Karena Introvert juga Bisa Kesepian; Sebuah Catatan Tentang Pertemanan

Karena Introvert juga Bisa Kesepian; Sebuah Catatan Tentang Pertemanan

Jadi sederhana saja sebenarnya sore ini, ditengah kesendirian menjalani Ibadah Puasa, gue dilanda malas tingkat dewa buat beli takjil dan makanan buat iftar. Biasanya 6 tahun jauh dari orangtua sekalipun, puasa selalu ada teman. Buka juga ada temannya. Jajan di kantin ada temannya.

Gue orang yang introvert dan seharusnya gue pikir gue survive survive aja buat terus puasa sendiri. Toh kalau puasa sunnah/puasa ganti juga sendiri ya. Jadi ya gimana atuh, ga ngaruh-ngaruh amat juga.

Ternyata, beda. Vibes Ramadan aja beda banget dan gue jadi rindu hidup gue di asrama dan dirumah. Gue ternyata masih belum sesiap itu untuk menghadapi puasa sendirian. Implikasi dari rasa asing yang gue hadapi petang ini adalah gue langsung seketika ga minat buat beli apapun. Ga minat beli takjil. Ga beli iftaar sampe jam 5.00. Which means maghrib tinggal 20 menit lagi. Ditambah emang rasanya lemes banget kan ya, seharian puasa dan aktifitas full.

Gue akhirnya mengadukan kesepian gue dan kemageran gue buat beli takjil dan iftaar di salah satu grup kesayangan. 5 menit kemudian, handphone gue langsung bunyi, ada yang nelfon. Bukan nanyain, “Salma kenapa ga beli iftaar?” atau “Salma buka apa?” tapi merepet panjang lebar, “Buruan sana beli apa kek, turun lo buruan gausah macem-macem bla bla bla bla”.

Kayak kerbau dicucuk hidungnya, gue langsung buru-buru pake rok dan jaket, ambil dompet, cabut turun. Beli takjil, beli makanan buat buka. Terus di telfon sampe gue selesai beli semuanya. Ngobrol dan ditemenin via telfon.

Ah, emang yang kita butuhkan itu yang tau gimana buat kita lebih baik, yang ngga membiarkan kita melakukan hal yang salah. Yang selalu ada meskipun jarak membentang jauh. Paling penting, tau gimana menggerakkan diri kita. Bisa jadi temen buat ketawa tiwi ngomongin hal hal receh sampe ngebahas masa depan. Yang tidak saling meninggalkan, sejauh apapun dia punya dunia baru. Yang mengusahakan untuk menyisihkan waktunya diantara kesibukan, sesedikit apapun yang bisa dia sisihkan.

Dalam hidup ini, gue beruntung sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang seperti ini. Salah satunya sudah pernah gue berikan appreciation post lain di halaman blog ini. Seorang calon film maker dan jurnalis hebat, yang disela-sela kesibukannya, meluangkan waktunya untuk gue. Yang juga pencapaian dan prestasinya dalam segala bidang, tidak pernah berhenti membuat gue tersenyum. Tapi kali ini, bukan tentang dia. Gue pengen men-cherish teman baik gue yang lain. (Kalo lo baca Hay, maaf ya kalau udah geer 😂, kalau kita jadi itikaf bareng, tar gue nulis lagi deh tentang, pengalaman itikaf sama lo 😂😂)

Maka buat seseorang yang selama ini selalu hadir buat gue, jadi emergency call gue 24/7 (literally jam 12 jam 1 gue sesek gue nelfon dia yang berkilo-kilo dari gue dan dia bisa nenangin gue even without her physical existence), yang bisa nemenin gue dari fangirling receh sampe ngomongin masa depan, there’s no appropriate word to define how thankful I am to have you in my life.

Terimakasih sudah mengajarkan gue arti berteman, bertoleransi, bekerja sama dengan proses. Terimakasih sudah jadi telinga yang mendengarkan semua kesedihan gue. Terimakasih sudah jadi orang yang mau menanggapi kekeraskepalaan gue (walau gue tau lo sebel). Terimakasih sudah memberikan gue lahan untuk berkembang dengan sama-sama mencoba berfikir menjadi dewasa dengan permasalahan permasalahan yang jadi bahan diskusi kita.

Diatas segalanya, aku berterimakasih atas waktumu yang kau berikan untuk mendengarkan dan menemani aku Karena aku sadar, setidaknya untuk saat ini, itulah yang paling mewah dan mahal.

Semoga, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk lo, Fayza! Sehat dan semangat selalu, calon bankir kebanggaan!

 

Advertisements
Organisasi dan Prestasi; Antara Konformitas, Ambisi dan Tingkat Kebahagiaan

Organisasi dan Prestasi; Antara Konformitas, Ambisi dan Tingkat Kebahagiaan

Sejak kecil, gue hidup dengan motivasi besar untuk melakukan segala hal yang gue bisa dengan baik. Orangtua gue sangat baik memfasilitasi (materil dan immateril) gue untuk menunjukkan seluruh bakat dan potensi yang gue punya.

Menjadi teman diskusi gue, memberikan gue sekian banyak buku, langganan koran. Sampai tidak memberikan akses ke televisi di hari kerja, yang membuat gue punya banyak waktu untuk menekuri koran dan majalah, bahkan majalah bisnis milik bokap gue yang gue juga ngga ngerti itu apa (anak SD baca SWA atau Harvard Business Review ngerti apa cuy? Ehehe).

Gue kemudian tumbuh menjadi mahluk pecinta buku dan ilmu. Gue juga belajar public speaking semenjak SD, punya bakat terpendam untuk membaca puisi. Semua potensi yang gue punya kemudian mengarahkan gue untuk mulai ikut berkompetisi, berjuang keras, mengantar trofi-trofi ke rumah. Gue melakukan semua itu, untuk sebuah kepuasan yang gue sendiri gabisa mendefinisikan itu apa.

Gue beranjak SMP, dengan segala keterbatasan dan larangan yang ada, gue berusaha keras untuk berkembang. Gue juga berusaha untuk mulai mengikuti organisasi. Selama SMP, gue kemudian cukup dikenal sebagai anak aktif.

Lanjut SMA, kesibukan dan aktifitas gue makin menggila. Gue jadi BEM, ikutan hampir semua lomba, dari yang ilmiah sampai non ilmiah seperti pidato, debat dan sebagainya. Tahun kedua, bukannya berfikir untuk istirahat, ambisi gue makin menggila. Gue jadi Wakil Ketua MPK, anak olimpiade Ekonomi, sekaligus Sosiologi dan Geografi, masih juga membabat sekian kesempatan untuk ikut lomba debat dan pidato. Dari level internal sekolah sampai nasional.

Seakan belum cukup, gue juga mengambil amanah sebagai Co Acara di event tahunan terbesar sekolah gue. Di saat yang bersamaan gue juga menjadi Ketua Pelaksana Sidang Tengah Tahun BEM sekolah gue. Praktis, hari-hari gue habis dengan rapat, sekolah, pembinaan olimpiade dan lomba. Tiba di kamar ketika hampir pagi, lalu masih harus belajar lagi, mengerjakan setidaknya 20 soal olimpiade (ekonomi dan sosiologi) lalu merangkum materi pelajaran. Gue biasa tidur pukul 2 atau 3 setiap harinya.

Tahun ketiga, ambisi itu belum berhenti. Gue mulai mengurangi kesibukan organisasi, tapi masih mengejar beberapa perlombaan nasional, masih di bidang-bidang yang berbeda. Di semester dua, gue mengganti ambisi gue dengan masuk ke PTN favorit dan mendapatkan nilai UN tertinggi.

Kehidupan gue mulai berubah ketika kuliah. Gue tiba-tiba tidak punya ambisi untuk berorganisasi. Kehilangan minat untuk mengikuti perlombaan-perlombaan. Ingin sekali aku mendedikasikan hidupku hanya untuk kegiatan akademik, karena gue benar-benar mencintai bidang ilmu yang gue pelajari saat ini.

Lantas sebuah pertanyaan, atau bentuk ketakutan menyeruak, mau jadi apa kalau nanti CV-ku kosong? Bagaimana mau dapat beasiswa S2 ke luar negeri? Ini zona nyaman atau sebuah usaha mendalami passion?

Penasaran kelanjutannya? Nantikan di post selanjutnya!

Jakarta Impromptu Trip

Jakarta Impromptu Trip

Gue adalah anak manusia yang hidup dengan perencanaan yang matang. Besok mau ngapain aja, jam berapa, dari kapan sampai kapan, harus naik apa. Dalam jangka pendek. Dalam jangka panjangnya, gue juga selalu merencanakan hidup gue. Mau kuliah apa, berapa lama, dimana itu sudah gue pikirkan jauh-jauh hari.

Setiap kali keluarga kami mau jalan-jalan, walaupun kadang pake travel agent, tetep aja gue pasti riset lagi sendiri. Gue nyari kira-kira apa yang miss sampe gue memastikan tiket yang dipesan, ketentuan bagasi dari maskapai, sampe kemungkinan visa transit (kalau layover nya lumayan lama).

Singkat cerita, gue adalah mahluk hidup yang sangat peduli dengan satu hal bernama; planning. 18 tahun hidup, gue hampir tidak pernah hidup tanpa planning, karena menurut gue, planning akan membuat kita lebih siap menghadapi apapun yang terjadi di depannya, menghitung resiko, konsekuensi dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.

Sampai akhirnya kemarin tiba-tiba gue ngedrop. Sakit. Udah biasa sebenernya. Cuma yang kemarin rasanya lemes banget, pusing nya ga ilang-ilang padahal udah minum obat. Diare juga.

Nelfon nyokap dong. Terus gue cerita dan vice versa, nyokap gue bilang; Udah kalau besok masih begini, pulang aja. I was like; WHAT PULANG?! Sempet ngobrol bentar sama temen gue, mikir ini itu, tapi akhirnya yaudahlah gue ngga gue pikirin lagi tawaran nyokap gue.

Sampe tadi pagi gue bangun sekalipun, gue ngga kepikiran buat balik. Gue cuma galau mau kuliah apa ngga karena gue masih ngga enak badan. Berhubung mata kuliahnya diplomasi dan sayang banget kalau gue ngga masuk, gue paksain deh tuh dateng.

Nyampe kampus (yang kurang dari 3 menit dari kosan gue, FYI buat yang belum tau), badan gue rasanya udah nano-nano kliyengan. Tapi gue pikir, the show must go on. Gue jajan as usual dan naik tangga 4 lantai karena antrian lift sudah ngga manusiawi.

Gue masuk kelas sudah mepet banget, jam 9.35 dan kelas mulai jam 9.40. Gak gue banget lah ya, gue biasanya di kelas at least 15 menit sebelum kelasnya mulai. Kalau diplomasi ini, berhubung kelasnya agak diatas (yaa maaf yaa, kelas gue semuanya lt.2 kecuali ini) gue biasanya jam 9 sudah di kampus.

Nyampe kelas, ternyata masih sepi dan badan gue rasanya makin ga karuan. Panas dingin ajib gajelas. Gue akhirnya WA nyokap dan bilang, Aku pulang aja ya? Tadinya gue mau balik sorean, biar ke Halim. Tapi berhubung nyokap gabisa jemput juga, akhirnya gue milih terbang yang jam 12.45 ke Cengkareng.

Gue meninggalkan kelas gue (yang dosennya belum masuk) buru-buru ke ATM di Perpustakaan Pusat. Untung ga pingsan di jalan dari fakultas gue ke perpusat, mengingat badan gue udah ga karuan.

Drama belum berhenti sodara-sodara, gue nyampe di ATM Perpusat dan taraaa antriannya mengular. Dalam hati gue meratap, ‘Giliran gue cuma mau withdraw biasa aja kenapa kosong siii, sekarang lagi buru-buru ngejer flight malah lama’. Mana kan ya, ada segala Ibu-ibu nyalip antrian gara-gara ada urusan penting gitu.

Ahhh, pengen rasanya tuh bilang, “Maaf Mbak, Mas, saya lagi sakit dan harus buru-buru beli tiket pulang ke Jakarta. Maaf boleh duluan ga?”. Tapi apapun itu, gue anak bokap gue. Bokap gue pasti gasuka kalau anak perempuannya nyelak antrian. Resiko gue juga kenapa baru beli tiket mepet-mepet. Hem.

Singkat cerita gue kelar dari ATM, pesen ojek online karena gue rasanya udah mau pingsan, balik kosan. Lalu gue ingat, “GUE MASIH PUNYA SEEMBER CUCIAN!”. Ga akan ngejer kalau gue cuci baik-baik. Akhirnya gue jemur aja itu cucian, asal dia tidak membusuk di ember. Itu udah jam 10.40, fyi dan gue mulai deg-degan.

Packing sebentar, (alhamdulillah masi sempet bikin peppermint tea) terus brb pesen ojek. Abangnya pengertian banget ya, pas di suhat doi nanya, “Mbaknya lagi buru-buru ga?”, Pas gue jawab buru-buru, doi ngebut parah sampai akhirnya gue sampai dengan selamat sehat di bandara jam 11.45.

Langsung check in, karena online check in udah gabisa. Naik ke ruang tunggu, sambil nge charge hape. Pesawatnya sedikit terlambat, but overall everything is alright.

Gue baca materi presentasi buat minggu depan troughout the flight, gabisa tidur sama sekali. Baca sampe kelar satu materi, lalu masang masker dan sunglasses tanda ngga mau diganggu/diajak ngobrol through out the flight.

Nyampe Jakarta, harap harap cemas bakal pake belalai gajah (dan ga terwujud). Naik bus dan duduk, jauh banget dari kebiasaan gue yang selalu berdiri, memohon pemakluman karena gue lemes banget.

Di bandara, nyari tempat damri, nanya sekali dua kali ke petugas, jalan ke tempat damri dan voila, disinilah gue sekarang. Di Café deket rumah tempat nyokap nyuruh gue nunggu (Iya, gabisa langsung karena gapunya kunci rumah).

Overall, this trip was amazing (despite bagian sakitnya). Badan gue masi ga karuan rasanya, but somehow I manage to write. I have once told you that writing heals me somehow right? That’s what happens today, perhaps.

Okee see you on the next post!

PS; Ada beberapa post yang draft nya masih betah ngendap di notes hape gue. Tunggu saja tanggal launch nya ya!

Salma dan Makalah Diplomasinya; Sebuah Drama

Salma dan Makalah Diplomasinya; Sebuah Drama

“One Day, you will wake up and there will be no time to do the thing you’ve always wanted. Do it now”

-Paulo Coelho

Jadi ya sebenernya minggu minggu ini kondisi kesehatan gue lagi ngga bagus karena; sudah dua minggu gue selalu tidur diatas jam 12 malam. Kadang baru tidur abis subuh.

Puncaknya, hari selasa kemarin gue sakit. Menggigil, gitu gitu lah. Sedangkan gue punya tugas bikin paper tentang Two Level Games yang bahannya, to be honest, sangat sulit untuk dipahami. Gue tau gue bakal makin gabisa ngerjain kalau gue paksain, alhasil gue baru mulai ngetik papernya itu Rabu sore, kelar kelas dan ketika gue ngerasa udah baikan.

Tapi sayangnya, banyak banget godaan buat fokus (ya salah gue sih sebenernya). Dari mulai baca novel online, sampe bapak gue yang ngajak chatting karena dia lagi nunggu lama banget di Airport. Udah semingguan gitu, gue ngga chatting lama sama beliau, so gue ngerjain sambil chat sama bapak gue dan alhasil gue ngga fokus baca.

Meanwhile, progress paper gue (setidaknya menurut gue pada waktu itu; baik baik aja). Gue pake sitasi yang gue biasa pake, pake gaya bahasa yang bissa gue pake, dan karena gue males pake in text citation, gue mulai pake footnote.

Petaka datang ketika gue menyadari satu hal; CARA SITASI YANG GUE PAKE TIDAK MENERIMA FOOTNOTE. Pilihan gue, ganti cara sitasi atau bertahan dengan cara sitasi yang biasa gue pake (dan gue harus mengubah semua footnote itu ke dalam bentuk in text citation). Thankyouverymuch buat opsi kedua, jadi gue memilih buat ganti cara sitasi ke yang menerima footnote.

Masalah sitasi ini ngga kelar disitu ternyata, masalahnya adalah TERNYATA ADA BEBERAPA STYLE NYA. Dan karena gue pake auto citation machine yang beda (saking gue stressnya) akhirnya tipenya beda. Setelah ganti ganti beberapa kali, akhirnya gue menemukan cara yang benar. Oh ralat, gue menemukan auto citation machine yang bisa ngasi gue jenis sitasi yang gue mau (DAN INI TERNYATA WEB YANG GUE PAKE DARI AWAL).

Gue tenang, mayan. Masih belum tenang karena Principal Agent Theory nya belum gue jelaskan dengan baik. Dan pas gue menelaah silabusnya ternyata taraaaa harus ada CASE STUDY-nya. Jadi utang gue malam itu; case study dan PA Theory.

Bersyukur banget gue dapet beberapa makalah/scholarly articles yang ngebahas tentang study case dan relevansi teori yang gue lagi pelajarin. Tapi ternyata, tak seindah kelihatannya. Ada case yang gue buta banget jadi ngga kebayang, ada yang gampang tapi tebel banget jadi gue ngga mungkin kelarin dalam satu malam (ya secara itu disertasi orang).

Tidur. Itu jadi alternatif pilihan (yang menurut gue) paling bijak. Gue tidur dan terbangun sekitar 180menit sebelum kelas mulau dan yeah, gue masi utang 2 hal itu plus gue harus beresin kosan karenaaa nyokap mau datang.

Gimana coy jadinya? The power of kepepet works. Gue akhirnya berhasil menuliskan semua yang masih belum gue kerjain, selesai sekitar 80menit sebelum kelas mulai.

Gue mulai siap-siap, sambil ngecek ngecek paper gue. Gue tersenyum senang, 3 basic thing yang diminta dosen terpenuhi, study case yang membuktikan bahwa teori ini gak selamanya applicable oke, refrensi lebih dr yang dosen suruh. Tenang dong gue. Seneng juga akhirnya bisa nulis pake footnote instead of in text citation (iya norak, maaf ya 😅).

Sampai ditengah kuliah gue sadar; MAN, GUE ADA KURANG NULIS KATA “TIDAK”. Dan eksistensi kata ini sangat-sangat berpengaruh sama paper yang gue tulis. Panik (lagi) dong yaaa. Mau dicuekin, takut salah, mau di coret, ketauan banget sampe gue dapat ide!

AHA! GUE TIP EX AJA KALI YA ITU! Salma-pun kemudian men-tip ex materi itu dan sekarang gue cuma bisa doa, pasrah dan deg degan, apakabar nilai kuis ini. Nilainya 15% dari keseluruhan nilai total. Maka, please #PrayForSalma.

Moral of the story adalah; The power of kepepet, doesn’t always works. So please don’t keep on postponing your works. Please. You will (maybe) ended up missing some little details that matters a lot (LIKE ME) or even worse, you didn’t make it at all. Always be prepared, because in the end, process never lies.

On Being a Project Officer

On Being a Project Officer

Akhirnya masa ini datang juga, ketika gue nggak saja siap dipimpin atau memimpin sub bagian, tapi gue harus jadi pemimpin secara umum. Bukan acara sebesar event tahunan sekolah, bukan juga sebesar pemilihan umum raya di sekolah atau kampus gue. Tapi acara Alumnae Homecoming/Back to School/Campus Expo or whatever you guys may call it.

Sebelumnya gue pernah jadi Ketua Pelaksana Sidang Pleno Tengah BEM sekolah gue. Tapi Man, itu pleno tengah. Bukan pleno akhir. Cuma ada reshuffle, presentasi LPJ Tengah Tahun. But this event is a whole different thing.

Acaranya belum terjadi, mungkin pamali juga ya nulis tentang kayak gini. Tapi, menurut gue justru bagian terberat jadi Project Officer adalah pas persiapannya. Ditambah lagi, jarak yang terbentang diantara gue dan temen temen gue membuat kita ngga pernah melakukan rapat fisik sama sekali. Rapat semuanya online, koordinasi online via LINE.

Nanti final briefing baru kita bakal ketemu langsung. H-1. Deg degan gasih jadi gue? Iya deg degan banget. Takut ada persiapan yang miss. Takut sulit mengondisikan peserta acara. Takut ada kesulitan koordinasi, miskomunikasi dan sebagai sebagainya.

I mean, I am the project officer. The one who is responsible for this whole event. Yang bakal ditanyain sama semua orang kalau ada apa-apa. Kalau sebelumnya pas gue jadi Co Acara gue masih bisa rely ke Project Officer gue kalau ada apa-apa, sekarang gue ngga bisa. Apa-apa yang ditanya gue dan gue harus bisa jawab. Gue ngga bisa melempar ke orang lain dengan alasan gue ngga kapabel dalam menjawab hal tertentu.

Selain itu, semua problem yang ada pasti dilaporin ke gue. Dari mulai temen-temen yang ngga bisa hadir, pihak eksternal yang mau intervensi ini itu, sampe perubahan perubahan yang di request sama sekolah.

Memimpin itu ngga semudah kelihatannya. Gue punya konsep, gue punya dasar kenapa acara ini harus seperti ini seperti itu tapi men-deliver idea kita ke orang lain dan membuat mereka paham sungguh ngga sesederhana itu.

Gue belajar banget jadi orang yang mau mengerti orang lain, mampu menjelaskan berulang kali dengan cara yang baik, bersabar tapi di sisi lain tetap strict dengan landasan awal kenapa gue bikin acara ini.

Gue belajar menghargai pendapat orang lain, belajar ikhlas di maki-maki untuk hal yang bukan urusan gue sebenernya. Jadi pemimpin itu harus peka, bisa mengendalikan emosi teman-teman lu bahkan ketika all you wanted to do is to cry and scream and munching harsh word. Instead, you should remain calm, said that you don’t like it too, let others say what they feel and calm them down, finally.

Well guys, I am not a perfect PO nor a good person already. But one thing I can tell you is, I will always try to deliver my best, to give you the best of mine. This event is like a baby to me, so I will try my best to protect it and let it be the way we have been dreaming of. Keep my word, because insyaAllah I will never take down my word.

Family Found 136km Away From Home, Another Appreciation Post

Family Found 136km Away From Home, Another Appreciation Post

Alert! Emo post ahead!)

Aku masih ingat ketika hawa PEMILU menyapa angkatan kami, berlomba menjadi Presiden Badan Eksekutif Murid dan Ketua Majelis Perwakilan Kelas. Semua begitu menegangkan, panas dan menghebohkan.

Aku menolak maju, meski akhirnya tetap di calonkan. Pesta politik tanpa kampanye, karena sejatinya, kami berlima tidak ada yang menginginkan posisi itu.

Tapi kini aku tidak ingin membahas tentang itu, tapi tentang implikasi dari pemilu sekolah kami. Sebuah amanah yang kemudian dipercayakan padaku, memberikan sebuah keluarga baru, sekretaris jendral BEM SMAIT As Syifa Boarding School 2015-2016.

Aku ngga akan lupa tentang pertemuan pertama kita di aula sekolah. Lalu Hurin yang bicara banyak hal, tentang program kerja, tentang apa saja yang harus dirapihkan, hingga bagaimana kami berhasil membujuk sekolah menyediakan ATK lengkap untuk kami.

Lalu malam-malam yang habis di ruang OSIS, membersamai sekian printer, bergantian mengetik laporan, mutaba’ah, proposal, surat keluar dan masuk. Kadang, ruang OSIS lebih sering disambangi ketimbang asrama.

Fragmen kisah berpindah menuju masa ketika liburan dihabiskan dengan berkirim surel. Memastikan tidak ada yang terlewat. Memastikan tidak ada Laporan Pertanggungjawaban yang tercecer. Memastikan berkas semua tersedia.

Hingga akhirnya, tugas paripurna. Meski sempat tercyduck (HAHAHAHA) berkas tidak lengkap, sempat membuat aku ditanyai rekan rekan MPK tentang kinerja sekjen di sidang akhir, aku selamanya bangga pernah bersama kalian.

Melihat, bahwa episode panjang perjalanan dan kerja keras yang terkadang mengambil kesehatan dan waktu belajar, tidak merubah kalian. Tetap membuat kalian berprestasi di luar organisasi, menjadi teladan bagi siapapun.

Meski hasil bukan suatu ukuran yang pasti, karena banyak campur tangan pihak lain di dalamnya, aku bangga dengan hasil yang kita semua capai. Ranking 1 di kelas bahkan dalam periode amanah, 2 medali Olimpiade Sains, seorang diantara kita yang menyelesaikan hafalannya, dan sekian pencapaian lainnya yang membuatku tersenyum.

Yang membuatku kian bangga, adalah fakta bahwa dalam proses meraihnya kita semua terus berproses bersama menjadi support system bagi satu sama lain. Yang terus membersamai dan mendukung satu sama lain, mencapai puncak prestasinya di bidang masing-masing.

Kalian semua, adalah contoh bahwa keseimbangan antara dunia akademik, tanggung jawab sebagai santri dan tanggungjawab terhadap amanah bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Dengan doa, kerja keras, kegigihan dan support teman terdekat.

Bersama kalian, aku menemukan banyak kesamaan, banyak support dan banyak kasih sayang. Bersama kalian, aku menemukan keluarga. Keluarga yang selalu bisa jadi tempat pulang, sejauh apapun aku pergi.

Jadi, sampai ketemu di puncak kesuksesan, calon ahli gizi, ahli keselamatan kerja, psikolog dan pustakawan kesayangan!

 

Why She Writes

Why She Writes

[This not so little girl understand that actually she promised to write about another thing and post it to her blog. She got the ideas even the outline, but she didn’t feel like publishing it right now, because of the reason that she secretly hide within herself. She hopes you understand]

Its almost been a semester, that this not so little girl of her father lived apart from her parents. Her life changes a lot. She need to wake up on her own, manage her money on her own, cooked and do groceries on her own and even going to the coffee shop alone, on her own.

On this small lovely city, called Malang, her paradigm and perspective has changes. Her habit has changes too. She met new people, makes new relations and friendship, learned a lot of new things, discover new hobbies and found a lot of exciting things to know. But one thing never changes, she loves to write.

She is still the old Salma, who adores stationery like nobody did. Who adores her own arabic writing. Who writes arabic words randomly to release her stress. Who always prefer to write on book by a pen, no matter that she knew writing on her ultrabook or laptop is more efficient. Who writes anything that cross into her mind, who think by writing her ideas, feelings and argumentation.

This left a lot of people asking, why did she writes? Didn’t her paper works, essays, summaries aren’t heavy enough? How come she still finds time to write about those little things about her life? And How writing would heal her?

Because for her, especially in this kind of situation, its writing that made her alive. Because for her, a lot of her thought cannot be explained by words. Because for her, explaining her thoughts verbally needs too much time, too much ear and its not easy to find them in this circumstances. Because for her, writing is way more personal than speaking. And after all, when she writes she feels like half of the weight in her shoulder flown away, somehow.

Because above all, writing is the one of the most effective stress releasing way.