Teruntuk Para (calon) Mantan,

Teruntuk Para (calon) Mantan,

Gue tau banget, pasti judul ini kontroversial, sekaligus bikin kepo. Hasil gue diajarin bikin judul sama Bu Sri, I learned a lot how to make people curious about what we write. Karena kalo judul nggak menarik, tulisan baguspun kadang nggak kebaca.

Sekarang gue lagi dirumah (LAGI) karena sebuah masalah nggak elite yang cenderung alay, keseleo. Baru aja obat alergi rhinitis habis, tiba-tiba ada hadiah lain dari Allah, keseleo sampe nggak bisa jalan setelah PE hari senin kemarin. Stress banget pasti, mau nyerah iya. Sampai hari pertama di rumah gue nangis sendirian, mikir, apalagi maksud Allah dengan semua ini? Kayak semacem di sinetron-sinetron gitulah. Disaat semangat hidup dan ritme mulai berjalan sebagaimana mestinya, di saat belajar udah firm lagi, tiba-tiba gue dianter ke rumah lagi. Mungkin sabar dan tawakkalnya kita diuji. Selain gue memang diingetin untuk sadar bahwa segimanapun kita usaha, ada takdir dari atas yang akan menentukan. The same goes for university.

Beberapa tahun lalu, gue sangat berambisi untuk ngambil undergrad di salah satu dari dua universitas ternama di Singapura. Gue bahkan sudah bikin time line kapan belajar untuk UEE, baca-baca review pengalaman-pengalaman yang ikut UEE  (University Entrance Examination) sampe keterima, bolak balik buka website dua kampus idaman itu. Gue sampe udah ngeliat course-nya, detail mata kuliah, hampir survei kesana jugak. Untuk akhirnya, di penghujung tahun ini, ketika dua uni top itu sudah buka admission untuk intake 2017-2018, gue nggak daftar.

Kecewa? Banget. Banyak teman gue yang mengingatkan, “Udah coba apply dulu aja, siapa tahu keterima. UEE pikirin belakangan lah”. Beberapa temen juga ngingetin impian gue dari masuk SMA, ngingetin juga setiap diary dan jurnal gue selalu ada nama dua uni ini. Tapi setelah pertimbangan sana sini, ngobrol sama orang tua, kayaknya memang belum waktunya gue pergi kesana. Fokus kejar negeri di dalam negeri dulu kayaknya.

Disini gue belajar bahwa, segimanapun kita keukeh maksain impian kita, mimpi kita, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Harus realistis, logis. Ketika masuk SMA dulu, gue langsung cari scholarship info, admission, course, dimana-mana. Tanpa tau high school life gue bakal kayak gimana. Kebayang kan anak kelas 10, baru masuk, udah mikirin uni. Bagusnya memang, gue one step ahead dari teman-teman gue, tapi juga sekaligus patah hati gue makin dalam, ketika nggak bisa dapat itu semua.

Tapi apa gue nyesel udah nyari-nyari course sampe mampus (karena selain di dua uni Singapura itu, gue juga nyari di berbagai uni top lain di Amerika, Eropa, Asia dan Australia)? Nggak. Seenggaknya dulu, sejak gue kelas 10, kalo gue down gue selalu bisa bangkit dengan mimpi-mimpi gue. Walaupun belum official mereka jadi mantan gue, karena gue belum lulus dan dapet uni disini, Terimakasih sudah jadi motivator andal yang pernah nyemangatin gue pas down, pas lagi capek-capeknya sama kegaiatan OSIS yang nggak ada habisnya, yang selalu sukses bikin melek sampe pagi untuk belajar, terimakasih untuk semuanya. Semoga kalau memang berjodoh, kita bakal ketemu, entah ketika master, summer school, PhD, post doct, confrence, atau apapun itu. Karena Allah pasti punya rencana yang indah untuk kita.

Terimakasih sudah membukakan jenadela dunia dan pemikiran ini, nambah pengetahuan. Terimakasih sudah jadi penyemangat, pengisi waktu liburan yang bermanfaat. Buat Semit and Islamic Studies Universidad Autonoma de Madrid, Public Policy and General Affairs Nanyang Technological University, International Affairs National University of Singapore, International Studies University of Melbourne, Oil and Gas Law Texas A&M dan semua mantan yang lain. Makasih seenggaknya kalian sudah pernah mewarnai buku-buku diary dan jurnalku.

Advertisements
A Glass Of Green Thai Tea

A Glass Of Green Thai Tea

Jadi hari ini, ceritanya saya lagi dirumah karena sakit dan yeah mungkin stress. But lets not get into details with such things, and just get into the main business. Since there’s no one at home (excluding my mbak) and i’ve got bored, I decided to cook a new recipe I’ve always been curious about, takoyaki and green thai tea.

Takoyaki itu resepnya simple, nggak aneh-aneh, dan kekurangan saya cuma satu, nggak ada takoyaki pan-nya dan saya nggak mau beli sebelum saya bisa masak takoyakinya dulu dengan baik dan benar. Pagi-pagi saya semangat buka resep yang udah di screen shot dari berbulan-bulan lalu (I actually planned to make it since a while ago), dan nyiapin bahannya. Pas saya masukin dan nyampur bahannya, saya mikir, “This one should be really simple and the price outside there is really really not worth it“. Udah belagu dan sok banget lah ya. Tapi apa yang terjadi? Takoyakinya gagal. Gagal total karena kebanyakan kaldu instan yang jadinya, Takoyaki saya keasinan sodara-sodara. Akhirnya nasib si Takoyaki berakhir di tempat sampah.

Sorenya, Ibu saya pulang dan nanyain mana Takoyakinya (She left when the Takoyaki was on its way), dan Ibu saya bilang coba aja bikin lagi, tapi jangan pake fry pan biasa, tapi coba pake pan untuk kue cubit. Berbekal semangat pengen makan takoyaki, akhirnya saya coba bikin lagi (kali ini adonannya setengahnya aja, antisipasi gagal), saya nyoba bikin lagi dan voila! Takoyaki saya sukses, dengan melted cheese yang enak sekaliii (oke gue mulai hiperbola).

And my cooking journey today hasn’t over yet, masih ada green thai tea yang mau saya bikin. Cerita si green thai tea ini udah lama banget, hampir setahun lalu pas sekeluarga liburan ke Thailand dan kita beli bubuk green thai tea ini di salah satu toko oleh-oleh besar dalam perjalanan Pattaya menuju Bangkok dengan, well, bahasa isyarat sama pramuniaganya. Dari sekian banyak merk yang ada, si pramuniaganya menyodorkan merk yang akhirnya nyokap beli dan nyokap sudah nanya-nanya tentang cara bikinnya (yang pada akhirnya gagal juga, karena sama-sama nggak ngerti).

Pas balik ke Jakarta, kita langsung bersemangat untuk nyoba karena sebelumnya instant thai tea yang dibeli bokap di Pattaya Floating Market rasanya enak banget, exactly kayak yang ada di restoran Thailand di Jakarta plus kita juga abis kecewa sama thai tea kemanisan yang dibeli di salah satu convenience store di Pattaya Beach Walk.

Karena itu teh bubuk, direbus dulu, baru abis itu dikasih condensed milk alias susu kental manis dan gula. Teorinya sederhana bangetlah, gampang. Kenyataannya setelah setaun berlalu, sampe itu merk yang exactly sama itu ada di salah satu hypermarket di Indonesia, belum ada orang rumah yang berhasil bikin green thai tea seenggaknya sama kayak yang ada di restoran thailand. Dan hari inipun, setelah percobaan kesekian kali, gue tetap gagal bikin green thai tea yang enak.

Tapi, at the end gue belajar tentang konsistensi dan ketekunan. Juga kerja keras, semangat. Dalam hidup, ada hal-hal yang ketika diusahakan langsung jadi (kayak gue bikin cheese cake) tapi pas dicoba lagi gagal. Ada hal yang pertamanya gagal, pas dicoba lagi berhasil. Ada juga hal-hal yang dicoba berkali-kali, dan gagalnya juga berkali-kali (seperti kisah gue dan bubuk green thai tea yang sekarang sudah kembali lagi ke tempat air tight-nya itu).

Terus kita harus ngapain? Nyerah? Ngebiarin gitu aja? atau bilang, ya emang bakat gue nggak disana kali, gagal terus? Nggak. Hidup ya nggak asik kalo nggak ada usahanya, nggak ada sacrificial nya, nggak ada gagalnya. Usaha aja lagi, nothing to lose, karena toh kalo gagal lagi, nggak berarti kita nggak dapat apa-apa kan? Yang gue percaya sih, setiap failure itu ngasih tau gue lagi, salah gue dimana, kekurangan gue dimana, yang mungkin belum gue tau dari failure(s) sebelumnya. Jadi makin banyak kita gagal, makin banyak juga pelajaran yang kita dapet.

Gitu aja sih dulu, gue juga nggak tau ini blog post ada yang baca apa nggak, dan yah, maafkan bahasa gue ya. Nyampur, berantakan. Gue lagi belajar nulis pakek bahasa Indonesia full sih, tapi ya apa daya, masih banyak italicnya, hehehe. Later, mungkin gue akan bahas tentang bahasa, tentang boarding life, atau apapun daily life gue. See you later!