Mengapa Akhirnya Galau? On Choosing College and Major

Mengapa Akhirnya Galau? On Choosing College and Major

Akhir-akhir ini aku sedang dilanda kegalauan dan tentu saja bukan kegalauan tentang laki-laki seperti yang banyak remaja lain rasakan. Atau mahasiswi lain rasakan. Kurang lebih sudah sebulan semenjak statusku resmi menjadi mahasiswi melepaskan status terkatung-katung antara pelajar SMA dan Mahasiswi.

Aku bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya aku di takdirkan untuk menuntut ilmu di kota ini, di Universitas ini. Di kota kecil di ujung pulau jawa dan universitas negeri yang cukup bergengsi di Indonesia.

Akupun kemudian beruntung bahwa aku dapat menuntut ilmu di jurusan yang telah lama aku idamkan semenjak SD, Ilmu Hubungan Internasional. Sebuah bidang ilmu yang menjadi kegemaranku sehingga ketika banyak yang bertanya aku ingin jurusan apa, aku selalu mantap menjawab, HI.

Lantas kemudian apa yang membuatku galau? Jurusan. Yes you read that right, major. Kalau kalian bingung, aku juga. Tak pernah sebelumnya terbersit dalam pikiranku, bahkan dalam mimpi sekalipun, aku akan meragukan jurusan ini.

Aku mencintai berita, mengobrol tentang isu-isu terkini kemudian berdebat tentang apa yang seharusnya dilakukan bahkan sebelum aku lulus bangku sekolah dasar. Semua orang yang mengenalku dengan baik (berarti tidak termasuk saudara-saudara jauh yang terus berekspektasi aku akan jadi dokter atau akuntan) pasti tahu seberapa cocok aku dengan jurusan ini.

Aku mencintai ritme kelasku, bagaimana diskusi dan analisa saling beradu, bagaimana kami berebut menyampaikan pendapat dan pandangan tentang apa yang dosen kami sampaikan. Inilah yang selama ini aku impikan. Selama SMA, aku selalu kesal ketika diskusi dan tak ada yang kemudian mendebat argumenku atau kadang pertanyaan yang membuat teman-teman kelasku melirik sinis, anak ini nanya apaan sih, mungkin begitu pikir mereka.

Demi Allah, ini semua seperti mimpi. Too good to be true. Aku kemudian berfikir dan bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku benar-benar ingin melakukan ini seumur hidupku? Apakah aku benar-benar akan mendedikasikan hidupku untuk ini?”

Aku mencintai kemanusiaan, mencintai perdamaian, mencintai dunia akademisi. Aku memutuskan memilih Ilmu Hubungan Internasional selain karena aku mencintai dunia ini, aku ingin mengabdikan hidupku untuk kemanusiaan, aku ingin melihat lebih banyak lagi perempuan dan anak-anak yang bisa hidup tenang, bukan di daerah konflik. Aku ingin melihat lebih banyak lagi perempuan yang mampu meraih pendidikan tingginya, berkarya untuk masyarakat. Aku ingin melihat warga perbatasan bisa hidup makmur, karena batas-batas negara di hargai, tak lagi harus menggantungkan hidup pada penyelundupan dan tindakan illegal lainnya. Aku ingin melihat korban perdangangan manusia mendapatkan keadilannya, dilindungi dan dicegah untuk kembali terjadi. Aku ingin membantu memfasilitasi itu semua, maka aku memilih jurusan ini.

Harusnya aku tak akan pernah gamang. Harusnya aku yakin. Harusnya aku hanya tinggal menikmati anugerah yang luar biasa besar ini, menjadi bagian dari sedikit anak Indonesia yang mampu menikmati rasa berkuliah di jurusan impian. Jurusan yang telah terpatri di hatiku semenjak lama.

Bahkan rencana dan peta masa depan sudah jelas terpampang ketika aku memilih jurusan ini. Aku tahu kemana kakiku harus melangkah ketika aku menyelsaikan pendidikan ini nantinya. Apa cita-citaku, apa langkah-langkahku. Pencapaian apa yang kemudian aku inginkan di waktu-waktu tertentu. Semuanya sudah jelas.

Di negeri ini, ketika bahkan kebanyan generasi mudanya tak tahu apa yang mereka inginkan ketika memasuki universitas. Sekedar memenuhi tuntutan sosial untuk berkuliah. Memilih jurusan yang mereka pikir prestigious, keren atau melanjutkan tradisi keluarga bahkan karena celetukan singkat dari teman, saudara, kadang pula tetangga. Aku seharusnya bersyukur pada Allah karena aku punya informasi dan tujuan yang jelas sebelum memasuki dunia kuliah.

Aku kemudian mencoba berfikir, apa lagi yang membuat aku tidak kerasan? Lingkungan jelas out of option, karena aku mulai mencintai Malang. Meski dia tak sebising Jakarta, meski dia tak sedingin Bogor, meski dia tak seramah Bandung. Mungkin karena OSPEK atau apapun mereka menyebutnya. Mungkin juga rasa inferioritas yang mulai menghantui karena bertemu dengan orang-orang luar biasa dari seluruh Indonesia. Mungkin. Mungkin juga karena bingung menentukan kegiatan apa yang akan kupilih disamping kegiatan akademik.

Tapi baiklah, analisa kegalauanku cukup sampai disitu. Yang ingin aku sampaikan pada kalian, adik-adik yang luar biasa, adalah bahwa memilih jurusan dan universitas adalah suatu hal yang besar dan beresiko. Kalian akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang nantinya akan kalian jalani. Belum lagi jika kalian harus menerima penolakan-penolakan dari berbagai tempat, bagaimana kemudian kalian akan menjaga mental dan kepercayaan diri kalian ketika menghadapi penolakan. Ini penting, karena kehidupan paska UN SMA kalian tidak sesederhana liburan panjang 4 bulan sebelum memasuki jenjang kehidupan berikutnya.

Pre-College Life

  • Memilih Universitas dan Jurusan

Memilih ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak pernah akan menjadi hal yang mudah dan sederhana. Ada banyak pertimbangan seperti keinginan orang tua, passion dan minat kalian, lokasi universitas dan yang paling penting, kemampuan akademik dan passing grade/ranking jurusan dan universitas yang kalian inginkan.

Yang terakhir sebenarnya agak menyakitkan, karena pada faktanya banyak jurusan dengan passing grade tinggi yang akhirnya tidak diisi oleh mereka yang benar-benar punya minat di bidang itu. Hanya karena gengsi, kemudian memilih jurusan itu.

Padahal, untuk bertahan di sebuah jurusan pastinya dibutuhkan minat dan ketertarikan pada jurusan itu. Sebagai contoh, kamu ingin masuk Sejarah atau Sosiologi, tapi karena gengsi yang kurang akhirnya kamu memilih masuk HI. Walaupun kamu tidak suka public speaking, tidak suka berbicara tentang isu-isu Internasional. Dan hal ini, aku temukan secara nyata, tidak satu dua, tapi BANYAK.

Selain itu, banyak pula misconception (apasih bahasa Indo-nya? Mispersepsi?) tentang beberapa jurusan. Seperti hukum misalnya. Banyak yang berfikir ketika kamu masuk Hukum, kamu harus jago berbicara dan berdebat. Sure, itu benar. Tapi bukan asal bicara dan berdebat, tapi berdebat dengan menggunakkan logika Hukum, berdebat dengan argumentasi yang diterima secara Hukum. Remember, Law School doesn’t teach you about Law, they teach you to think like a Lawyer, Judge and etc.

Maka saranku sebelum memilih jurusan tolong pertimbangkan baik-baik. Riset, banyak bertanya, baca blog orang yang berkuliah di jurusan itu, lihat apakah prospek kedepannya cocok dengan kalian. Pertimbangkan juga seberapa berat kuliahnya, tugas-tugasnya, sanggup gak kalian bertahan dengan itu semua. Jangan hanya berfikir enak-enaknya saja, kayak HI bisa jalan-jalan keliling dunia gratis (ini mitos banget asli, karena banyaknya kalaupun keluar negeri ya kerja doang, jadi susah menikmati tempatnya. Kalau jadi diplomat juga gajinya mepet, saingan masuk Kemlu juga susah, gabisa banyak-banyak jalan, kalian itu di gaji sama pajak rakyat loh!). Pastikan bahwa kalian bener-bener suka dan mampu bertahan.

Setelah yakin sama jurusannya, tahap selanjutnya adalah memilih Universitas. Kalau aku, kemarin memilih UI karena beberapa faktor. Deket dari rumah, kondisi kesehatan dan amanat kakekku.

Untuk kalian yang orangtuanya ada di almamater tertentu, seperti UI, UGM dan ITB biasanya orangtua kalian punya pride dan legacy yang ingin dilanjutkan ke anak-anak atau cucunya. Walau gak semuanya gitusih, nenekku ga minta aku masuk UGM, hehehe. Gimana menghadapi ini? Kalau aku, selagi aku mampu akan aku usahakan. Itung-itung birrul walidain.

Selain itu ada ranking dan akreditasi Universitas yang kadang jadi pertimbangan. Ranking ini gak berarti segalanya, tapi kemudian bisa memudahkan kalian untuk melanjutkan kuliah pada jenjang selanjutnya.

Pertimbangan dosen. Pas milih UI, aku pengen karena dosennya banyak alumni LSE, which is my dream post grad school. Jadi aku bisa dapet pengalaman dan bantuan buat apply S2-ku, waktu itu sih mikirnya gitu. Jangan lupa juga riset, tanya ke senior yang udah berkuliah disana, gimana tipe dosennya? Secara umum cocok gak sama kepribadian kamu? Karena di kampus tertentu (off the record lah ya) ada dosen yang bisa ngasih nilai kamu jelek karena kamu nggak bicara pake kromo inggil dan kamu dianggap kurang sopan.

Yang gak kalah penting adalah aktifitas ekstrakulikuler. Misalnya kalian mau aktif di kegiatan MUN (Model United Nations) atau misalnya MAPALA, carilah kampus yang bisa memfasilitasi kalian dalam kegiatan-kegiatan itu. Karena kehidupan kampus kan gak cuma akademik, tapi juga kalian bakal berproses agar keluar dari situ bukan hanya kemampuan akademik kalian yang baik, tapi juga kalian bisa bener-bener jadi manusia yang berdiri sendiri dan bertanggungjawab.

Terakhir, lingkungan. Bagaimana lingkungan kampusnya. Borju gak? Pergaulannya gimana? Apakah orangtua kalian akan merasa aman meninggalkan kalian disana? Kalaupun borju dan kalian masih pengen kuliah disana, gimana ya kira-kira bertahannya?

Khusus yang sudah yakin memilih PTLN, pertimbangkan faktor beasiswa, lingkungan, asrama dan adaptasi kalian. Pertimbangkan juga bagaimana networking kalian kedepannya kalau masih ingin berkarier di Indonesia. Walau kemudian berkuliah di negeri orang akan memberikan pengalaman pendewasaan diri yang lebih (karena challenge(s) yang akan kalian hadapi juga lebih besar), meski kemungkinan besar kalian akan melalui masa perkuliahan yang relatif lebih lama daripada teman-teman kalian.

Buat anak IPA yang mau nyebrang ke IPS, let me ask you one thing, seberapa kalian yakin dengan IPS? Karena jangan dipikir kalian mau bebas dari ngitung terus kalian milih IPS. IPS itu dunia yang serba relatif, aku pernah disuruh baca makalah 16 halaman dengan tulisan super kecil dalam bahasa inggris yang njlimet untuk dapat kesimpulan bahwa gaada definisi pasti tentang HI, bahwa definisi itu harus kita dapatkan sendiri dalam perjalanan keilmuan kita nanti. Siap kalian deal dengan hal-hal kayak gitu? Ketidakpastian tingkat akut, hehehe. Baca dan nyari jurnal berlembar-lembar, baca text book tulisan kecil-kecil at least 1 bab per mata kuliah perminggu? Ini minimal loh ya, minimal.

Barulah setelah mempertimbangan semua faktor diatas, kalian bisa menentukan pilihan tujuan perkuliahan kalian.

  • Menghadapi Penolakan-Penolakan

Memilih jurusan dan universitas impian memang ribet, tapi yang lebih ribet lagi adalah ketika kalian harus memilih pilihan kedua, ketiga. Membuat Plan A, Plan B, Plan C, Plan D, Plan E dst. Sekarang kalian pasti bakal bilang, “Apaansih kak, pesimis amat. Sampe Plan E segala? Pesimis amat. Doa aja dulu biar keterima SNMPTN”.

Well, terserah sih kalau kalian mau kayak gitu. Tapi yang harus aku bilang ke kalian, untuk kebaikan kondisi psikis kalian kedepannya juga, hapus SNMPTN dari bayangan. Kenapa? Karena kita gak pernah tau apasih kriteria spesifik yang menentukan kelulusan SNMPTN. Jadi jangan pernah mengharapkan SNMPTN, pokoknya abis daftar, lupain ajadeh kalian pernah daftar. Pikirin aja SBMPTN, FOKUS!

Tapi meskipun kayak gitu, kalian juga mesti mikirin kira-kira mau naruh apa di SNMPTN. Tentunya kalau kalian gak punya kriteria spesifik universitas atau memang universitas yang kalian inginkan itu termasuk yang relatif bisa ditembus masuk lewat SNM, pilihlah universitas dengan proboabilitas masuk yang tinggi.

Kalau ternyata dream school kalian termasuk susah ditembus lewat SNM, tanyakan ke diri kalian sendiri, Apakah kalian nantinya gak akan menyesal gak pernah memperjuangkan untuk mimpi kalian? Kalau aku, aku memutuskan memperjuangkan jaket kuning sampe kesempatan terakhir, hehehe.

Yang harus aku bilang, walaupun aku tau aku hampir gak mungkin dapet SNM, di tolak SNM itu tetep nyesek. Tetep menyedihkan. Tetep menyakitkan. I thought I was ready, tapi pas buka pengumuman dan baca “Maaf anda dinyatakan tidak lulus dalam seleksi SNMPTN 2017”, Coyyyyy itu rasanya nyesek banget man. Nyesek!

Lalu ada yang namanya SBMPTN. Menentukan pilihan pertama di SBM sebenernya relatif mudah. Pilih dan perjuangkan impian kamu, no matter what happens. Kecuali, kalau memang yang kamu mau bener-bener tinggi banget dan nilai kamu masih jauh banget, kayak HI UI, FK UI, Akuntasi UI dan UGM dan pilihan kedua kamu masih tetap jurusan yang sama di Universitas lain.

Karena beberapa Universitas gaakan mau milih kamu, walau nilai kamu cukup, ketika kamu menuliskan jurusan favorit sebagai pilihan kedua atau bahkan ketiga. Ini kesalahan aku pas SBM tahun ini.

Nah pilihan kedua ketiga gimana nih? Kalau menurut aku, kamu harus pilih antara jurusan dan universitas. Pilih jurusan ketika kamu emang bener-bener sulit membayangkan kamu kuliah di jurusan lain. Ketika kamu bener-bener yakin bahwa emang jurusan itu masa depan dan dunia kamu.

Pilih universitas ketika kamu menginginkan universitas itu, orangtua kamu juga mendukung (biasanya karena faktor lokasi), ketika kamu juga sebenernya fleksibel dalam memilih jurusan (kayak kamu sebenernya suka HI, tapi gak keberatan ngambil Ilmu Politik, Hukum atau Ilmu Administrasi Negara atau bahkan Kesejahteraan Sosial) atau ada ekstrakulikuler yang bener-bener kamu bisa kejar dan kamu yakin bakal bersinar di ekskul itu.

Udah realistis gitu masih bisa ditolak Kak? Bisa banget. Bisa BANGET. Ditolak SBM itu jauh lebih nyesek daripada di tolak SNM, karena materi SBM itu susah banget, capeknya luar biasa kalian bimbel sebulan, tidur gak tidur, waduh asli nyesek banget. Desprate banget kalian mau kuliah dimana, putus asa, malu.

Disini, yang di uji adalah mental dan iman kalian. Sedih itu pasti, nyesek itu pasti. Bahkan bagi mereka yang diterima di SBM tapi nggak di pilihan pertama mereka, bahkan bagi mereka yang di terima di pilihan pertama tapi mereka nurunin standart mereka.

Mungkin akan datang masa ketika kalian akan menyalahkan diri kalian sendiri, menyalahkan orangtua karena memaksakan sesuatu terhadap kalian. Mungkin juga akan keluar kata-kata seperti ‘kalau dulu aku milih sekolah di sekolah x mungkin aku akan dapat SNMPTN’. Berhenti mikir kayak gitu, karena apapun yang kejadian sama kalian itu dari Allah. Seperti yang Tere Liye bilang, Takdir langit akan selalu adil, meskipun kadang kita belum mengerti bentuk keadilan itu. Dan menyesali ini semua gaakan membantu kalian mendapatkan universitas impian kalian.

Satu hal yang aku pelajari dari pengalamanku, bahwa semuanya akan datang ketika kita benar-benar ikhlas dan tidak menyalahkan keadaan. Aku dulu marah dengan konsep pendidikan di Indonesia yang membuat beberapa jam SBMPTN sebagai penentu masa depan, aku marah dengan fakta bahwa SBM tidak pernah diajarkan, ketidakseimbangan demand dan supply perguruan tinggi.

Aku kesal dengan pandangan meremehkan universitas swasta di Indonesia. Aku marah pada orangtuaku karena memaksaku masuk SMP-ku yang kuanggap jadi batu sandungan bagiku untuk ke Harvard, NUS dan UI. Kalian pasti pernah dengar ungkapan “Kalian tidak akan pernah mendapatkan sesuatu kalau kalian terlalu menginginkannya”. Aku merasakan betul bahwa ungkapan itu nyata. Aku akhirnya dapat HI UB ketika aku benar-benar tidak lagi mengharapkannya, ketika aku sudah siap menerima fakta aku harus masuk universitas swasta di Jakarta. Ketika aku tidak lagi marah dengan sistem yang ada di hadapanku.

So first, I’ll tell you, you’re not alone. You’re not the only person who faced rejections, you’re not the only person who feels miserable. Its always okay to be sad, to feel pathetic but you can’t do that forever. Tentukan waktu bersedih kalian, 3 hari aku pikir cukup, lalu pikirkan langkah kalian kedepannya mau ngapain.

Kalian harus daftar mandiri kah, mau ambil universitas swasta, mulai mempertimbangkan kuliah di PTLN atau bahkan memutuskan ronin. Semua keputusan baik dan kondisi setiap orang beda-beda.

Kalau kalian mau daftar mandiri, apakah kalian masih mau stick ke jurusan yang kalian inginkan atau kalian mau nurunin standart asal yang penting kalian keterima. Aku pernah mengalami ini dan ternyata kalau asal keterima itu gaenak. Jadi rasanya sama aja sama gak keterima (apa aku yang kurang bersyukur ya? Astagfirullah).

Tapi seriusan, pas kalian gadapet SBM kalian bakal kayak orang stress yang nyari jurusan apapun asal keterima disitu. Please jangan kayak gini, karena kuliah itu 4 tahun dan kalau kalian mentok di jurusan yang jauh banget dari kalian, itu nggak enak. Tapi ada untungnya juga sebenernya, diterima di jurusan dan uni (walau yang tidak kalian harapkan) bisa mengembalikan mental kalian setelah di tolak sana sini.

Kalau memutuskan ronin, kalian bener-bener harus menjaga semangat kalian. Fokus. Kerja keras. Buktikan sama keluarga dan orang-orang terdekat kalian bahwa kalian kalian bukan cuma main-main, tapi bener-bener mengejar SBM tahun depannya. Bagus juga kalau kalian nambah kemapuan lain seperti tahfiz, bahasa asing, menjelajah hobi kalian kayak fotografi atau menulis biar gak bosen nganggur setahun.

Pesanku, terus belajar, terus bersemangat, cari dan ketahui passion kalian apa dan dimana. Bicarakan baik-baik dengan orangtua, pertimbangkan semua hal, come to every single detail. Libatkan Allah dalam setiap keputusan yang akan kalian ambil.

Jangan pernah bandingkan kehidupan kalian dengan orang lain seperti ‘enak ya dia dapet SNMPTN’ karena kata Ismail Menk “The moment you started comparing your life with others is the start of your downfall. You’ll loose your peace and sense of gratitude. Thank The Almighty”.

Feel free to ask or to contact me, kalau mau ngobrol atau tanya-tanya tentang kuliah ke salmarzulfikar@gmail.com atau direct message instagram, line atau whatsap. Selamat bekerja keras dan berdoa!

 

“We all want to achieve, but nobody wants to do the hard works. Achievements only come with hard work, dedications and the help of The Almighty”

-Mufti Ismail Menk

Advertisements
Teruntuk Para (calon) Mantan,

Teruntuk Para (calon) Mantan,

Gue tau banget, pasti judul ini kontroversial, sekaligus bikin kepo. Hasil gue diajarin bikin judul sama Bu Sri, I learned a lot how to make people curious about what we write. Karena kalo judul nggak menarik, tulisan baguspun kadang nggak kebaca.

Sekarang gue lagi dirumah (LAGI) karena sebuah masalah nggak elite yang cenderung alay, keseleo. Baru aja obat alergi rhinitis habis, tiba-tiba ada hadiah lain dari Allah, keseleo sampe nggak bisa jalan setelah PE hari senin kemarin. Stress banget pasti, mau nyerah iya. Sampai hari pertama di rumah gue nangis sendirian, mikir, apalagi maksud Allah dengan semua ini? Kayak semacem di sinetron-sinetron gitulah. Disaat semangat hidup dan ritme mulai berjalan sebagaimana mestinya, di saat belajar udah firm lagi, tiba-tiba gue dianter ke rumah lagi. Mungkin sabar dan tawakkalnya kita diuji. Selain gue memang diingetin untuk sadar bahwa segimanapun kita usaha, ada takdir dari atas yang akan menentukan. The same goes for university.

Beberapa tahun lalu, gue sangat berambisi untuk ngambil undergrad di salah satu dari dua universitas ternama di Singapura. Gue bahkan sudah bikin time line kapan belajar untuk UEE, baca-baca review pengalaman-pengalaman yang ikut UEE  (University Entrance Examination) sampe keterima, bolak balik buka website dua kampus idaman itu. Gue sampe udah ngeliat course-nya, detail mata kuliah, hampir survei kesana jugak. Untuk akhirnya, di penghujung tahun ini, ketika dua uni top itu sudah buka admission untuk intake 2017-2018, gue nggak daftar.

Kecewa? Banget. Banyak teman gue yang mengingatkan, “Udah coba apply dulu aja, siapa tahu keterima. UEE pikirin belakangan lah”. Beberapa temen juga ngingetin impian gue dari masuk SMA, ngingetin juga setiap diary dan jurnal gue selalu ada nama dua uni ini. Tapi setelah pertimbangan sana sini, ngobrol sama orang tua, kayaknya memang belum waktunya gue pergi kesana. Fokus kejar negeri di dalam negeri dulu kayaknya.

Disini gue belajar bahwa, segimanapun kita keukeh maksain impian kita, mimpi kita, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Harus realistis, logis. Ketika masuk SMA dulu, gue langsung cari scholarship info, admission, course, dimana-mana. Tanpa tau high school life gue bakal kayak gimana. Kebayang kan anak kelas 10, baru masuk, udah mikirin uni. Bagusnya memang, gue one step ahead dari teman-teman gue, tapi juga sekaligus patah hati gue makin dalam, ketika nggak bisa dapat itu semua.

Tapi apa gue nyesel udah nyari-nyari course sampe mampus (karena selain di dua uni Singapura itu, gue juga nyari di berbagai uni top lain di Amerika, Eropa, Asia dan Australia)? Nggak. Seenggaknya dulu, sejak gue kelas 10, kalo gue down gue selalu bisa bangkit dengan mimpi-mimpi gue. Walaupun belum official mereka jadi mantan gue, karena gue belum lulus dan dapet uni disini, Terimakasih sudah jadi motivator andal yang pernah nyemangatin gue pas down, pas lagi capek-capeknya sama kegaiatan OSIS yang nggak ada habisnya, yang selalu sukses bikin melek sampe pagi untuk belajar, terimakasih untuk semuanya. Semoga kalau memang berjodoh, kita bakal ketemu, entah ketika master, summer school, PhD, post doct, confrence, atau apapun itu. Karena Allah pasti punya rencana yang indah untuk kita.

Terimakasih sudah membukakan jenadela dunia dan pemikiran ini, nambah pengetahuan. Terimakasih sudah jadi penyemangat, pengisi waktu liburan yang bermanfaat. Buat Semit and Islamic Studies Universidad Autonoma de Madrid, Public Policy and General Affairs Nanyang Technological University, International Affairs National University of Singapore, International Studies University of Melbourne, Oil and Gas Law Texas A&M dan semua mantan yang lain. Makasih seenggaknya kalian sudah pernah mewarnai buku-buku diary dan jurnalku.