.

Kalau kalian mau daftar mandiri, apakah kalian masih mau stick ke jurusan yang kalian inginkan atau kalian mau nurunin standart asal yang penting kalian keterima. Aku pernah mengalami ini dan ternyata kalau asal keterima itu gaenak. Jadi rasanya sama aja sama gak keterima (apa aku yang kurang bersyukur ya? Astagfirullah).

Tapi seriusan, pas kalian gadapet SBM kalian bakal kayak orang stress yang nyari jurusan apapun asal keterima disitu. Please jangan kayak gini, karena kuliah itu 4 tahun dan kalau kalian mentok di jurusan yang jauh banget dari kalian, itu nggak enak. Tapi ada untungnya juga sebenernya, diterima di jurusan dan uni (walau yang tidak kalian harapkan) bisa mengembalikan mental kalian setelah di tolak sana sini.

Kalau memutuskan ronin, kalian bener-bener harus menjaga semangat kalian. Fokus. Kerja keras. Buktikan sama keluarga dan orang-orang terdekat kalian bahwa kalian kalian bukan cuma main-main, tapi bener-bener mengejar SBM tahun depannya. Bagus juga kalau kalian nambah kemapuan lain seperti tahfiz, bahasa asing, menjelajah hobi kalian kayak fotografi atau menulis biar gak bosen nganggur setahun.

Pesanku, terus belajar, terus bersemangat, cari dan ketahui passion kalian apa dan dimana. Bicarakan baik-baik dengan orangtua, pertimbangkan semua hal, come to every single detail. Libatkan Allah dalam setiap keputusan yang akan kalian ambil.

Jangan pernah bandingkan kehidupan kalian dengan orang lain seperti ‘enak ya dia dapet SNMPTN’ karena kata Ismail Menk “The moment you started comparing your life with others is the start of your downfall. You’ll loose your peace and sense of gratitude. Thank The Almighty”.

Feel free to ask or to contact me, kalau mau ngobrol atau tanya-tanya tentang kuliah ke salmarzulfikar@gmail.com atau direct message instagram, line atau whatsap. Selamat bekerja keras dan berdoa!

 

“We all want to achieve, but nobody wants to do the hard works. Achievements only come with hard work, dedications and the help of The Almighty”

-Mufti Ismail Menk

Tentang Sebuah Pencarian, PART II

Tentang Sebuah Pencarian, PART II

“Kamu akan jadi lebih hebat dari Ayah, makanya kamu dikasih ujian seperti ini. Kamu akan dapet universitas, kamu akan diterima, Ayah percaya its just a matter of time”

Lama tidak menulis, banyak juga yang kemudian menagih janji karena di post sebelumnya ada kata-kata “To be continued” tapi kok gak dilanjut-lanjut. Oke, I have excuse, even EXCUSES. Banyak man, banyak yang bisa aku jadikan alasan dan kalau aku jabarkan satu-satu beserta tetesan airmata yang mengirinya (YEAH DRAMA YEAH) aku yakin kalian akan memakluminya dengan senang hati.

Tulisan ini akhirnya diketik di kamar kosan saya di Malang, ketika udara nggak begitu panas selesai kelas pengantar hubungan internasional, iya gapenting. Yaudahlah ya sebelum makin ngawur dan semoga kalian gak langsung tutup blog saya karena preambulnya ancur banget kayak gini, aku lanjut ajalah.

Where were we? Akhir masa SMA-ku yang akhirnya aku memutuskan melepaskan NTU dan NUS, meninggalkan impian yang telah dibangun sejak awal aku menginjakkkan kaki di SMA bukan? Alright. Ada banyak pertimbangan kenapa aku akhirnya melepaskan kesempatan mendaftar di dua universitas terbaik di Singapura itu.

Alasan utamanya adalah kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan untuk berada terlalu jauh dari orangtua. Oke, you may say Singapore its just 1,5 hours away from Jakarta and else, tapi yang ada di pikiran orangtuaku saat itu adalah itu adalah negara lain dengan kultur budaya yang cukup berbeda dengan lingkungan ku selama ini. Jika ditambah dengan kondisi kesehatan yang tidak stabil, mungkinkah aku bertahan? Mampukah aku bertahan?

Terlebih lagi pada saat masa-masa dua universitas tersebut membuka pendaftaran berkas, aku sedang di rawat di rumah sakit, sehingga makin menyurutkan kepercayaan orangtuaku untuk memberikan izin kepada sulungnya untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Destinasi pun kemudian berganti. Aku tetap memilih Ilmu Hubungan Internasional karena aku yakin, itulah jalanku. Itulah pilihan dan tujuanku. Aku tahu apa yang akan aku lakukan dengan ilmu yang kuperoleh dari studi ini.

Aku kemudian mempertimbangkan dua universitas negeri di Indonesia, Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran.

UI, dengan pertimbangan sebagai universitas terbaik di Indonesia (versi QS World University Rankings) selain juga faktor jarak yang dekat dengan rumah sehingga akan memudahkan orangtuaku untuk mengontrolku. Selain itu fakta bahwa aku telah menghabiskan 3 tahun di boarding school membuat aku ingin kembali ke Jakarta, mendekatkan diri dengan keluarga besarku, membayar waktu-waktu berpisah kami.

UNPAD, dengan pertimbangan lebih mudah bagiku untuk masuk kesana melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau biasa dikenal dengan jalur undangan. Faktor kakak kelas yang sudah banyak diterima pada jurusan yang sama membuatku kemudian cukup tertarik.

Setelah melalui berbagai kegalauan dan kebingungan, aku kemudian mantap memilih Universitas Indonesia sebagai satu-satunya pilihan SNMPTN-ku. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan, namun salah satu yang paling mengesan di hatiku adalah ketika kakekku berpesan, “Kuliah di UI aja, gausah jauh-jauh lagi”.

Mungkin bagi sebagian orang biasa saja, hanya sekedar ungkapan seorang Kakek yang ingin cucunya ada di dekatnya. Tapi bagiku, its everything. Kakekku adalah seseorang yang menanamkan kecintaan pada dunia politik, ekonomi dan hubungan internasional sejak aku kecil. Aku selalu ingat bagaimana dia mengajakku menonton televisi berita ketika bahkan aku belum tamat SD.

Kakekku adalah alumnus Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia dan tak ada anaknya yang mengeyam pendidikan di almamaternya, melanjutkan kebanggan berjaket kuning. Meskipun aku harus akui bahwa diluar sana, anak-anaknya menempuh pendidikan di universitas terbaik, yang secara ranking berada jauh lebih tinggi dari UI, tapi aku pikir kakekku masih menginginkan salah satu anak keturunannya melanjutkan kebanggaan berjaket kuning.

Memilih SNMPTN Hubungan Internasional Universitas Indonesia tentu bukan pilihan sederhana dan mudah. Semua orang tahu betapa berat persaingan masuk HI UI dan belum ada alumni sekolahku yang diterima di jurusan itu. Berbagai nasihatpun datang kepadaku, menyarankan agar aku memilih universitas lain, namun aku kukuh pada pilihanku. Permintaan kakekku adalah permintaan istimewa yang tidak akan pernah aku tolak.

Dan akhirnya, aku ditolak. Tidak lulus SNMPTN. I was prepared for that, I know that it is the things that actually would happened. Tapi ternyata tetap, ditolak itu menyakitkan. Meski aku tahu, sangat kecil kemungkinan bagiku untuk diterima, tapi ternyata kesedihan tetap datang.

Aku kemudian kembali belajar, berteman dengan soal, berkawan dengan guru les privat, mengurung diri di perpustakaan rumah, menyiapkan diri untuk bertempur melawan soal SBMPTN dan SIMAK UI yang terkenal sulit. Aku bersyukur aku pernah aktif menjadi tim lomba dan mengikuti pembinaan olimpiade untuk 3 mata pelajaran sosial humaniora, sosiologi, geografi dan ekonomi sehingga tidak terlalu harus mengejar dalam waktu yang begitu singkat.

Saat ujian SBMPTN berlangsung, aku cukup percaya diri dengan jawabanku dan aku cukup yakin bahwa setidaknya aku akan diterima di salah satu pilihan yang aku pilih. Namun kemudian fakta berkata lain, aku tidak diterima di pilihan manapun baik di SBMPTN dan SIMAK UI.

Sedih, marah, kesal, depresi kemudian mulai menghantui. Berbagai pertanyaan tidak pantas kemudian terlontar. Aku menjalani hari dengan kegamangan yang luar biasa, kepercayaan diri kemudian turun. Yang aku pikirkan hanya satu, apa yang harus aku katakan kepada keluarga besarku? Karena dalam catatan keluarga kami, tidak ada yang tidak masuk universitas prestigius.

Salah satu yang menyakitkan bagiku adalah aku tak mampu melihat sekelilingku kecewa. Walau kemudian kecewa itu tak pernah ditunjukkan secara frontal, tapi aku tahu pasti ada sudut hati mereka yang kecewa. Ada kalimat maaf yang tertahan dariku, bahkan hingga saat ini “Maaf karena aku nggak bisa membuat ayah merasakan kebanggaan yang sama dengan yang dirasakan nenek dan kakek dulu ketika ayah diterima di UI”.

Aku juga menolak penghiburan dari orang-orang terdekatku karena aku menganggap mereka tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Tanteku berkuliah di universitas terbaik di Australia, Ibuku masuk universitas swasta yang punya reputasi baik di Amerika, sedangkan Ayahku diterima di Akuntansi Universitas Indonesia tepat setelah beliau lulus SMA, bahkan nenekku alumni UGM. Tahu apa mereka tentang sakitnya ditolak univeristas negeri berkali-kali?

Berbagai kemungkinan kemudian aku telusuri, mulai dari mengambil seleksi mandiri berbagai universitas negeri, ikut test masuk universitas swasta, melihat kemungkinan mendaftar di Univeristas negeri di Malaysia dan Turki, serta banyak lagi.

Aku akhirnya mengikuti seleksi mandiri beberapa universitas, menerima beberapa penolakan lagi, hingga akhirnya dua univeristas negeri yang cukup reputable di Indonesia menerima aplikasiku. Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Brawijaya.

Aku kemudian memilih Universitas Brawijaya sebagai tempatku melanjutkan studi dengan beberapa petimbangan, meski aku akui tidak mudah memilih untuk berada jauh dari rumah, meninggalkan zona nyamanku. Apalagi pada saat itu aku juga telah diterima di sebuah universitas swasta di Jakarta.

Setelah melewat semua ini dan segala kesedihan dan cobaan yang ada bersamanya, aku pikir akhirnya aku akan dapat menikmati kehidupan, merasakan manisnya mengecap bangku perkuliahan. Tapi ternyata nol besar, aku salah. Semua lika-liku yang telah menjungkirbalikkan aku itu hanyalah sebuah permulaan. Jika film, itu adalah trailer awalnya. Dunia perkuliahan, terutama dengan kegiatan pengenalan kehidupan kampusnya adalah sebuah tantangan yang tidak kalah berat menguji ketahanan mental dan fisik kita.

Tentang Sebuah Pencarian

Tentang Sebuah Pencarian

“Kalian akan merasa sukses duniawi kalau?”

“Kalau saya masuk Harvard, Bu”

Teman-temannya menoleh, tak mengerti. Mereka masih SD.

Landasan Cita

Aku tumbuh dengan sebuah kecintaan yang luar biasa pada Ilmu Sosial. Semenjak kecil menghabiskan waktu dengan menonton berita di televisi, berdiskusi dengan kakekku mengenai kasus korupsi yang begitu marak di negeri ini, menyimak konflik-konflik yang terjadi di berbagai belahan bumi.

Mengenal nama Saddam Hussain bahkan ketika usiaku belum genap 3 tahun. Kemudian mulai intens mengikuti segala perkembangan dunia ketika George W Bush memenangkan pemilihan umum Amerika Serikat 2004 silam. Semenjak itu pula, ketertarikan terhadap isu-isu Internasional berkembang pesat.

Ketika SD, aku melihat banyak sekali kekacauan di negeri ini. Korupsi, isu lingkungan, keamanan perbatasan hingga perlindungan terhadap buruh migran yang minim. Maka sejak itu pula, cita-citaku satu, melakukan apapun untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. Dengan bentuk kontribusi apapun, karena diatas segalanya, aku mencintai negeri ini.

Aku pernah memilih arkeolog, lalu sejarawan, hingga wartawan olahraga sebagai profesi impian masa depanku. Hingga aku mengenal sebuah disiplin ilmu baru, Ilmu Hubungan Internasional ketika membaca sebuah buku karya Ahmad Fuadi. Buku yang kemudian membuatku memacakkan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran sebagai impian, yang kelak aku lepaskan ketika aku telah begitu dekat dengannya.

 

Sebuah Tujuan

Suatu siang, saat Facebook baru saja booming diseluruh dunia, guruku berkisah tentang sebuah universitas terbaik di dunia, almamater sang pencipta Facebook, Harvard. Beliau juga bilang tentang Harvard sebagai salah satu Universitas tertua di dunia, bersama Oxford, Al Azhar dan serangkaian nama besar lainnya.

Kemudian di hari lainnya, guruku bertanya tentang mimpi-mimpi kami. Tentang pencapaian duniawi yang membuat kami merasa sukses. Teman-temanku menyebutkan menjadi yang terbaik dalam pelajaran ini itu, masuk 5 besar, nilai diatas 9 atau paling jauh masuk SMP negeri favorit. Ya memang pencapaian apalagi yang dipikirkan anak SD kelas 5?

Tapi hari itu, dengan senyum aku dengan yakin berkata,

“Saya akan merasa sukses kalau saya berhasil masuk Harvard, Bu”. Saat aku mengatakannya, aku bahkan tidak tahu Harvard ada di bagian mana Amerika. Tidak tahu program apa saja yang ditawarkan di Harvard. Yang aku tahu, masuk Harvard tidak akan mudah. Berstatus sebagai universitas terbaik di dunia saat itu, aku cukup tahu diri bahwa berkuliah disana tidak akan menjadi soal sederhana.

Maka sejak itu, aku berusaha fokus menyiapkan diri. Memperbaiki bahasa inggris, menjadi patokan utama. Aku masih ingat bagaimana essay bahasa inggris pertamaku dibuat, berlari ke setiap sudut rumah mencari orang yang bisa membantu menerjemahkan kata-kata sulit. Essay yang dibuat karena tantangan guru TIK ku, untuk berkisah tentang pengalaman supercamp 3 hari kami.

 

Kala Mimpi Pecah Berkeping

Semenjak memilih Harvard sebagai tujuan, lalu kemudian menyandingkannya dengan Oxford dan Cambridge, aku hanya berfikir bagaimana caranya agar aku menempuh jalur yang tepat untuk menuju kesana. Bagaimana merealisasikan impian-impian besar itu.

Salah satu pijakan fundamentalnya adalah ketika memilih sekolah menengah pertama. Sejak lama orangtuaku memang menginginkan aku untuk menempuh pendidikan di pesantren. Mereka telah mencoba mengenalkan beberapa pesantren, membawa aku agar aku dekat dengan lingkungannya.

Tapi aku kukuh menolak. Aku tidak rela kedekatan dengan Nenek-Kakek, Om-Tante dan terutama orangtuaku harus tergadaikan demi masuk pesantren. Di sisi lain, aku juga sudah diterima di sebuah sekolah swasta yang menawarkan kurikulum semi-internasional dan program menghafal Al-Qur’an yang baik.

Pertimbangan lainnya adalah jika aku masuk pesantren, maka segala akses informasi akan tertutup. Jangankan akses internet, bahkan koran dan buku bacaan sepert biografi dan motivasi saja diharamkan untuk dibawa. Maka lantas bagaimana aku akan berkembang disana?

Orangtuaku kukuh membujuk untuk memilih pesantren. Bahkan guru-guru SD yang begitu kucintai ikut serta melobi agar aku berkenan melanjutkan sekolah ke pesantren. Aku terus mengulur waktu, menolak masuk pesantren. Hingga suatu sore, selepas ashar aku memeluk Ibuku sambil berkata, Ya aku akan masuk pesantren.

Hidup selanjutnya berjalan cepat, sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke pesantren. Hingga akhirnya hari yang tidak pernah aku inginkan datang, hari aku masuk pesantren. 11 Juli 2011. Berpisah dengan orangtua, rumah, kamar, yang memberikan kenyamanan selama ini.

Seminggu pertama kulalui dengan homesick berat, rindu yang mengakar. Mandi yang mengantri. Makan yang begitu berbeda dengan makanan rumah. Bangun dibangunkan oleh bel yang memekakkan telinga. Mana sempat memikirkan Harvard saat itu?

Yang sempat terfikir adalah beberapa tulisan mengenai kerajaan-kerajaan di Eropa yang sempat kubaca sebelum pergi. Tulisan yang kusalin sendiri dari laptop, kata perkata, karena takut akan disita kalau berbentuk print out. Sesekali tersenyum saat mengingat perjuanganku menyalinnya. Itu satu-satunya alasan aku tersenyum di seminggu itu.

Minggu selanjutnya, ketika mulai masuk sekolah, aku dihadapkan oleh sebuah fakta besar, aku akan belajar 22 mata pelajaran. Lebih dari setengahnya adalah pelajaran agama. Dengan waktu kegiatan yang begitu padat. Otak kritisku lantas cepat berfikir, lantas kapan waktuku mengembangkan diri? Mengikuti kompetisi? Bersenang-senang bersama artikel olahraga dan politik yang aku sukai? Bahkan koran saja sulit. Kegelisahanku bertambah, bagaimana aku akan masuk Harvard jika begini?

Maka setelah 2 minggu, aku berketatapan untuk bicara kepada kedua orangtuaku, aku tidak mau lagi melanjutkan pendidikanku disini. Aku ingin kembali ke Jakarta. Kembali ke duniaku. Kembali meniti jalanku kepada mimpiku. Orangtuaku menolak, memintaku untuk bersabar sedikit lagi dan bertahan.

Akhirnya aku menjalani hari disana dengan kesedihan. Berpisah dengan orangtua bagi gadis 11 tahun tentu bukan perkara sederhana. Belum lagi ditambah kedukaan tidak mempelajari hal-hal yang aku cintai. Seakan belum cukup, sama sekali tidak ada orang yang bisa diajak berbagi, tentang tekanan, ketidakbetahan dan utamanya impian.

Disamping fakta bahwa hampir semua mata pelajaran diajarkan dalam bahasa arab, aku juga harus menghadapi sekian inkonsistensi dan peraturan yang tidak masuk akal dari sekolah itu. Seolah itu semua belum cukup, peraturan disana labil sekali. Bisa berubah per 2 minggu sekali. Aku yang terbiasa dengan peraturan yang ajeg, tentu saja tidak bisa menerimanya. Aku benar-benar tersiksa disana.

Pada pertengahan masa studiku disana, orangtuaku akhirnya mendapatkan ilham untuk memberikan opsi pindah. Memilih sekolah manapun yang aku pikir cocok untukku. Hanya saja, dipertengahan jalan, ayahku melontarkan sebuah kalimat sederhana yang kelak menjadi cambuk bagiku untuk bertahan.

 

Menghadapi Realita

“Kalau bertahan disitu saja tidak mampu, bagaimana mau masuk NUS?” -Ayah

Loh kok jadi NUS? Di akhir masa SMP, aku akhirnya menyadari bahwa dengan persiapan yang sangat minim dan bahasa inggris yang masih berantakan, berat bagiku untuk masuk Harvard. Berat pula bagiku untuk kembali berpisah dengan orangtuaku sebegitu jauh untuk setidaknya 4 tahun masa studi S1-ku.

Akhirnya aku memutuskan memilih NUS atau NTU sebagai tujuan kuliah S1-ku. Fakta bahwa Singapura tidak begitu jauh dan posisi NUS dan NTU sebagai universitas dengan ranking tertinggi se-Asia membuatku cukup tertarik. Lagipula, masih ada S2 dan S3 untuk menimba ilmu di Harvard nantinya.

Aku pikir, tak apa bukan yang terbaik di dunia tapi yang terbaik di Asia. Ayah pernah diterima di NUS, jadi seharusnya masuk NUS tidak sesulit itu, pikirku saat itu. Pada saat itu, aku juga telah memilih untuk masuk sebuah SMA swasta berasrama di daerah Subang, Jawa Barat. Konon kabarnya, sekolah ini terkenal dengan prestasi akademik yang cukup baik dan management sekolah yang rapi. Oke, tidak ada inkonsistensi peraturan lagi, pikirku senang.

Sejak menginjakkan kaki di SMA-ku, tujuanku begitu terang dan jelas, bekerja keras agar nilaiku cukup untuk seleksi awal dua universitas di Singapura itu dan mempersiapkan diri untuk test masuk dua universitas tersebut.

Bergabung dengan organisasi intra sekolah juga menjadi salah satu aktifitasku. Untuk menambah pengalaman. Disamping itu aku juga mengikuti berbagai perlombaan agar pengalaman dan prestasiku cukup menarik pada saat proses aplikasi. Aku merasa sudah on the track, hingga diujung masa studiku, berbagai hal datang, membuat aku harus teguh menghadapi realita bahwa NUS dan NTU tidak berjodoh denganku saat ini.

 

Bersambung—

Hi there, Thank you!

Hi there, Thank you!

Hi there! National Geographic future journalist, NAFA future cum laude student!

It was the beggining of September when I first know you personally. Because of the Real Madrid tumbler you use, that left me curious since the beginning of FANTASTIC. We were glad to know each other, as we realized we have essential thing in common, we’re both football fans!

As times went by, our discussion grews from football to politics, life and sometimes boys, HAHAHA. We went into some competition together, you handle the 3D WALLMAGZ, while I did the speech. Sometimes, we went to debating competition together as a team.

When I see you at first, proudly telling your story of falling from the 2nd floor and ringing the break bell at your JHS, I never know that we will be connected this close. I thought you’re just one of those crazy girls I can’t be friend with, but it turns out that despite all the craziness you did, you have strong values that you keep deep inside yourself. The values that actually connects us.

We’re totally different poles. If others rely their friendship based on the similarities they have, we rely ours on the differences we have. A&B, photography and writing, all kinds of dramas and medical drama only, 3D wall and speech and many more!

This Tuesday, when I know I failed in the SBMPTN, you’re the first person I call, eventhough we said nothing. You just hearing me crying out loud and stayed there for a minute or so, before you hang up.

And today, when I fall again, you keep on motivating me and reminding me about our dream. The word that you keep repeating “Came on, finish our failures stock when we’re young”. The word that keeps on chanting inside my head today.

So Hay, please let me say this, THANK YOU FOR ALL THINGS YOU HAVE DONE TO ME, thank you. I do really owe you a lot, I really do. From all hours you spent to listen my thoughts on everything, my fears, my problems to all time you made a smile in my face bcs the silliness you did, to the times you taught me about life, to the times you spent in cheering me up, THANK YOU.

I am beyond blessed to know you and I am forever grateful. See you on the TOP, Syahira!

Hi, I’ll be Back, SOON!

Hi, I’ll be Back, SOON!

Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan disini, karena sudah lama sekali tidak menulis dan banyak sekali peristiwa yang terjadi di sekitar selama saya hiatus sementara ini. Dari mulai Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, kemenangan Real Madrid di Liga Spanyol dan Chelsea di Liga Inggris, turnamen tennis tanah liat Prancis Terbuka yang akan segera dimulai sampai kunjugan luar negeri pertama Presiden Amerika Serikat. Kalau boleh beralasan, kesibukan persiapan SBMPTN yang banyak menguras energi dan terutama emosi (hehehe) membuat saya hampir tidak punya waktu menulis. Ketika akhirnya ini semua agak mereda (belum tenang ya, soalnya saya belum dapat kampus) dan saya bisa nafas sejenak, saya jadi bingung mau nulis apa, karena banyaaaaaaakkkk banget yang pengen di share.

 

Tapi, sebelumnya saya mau bilang bahwa setelah ini di blog saya bakal mulai ada seri #TravelNotes dan #TravelTips. Walaupun sebenernya saya bukan traveller yang rajin banget travelling, tapi saya pikir bisa cerita tentang pengalaman saya bisa lumayan berguna buat orang lain, apalagi yang mau pergi ke tempat itu. Ide ini juga muncul dari kebiasaan saya sebelum travelling yang sering baca review orang lewat post di blog mereka. So far, sebenarnya bahan-bahan buat seri ini udah ada, tinggal nunggu saya mindahin dari notes ke laptop. So stay tune!

 

Buat yang nunggu seri “What it really takes to be a boarding school student”, tenang, bakal dilanjut kok. Tapi memang bertahap dan pelan-pelan. Boleh juga request topik tentang kehidupan asrama apa yang pengen ditanyain atau diceritain.

 

Pokoknya stay tune di blog yang InsyaAllah akan mulai dirawat dengan baik lagi sama saya.

Salam,

Salma R Zulfikar

 

What it takes to be an Assyifa Boarding School Student? (The Daily Routines)

What it takes to be an Assyifa Boarding School Student? (The Daily Routines)

Pas pertama kali bikin judul ini, kesannya saya sekolah dimana gitu, yang prestige, famous, etc. Well, sejujurnya saya juga nggak tahu kenapa saya tiba-tiba pengen nulis review tentang SMAIT As Syifa Boarding School, tempat saya 2,5 tahun ini hidup. Mungkin karena sekolah saya lagi buka penerimaan siswa/i baru, dan untuk pertama kalinya tahun ini (atleast selama saya sekolah di As Syifa) PMB dilakukan di putri, bukan putra. Vibes PMB yang menyebar (setiap sabtu, ketika KBM kita sibuk ngintip seberapa banyak mobil yang ada di lapangan belakang sekolah), lalu saya sadar tingginya animo untuk masuk As Syifa juga boarding lain, mungkin membuat saya tertarik untuk menulis ini.

Saya nulis ini sebenernya cuma biar pada nggak kaget pas masuk boarding, bener-bener tahu apa yang akan dihadapi ketika masuk boarding. Sedikit throwback, pas masuk SMP saya blank banget sama boarding life, jadi banyak kagetnya. Nah kekagetan ini (setidaknya dalam perspektif saya) salah satu pemicu utama homesick, penyakit klasik anak boarding.

Mungkin review saya kurang relevan karena saya masih ada di dalamnya, jadi nggak bisa membandingkan dunia di luar dan di As Syifa, dan saya nggak punya pengalaman sekolah di luar boarding, tapi saya bisa kasih real boarding life experience, atau lebih tepatnya real ISLAMIC boarding life experience.

Nah sekarang saya mulai bingung mau mulai dari mana. Banyak banget yang pengen saya ceritain soalnya. Tapi mari kita mulai dari keseharian alias rutinitas di As Syifa. Di As Syifa, semua bermula ketika pukul 03.30 (atau lebih kurang?? maaf saya bukan anak rohis, jadi nggak tahu detailnya) murattal berbunyi. Lalu 15 menit kemudian, akan ada pengumuman dari Rohis, kalau waktu keterlambatan menuju Aula Ad Duha tinggal 15 menit lagi. FYI, pengumuman akan dilakukan 3 kali, 15, 10 dan 5 menit lalu diakhiri dengan hitungan. Bagi yang datang setelah hitungan, ada hukumannya.

Terus ngapain di Aula?? Shalat qiyamullail dan shalat subuh berjamaah. QL dilakukan masing-masing kecuali di hari tertentu, 1 hari dalam seminggu ketika semua berjamaah. Setelah shalat subuh dan al ma’tsurat, bakal dilanjut sama tahfiz sampai jam 6. Setelah itu siap-siap ke sekolah.

Kecuali hari senin yang masuk jam 06.50, jam masuk di As Syifa pukul 06.55 tepat. Lagi-lagi akan dihitung sama Kedisiplinan, yang juga bakal nge-cek kamar asrama satu-satu, memastikan nggak ada yang bolos agenda pagi atau telat. Kalau telat? Nah selamat, maka bakal dapet bonus olahraga pagi, keliling lapangan sekolah 1 kali. Jam 06.55 itu nggak langsung masuk kelas, tapi ada agenda pagi yang bentuk kegiatannya macem-macem. Kalau Senin standart, Upacara Bendera. Selasa dan Kamis, pengondisian (semua murid baris perkamar, dan ketua kamar melaporkan siapa saja anggota kamar yang tidak hadir, dan apa alasannya). Rabu dan Jum’at, shalat dhuha (FYI di hari lain, shalat dhuha bisa dilakukan di jam istirahat). Dan sabtu, Apel. Biasanya ketika Apel ada pengumuman murid yang juara lomba eksternal, pengumuman dari BEM/MPK dll.

Setelah agenda pagi, masuk kelas, dan belajar sampai jam 09.55. Istirahat 20 menit dan masuk lagi sampai waktu Dzuhur. Ketika bel pulang sekolah, semua murid harus langsung balik ke asrama, dan shalat berjamaah di Aula.

Makan siang, lalu jam 13.30, bisa mulai aktifitas lagi. Ada yang ekskul, rapat BEM/MPK, ngerjain tugas di sekolah yang pake laptop (karena laptop kita nggak di simpan sendiri, ditaruh di loker khusus di sekolah), atau kadang ada stadium general di Aula. Kalau lagi kosong? Kesempatan istirahat, ngobrol sama temen di asrama, atau mempersiapkan hafalan untuk tahfiz setelah ashar.

Nah segitu dulu ya, nanti bakal bersambung di part-part selanjutnya, this one is going to be really long. Ahya, saya nulis ini bukan endorsment, nggak. Toh saya sudah 2 kali ngasih endorsment di video profil sekolah, hehehe (monggo di cek di youtube). Saya nulis ini karena saya pernah punya pengalaman nggak enak, masuk boarding tanpa tahu apa yang ada di dalam boarding. Jadi saya berharap anak-anak yang masuk boarding lainnya bener-bener punya gambaran utuh tentang kehidupan di asrama. Dan buat kalian yang mau kontak saya, nanya-nanya, feel free to send me an email to salmarafifah0@gmail.com atau line saya di salmaerzet, (but sorry for the slow respond in Line, I cant open my phone often since I am in boarding school).