What it takes to be an Assyifa Boarding School Student? (The Daily Routines)

What it takes to be an Assyifa Boarding School Student? (The Daily Routines)

Pas pertama kali bikin judul ini, kesannya saya sekolah dimana gitu, yang prestige, famous, etc. Well, sejujurnya saya juga nggak tahu kenapa saya tiba-tiba pengen nulis review tentang SMAIT As Syifa Boarding School, tempat saya 2,5 tahun ini hidup. Mungkin karena sekolah saya lagi buka penerimaan siswa/i baru, dan untuk pertama kalinya tahun ini (atleast selama saya sekolah di As Syifa) PMB dilakukan di putri, bukan putra. Vibes PMB yang menyebar (setiap sabtu, ketika KBM kita sibuk ngintip seberapa banyak mobil yang ada di lapangan belakang sekolah), lalu saya sadar tingginya animo untuk masuk As Syifa juga boarding lain, mungkin membuat saya tertarik untuk menulis ini.

Saya nulis ini sebenernya cuma biar pada nggak kaget pas masuk boarding, bener-bener tahu apa yang akan dihadapi ketika masuk boarding. Sedikit throwback, pas masuk SMP saya blank banget sama boarding life, jadi banyak kagetnya. Nah kekagetan ini (setidaknya dalam perspektif saya) salah satu pemicu utama homesick, penyakit klasik anak boarding.

Mungkin review saya kurang relevan karena saya masih ada di dalamnya, jadi nggak bisa membandingkan dunia di luar dan di As Syifa, dan saya nggak punya pengalaman sekolah di luar boarding, tapi saya bisa kasih real boarding life experience, atau lebih tepatnya real ISLAMIC boarding life experience.

Nah sekarang saya mulai bingung mau mulai dari mana. Banyak banget yang pengen saya ceritain soalnya. Tapi mari kita mulai dari keseharian alias rutinitas di As Syifa. Di As Syifa, semua bermula ketika pukul 03.30 (atau lebih kurang?? maaf saya bukan anak rohis, jadi nggak tahu detailnya) murattal berbunyi. Lalu 15 menit kemudian, akan ada pengumuman dari Rohis, kalau waktu keterlambatan menuju Aula Ad Duha tinggal 15 menit lagi. FYI, pengumuman akan dilakukan 3 kali, 15, 10 dan 5 menit lalu diakhiri dengan hitungan. Bagi yang datang setelah hitungan, ada hukumannya.

Terus ngapain di Aula?? Shalat qiyamullail dan shalat subuh berjamaah. QL dilakukan masing-masing kecuali di hari tertentu, 1 hari dalam seminggu ketika semua berjamaah. Setelah shalat subuh dan al ma’tsurat, bakal dilanjut sama tahfiz sampai jam 6. Setelah itu siap-siap ke sekolah.

Kecuali hari senin yang masuk jam 06.50, jam masuk di As Syifa pukul 06.55 tepat. Lagi-lagi akan dihitung sama Kedisiplinan, yang juga bakal nge-cek kamar asrama satu-satu, memastikan nggak ada yang bolos agenda pagi atau telat. Kalau telat? Nah selamat, maka bakal dapet bonus olahraga pagi, keliling lapangan sekolah 1 kali. Jam 06.55 itu nggak langsung masuk kelas, tapi ada agenda pagi yang bentuk kegiatannya macem-macem. Kalau Senin standart, Upacara Bendera. Selasa dan Kamis, pengondisian (semua murid baris perkamar, dan ketua kamar melaporkan siapa saja anggota kamar yang tidak hadir, dan apa alasannya). Rabu dan Jum’at, shalat dhuha (FYI di hari lain, shalat dhuha bisa dilakukan di jam istirahat). Dan sabtu, Apel. Biasanya ketika Apel ada pengumuman murid yang juara lomba eksternal, pengumuman dari BEM/MPK dll.

Setelah agenda pagi, masuk kelas, dan belajar sampai jam 09.55. Istirahat 20 menit dan masuk lagi sampai waktu Dzuhur. Ketika bel pulang sekolah, semua murid harus langsung balik ke asrama, dan shalat berjamaah di Aula.

Makan siang, lalu jam 13.30, bisa mulai aktifitas lagi. Ada yang ekskul, rapat BEM/MPK, ngerjain tugas di sekolah yang pake laptop (karena laptop kita nggak di simpan sendiri, ditaruh di loker khusus di sekolah), atau kadang ada stadium general di Aula. Kalau lagi kosong? Kesempatan istirahat, ngobrol sama temen di asrama, atau mempersiapkan hafalan untuk tahfiz setelah ashar.

Nah segitu dulu ya, nanti bakal bersambung di part-part selanjutnya, this one is going to be really long. Ahya, saya nulis ini bukan endorsment, nggak. Toh saya sudah 2 kali ngasih endorsment di video profil sekolah, hehehe (monggo di cek di youtube). Saya nulis ini karena saya pernah punya pengalaman nggak enak, masuk boarding tanpa tahu apa yang ada di dalam boarding. Jadi saya berharap anak-anak yang masuk boarding lainnya bener-bener punya gambaran utuh tentang kehidupan di asrama. Dan buat kalian yang mau kontak saya, nanya-nanya, feel free to send me an email to salmarafifah0@gmail.com atau line saya di salmaerzet, (but sorry for the slow respond in Line, I cant open my phone often since I am in boarding school).

Orizuka Replied my Email!! (plus a bit review of The Chronicles of Audy)

Orizuka Replied my Email!! (plus a bit review of The Chronicles of Audy)

Jadi beberapa waktu lalu, ketika saya sedang di rumah setelah thypus, dan lagi kelimpungan bikin artikel untuk lomba di salah satu PTN, tiba-tiba ada nama Orizuka di inbox email saya. I was very surprised back then, nggak pernah nyangka bakal di jawab emailnya sama Kak Orizuka.

Saya juga kirim email sudah agak lama, jadi saya juga nggak berharap email saya dibalas. Pokoknya yang penting saya sudah berterimakasih untuk diciptakannya Rex Rashad, dalam seri The Chronicles of Audy.

Jujur saja, saya bukan tipe orang yang banyak koleksi novel fiksi lokal. Awalnya pun nggak tertarik sama buku ini. Sampai ketika tante saya masuk rumah sakit, saya nyari buku iseng untuk mengusir kebosanan, memutuskan beli 2 seri pertama buku ini (yang memang sudah lama heboh di dorm saya). Surprise! Saya suka banget bukunya, suka banget.

Bercerita tentang 4 bersaudara, Regan, Romeo, Rex dan Rafael yang ‘bertemu’ dengan Audy Nagisa, mahasiswa tingkat akhir Hubungan Internasional UGM yang terpaksa bekerja karena orangtuanya terlilit hutang. Mungkin orang bakal nebak ini bakal jadi kisah se-klise FTV, pembantu jatuh cinta sama majikan, nggak, ini bukan tentang itu. Memang akhirnya ada kisah cinta Audy dengan salah satu dari mereka, but believe me, bukan itu yang utama. Saya suka buku ini juga bukan karena Regan atau Romeo, tapi karena Rex. Karena dalam diri Rex, I find a piece of me. Rasanya jadi orang yang terasing, rasanya tidak bisa difahami dan yang paling dalam, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.

Kebanyakan buku ketika membahas tentang nerd, si nerd ini akan berubah ketika mulai jatuh cinta. Tapi Rex nggak, dia mencintai dengan caranya, yang bahkan sulit untuk dimengerti. I even found my self crying when it comes to those part where Rex explains his true feelings, his loneliness, that he wants people to understand him rather than judging his way of thinking. 

So yeah, big applause untuk kak Orizuka! Sekali lagi, Terimakasih banyak sudah menciptakan Rex. Thank you for not making me feeling alone as that kind of teenager.

Those Olympics and I

Those Olympics and I

Banyak orang yang menuliskan kesuksesan-kesuksesan terbesar dalam hidup mereka. Entah dalam post-post di blog, buku, personal website, atau mungkin autobiografi. Tapi nggak banyak yang menuliskan detail kegagalan-kegagalan mereka, kalaupun ada lebih banyak yang menuliskannya ketika akhirnya sudah sukses. Terinspirasi dari beberapa artikel yang saya baca, ada beberapa orang yang kemudian membuat failures CV, karena bagi mereka, CV mereka yang keren itu bisa ada karena failures CV itu.

Ini kemudian membuat saya tertarik untuk menuliskan hal serupa, tapi dalam konteks dan format yang agak berbeda. Secara saya masih remaja 16 mau 17 tahun, pengalaman saya juga nggak banyak-banyak amat, masih bocah kalau kata orang mah.

Simply, saya mau cerita tentang olimpiade atau lomba akademik. Percaya atau enggak, sejak SD (OSN tingkat kelurahan jaman SD nggak masuk itungan lah ya) sampai mau lulus SMA ini, saya belum pernah ngerasain yang namanya menang lomba akademik. Yang olimpiade gitulah, belum pernah sama sekali. Dari yang saya niat banget ngusahainnya, sampe ikutan pre competition intensive training berhari-hari, sampe yang saya udah hopeless bahkan sebelum lomba mulai, belum pernah ada satupun yang bawa trofi ke rumah. Ini berbanding terbalik banget sama lomba-lomba public speaking yang Alhamdulillahnya beberapa kali udah nganter trofi ke rumah.

Kadang kecewa, karena kok bisa nggak dapet terus sih. Malu juga udah buang-buang uang sekolah buat daftar. Walaupun saya tetep seneng karena dapet sertifikat :). Nah, pada salah satu lomba terakhir yang saya ikutin, yang saya udah belajar sampe dini hari, dan hasilnya ya saya nggak menang juga, akhirnya saya bisa lebih santai. Bukan karena saya  nggak mengharapkan lomba itu, bukan juga karena saya nggak bisa jawab soalnya, tapi mungkin karena akhirnya saya ada di satu titik kepasrahan, nothing to lose dalam arti yang bener.

Dan akhirnya saya pikir-pikir, perjalanan lomba public speaking saya juga nggak mulus kok. Saya pernah grogi gara-gara Ibu saya nonton, butuh waktu hampir 5 tahun sampai akhirnya saya mengizinkan Ibu saya atau orang yang saya kenal untuk nonton saya lomba. Sekarang, disaat ketika bahkan debat aja saya bisa cengengesan dan senyum-senyum santai disaat lawan berapi-api mendebat argumen saya, ini adalah proses yang panjang. Jadi wajar aja sebenernya lomba akademik saya belum pernah dapet, karena walaupun frekuensinya hampir sama seringnya dengan lomba non akademik, tapi rentang waktunya belum sepanjang non akademik.

Satu lagi, pas saya lomba di salah satu universitas, ketika mengumumkan yang lolos ke babak selanjutnya, kakak panitianya bilang “Setiap orang punya jatah kegagalan yang sama dalam hidupnya. Jadi adek-adek, lebih baik kita habiskan jatah kegagalan kita ketika kita masih muda”. Saya sejak itu selalu menanamkan kata-kata ini ke diri saya sendiri setiap ada kemenangan yang tertunda. Mungkin Allah masih ingin saya fokus ke usaha, bukan hasil. Karena, Dia selalu tahu yang terbaik bukan?

Teruntuk Para (calon) Mantan,

Teruntuk Para (calon) Mantan,

Gue tau banget, pasti judul ini kontroversial, sekaligus bikin kepo. Hasil gue diajarin bikin judul sama Bu Sri, I learned a lot how to make people curious about what we write. Karena kalo judul nggak menarik, tulisan baguspun kadang nggak kebaca.

Sekarang gue lagi dirumah (LAGI) karena sebuah masalah nggak elite yang cenderung alay, keseleo. Baru aja obat alergi rhinitis habis, tiba-tiba ada hadiah lain dari Allah, keseleo sampe nggak bisa jalan setelah PE hari senin kemarin. Stress banget pasti, mau nyerah iya. Sampai hari pertama di rumah gue nangis sendirian, mikir, apalagi maksud Allah dengan semua ini? Kayak semacem di sinetron-sinetron gitulah. Disaat semangat hidup dan ritme mulai berjalan sebagaimana mestinya, di saat belajar udah firm lagi, tiba-tiba gue dianter ke rumah lagi. Mungkin sabar dan tawakkalnya kita diuji. Selain gue memang diingetin untuk sadar bahwa segimanapun kita usaha, ada takdir dari atas yang akan menentukan. The same goes for university.

Beberapa tahun lalu, gue sangat berambisi untuk ngambil undergrad di salah satu dari dua universitas ternama di Singapura. Gue bahkan sudah bikin time line kapan belajar untuk UEE, baca-baca review pengalaman-pengalaman yang ikut UEE  (University Entrance Examination) sampe keterima, bolak balik buka website dua kampus idaman itu. Gue sampe udah ngeliat course-nya, detail mata kuliah, hampir survei kesana jugak. Untuk akhirnya, di penghujung tahun ini, ketika dua uni top itu sudah buka admission untuk intake 2017-2018, gue nggak daftar.

Kecewa? Banget. Banyak teman gue yang mengingatkan, “Udah coba apply dulu aja, siapa tahu keterima. UEE pikirin belakangan lah”. Beberapa temen juga ngingetin impian gue dari masuk SMA, ngingetin juga setiap diary dan jurnal gue selalu ada nama dua uni ini. Tapi setelah pertimbangan sana sini, ngobrol sama orang tua, kayaknya memang belum waktunya gue pergi kesana. Fokus kejar negeri di dalam negeri dulu kayaknya.

Disini gue belajar bahwa, segimanapun kita keukeh maksain impian kita, mimpi kita, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Harus realistis, logis. Ketika masuk SMA dulu, gue langsung cari scholarship info, admission, course, dimana-mana. Tanpa tau high school life gue bakal kayak gimana. Kebayang kan anak kelas 10, baru masuk, udah mikirin uni. Bagusnya memang, gue one step ahead dari teman-teman gue, tapi juga sekaligus patah hati gue makin dalam, ketika nggak bisa dapat itu semua.

Tapi apa gue nyesel udah nyari-nyari course sampe mampus (karena selain di dua uni Singapura itu, gue juga nyari di berbagai uni top lain di Amerika, Eropa, Asia dan Australia)? Nggak. Seenggaknya dulu, sejak gue kelas 10, kalo gue down gue selalu bisa bangkit dengan mimpi-mimpi gue. Walaupun belum official mereka jadi mantan gue, karena gue belum lulus dan dapet uni disini, Terimakasih sudah jadi motivator andal yang pernah nyemangatin gue pas down, pas lagi capek-capeknya sama kegaiatan OSIS yang nggak ada habisnya, yang selalu sukses bikin melek sampe pagi untuk belajar, terimakasih untuk semuanya. Semoga kalau memang berjodoh, kita bakal ketemu, entah ketika master, summer school, PhD, post doct, confrence, atau apapun itu. Karena Allah pasti punya rencana yang indah untuk kita.

Terimakasih sudah membukakan jenadela dunia dan pemikiran ini, nambah pengetahuan. Terimakasih sudah jadi penyemangat, pengisi waktu liburan yang bermanfaat. Buat Semit and Islamic Studies Universidad Autonoma de Madrid, Public Policy and General Affairs Nanyang Technological University, International Affairs National University of Singapore, International Studies University of Melbourne, Oil and Gas Law Texas A&M dan semua mantan yang lain. Makasih seenggaknya kalian sudah pernah mewarnai buku-buku diary dan jurnalku.

A Glass Of Green Thai Tea

A Glass Of Green Thai Tea

Jadi hari ini, ceritanya saya lagi dirumah karena sakit dan yeah mungkin stress. But lets not get into details with such things, and just get into the main business. Since there’s no one at home (excluding my mbak) and i’ve got bored, I decided to cook a new recipe I’ve always been curious about, takoyaki and green thai tea.

Takoyaki itu resepnya simple, nggak aneh-aneh, dan kekurangan saya cuma satu, nggak ada takoyaki pan-nya dan saya nggak mau beli sebelum saya bisa masak takoyakinya dulu dengan baik dan benar. Pagi-pagi saya semangat buka resep yang udah di screen shot dari berbulan-bulan lalu (I actually planned to make it since a while ago), dan nyiapin bahannya. Pas saya masukin dan nyampur bahannya, saya mikir, “This one should be really simple and the price outside there is really really not worth it“. Udah belagu dan sok banget lah ya. Tapi apa yang terjadi? Takoyakinya gagal. Gagal total karena kebanyakan kaldu instan yang jadinya, Takoyaki saya keasinan sodara-sodara. Akhirnya nasib si Takoyaki berakhir di tempat sampah.

Sorenya, Ibu saya pulang dan nanyain mana Takoyakinya (She left when the Takoyaki was on its way), dan Ibu saya bilang coba aja bikin lagi, tapi jangan pake fry pan biasa, tapi coba pake pan untuk kue cubit. Berbekal semangat pengen makan takoyaki, akhirnya saya coba bikin lagi (kali ini adonannya setengahnya aja, antisipasi gagal), saya nyoba bikin lagi dan voila! Takoyaki saya sukses, dengan melted cheese yang enak sekaliii (oke gue mulai hiperbola).

And my cooking journey today hasn’t over yet, masih ada green thai tea yang mau saya bikin. Cerita si green thai tea ini udah lama banget, hampir setahun lalu pas sekeluarga liburan ke Thailand dan kita beli bubuk green thai tea ini di salah satu toko oleh-oleh besar dalam perjalanan Pattaya menuju Bangkok dengan, well, bahasa isyarat sama pramuniaganya. Dari sekian banyak merk yang ada, si pramuniaganya menyodorkan merk yang akhirnya nyokap beli dan nyokap sudah nanya-nanya tentang cara bikinnya (yang pada akhirnya gagal juga, karena sama-sama nggak ngerti).

Pas balik ke Jakarta, kita langsung bersemangat untuk nyoba karena sebelumnya instant thai tea yang dibeli bokap di Pattaya Floating Market rasanya enak banget, exactly kayak yang ada di restoran Thailand di Jakarta plus kita juga abis kecewa sama thai tea kemanisan yang dibeli di salah satu convenience store di Pattaya Beach Walk.

Karena itu teh bubuk, direbus dulu, baru abis itu dikasih condensed milk alias susu kental manis dan gula. Teorinya sederhana bangetlah, gampang. Kenyataannya setelah setaun berlalu, sampe itu merk yang exactly sama itu ada di salah satu hypermarket di Indonesia, belum ada orang rumah yang berhasil bikin green thai tea seenggaknya sama kayak yang ada di restoran thailand. Dan hari inipun, setelah percobaan kesekian kali, gue tetap gagal bikin green thai tea yang enak.

Tapi, at the end gue belajar tentang konsistensi dan ketekunan. Juga kerja keras, semangat. Dalam hidup, ada hal-hal yang ketika diusahakan langsung jadi (kayak gue bikin cheese cake) tapi pas dicoba lagi gagal. Ada hal yang pertamanya gagal, pas dicoba lagi berhasil. Ada juga hal-hal yang dicoba berkali-kali, dan gagalnya juga berkali-kali (seperti kisah gue dan bubuk green thai tea yang sekarang sudah kembali lagi ke tempat air tight-nya itu).

Terus kita harus ngapain? Nyerah? Ngebiarin gitu aja? atau bilang, ya emang bakat gue nggak disana kali, gagal terus? Nggak. Hidup ya nggak asik kalo nggak ada usahanya, nggak ada sacrificial nya, nggak ada gagalnya. Usaha aja lagi, nothing to lose, karena toh kalo gagal lagi, nggak berarti kita nggak dapat apa-apa kan? Yang gue percaya sih, setiap failure itu ngasih tau gue lagi, salah gue dimana, kekurangan gue dimana, yang mungkin belum gue tau dari failure(s) sebelumnya. Jadi makin banyak kita gagal, makin banyak juga pelajaran yang kita dapet.

Gitu aja sih dulu, gue juga nggak tau ini blog post ada yang baca apa nggak, dan yah, maafkan bahasa gue ya. Nyampur, berantakan. Gue lagi belajar nulis pakek bahasa Indonesia full sih, tapi ya apa daya, masih banyak italicnya, hehehe. Later, mungkin gue akan bahas tentang bahasa, tentang boarding life, atau apapun daily life gue. See you later!