Tentang Sebuah Pencarian

Tentang Sebuah Pencarian

“Kalian akan merasa sukses duniawi kalau?”

“Kalau saya masuk Harvard, Bu”

Teman-temannya menoleh, tak mengerti. Mereka masih SD.

Landasan Cita

Aku tumbuh dengan sebuah kecintaan yang luar biasa pada Ilmu Sosial. Semenjak kecil menghabiskan waktu dengan menonton berita di televisi, berdiskusi dengan kakekku mengenai kasus korupsi yang begitu marak di negeri ini, menyimak konflik-konflik yang terjadi di berbagai belahan bumi.

Mengenal nama Saddam Hussain bahkan ketika usiaku belum genap 3 tahun. Kemudian mulai intens mengikuti segala perkembangan dunia ketika George W Bush memenangkan pemilihan umum Amerika Serikat 2004 silam. Semenjak itu pula, ketertarikan terhadap isu-isu Internasional berkembang pesat.

Ketika SD, aku melihat banyak sekali kekacauan di negeri ini. Korupsi, isu lingkungan, keamanan perbatasan hingga perlindungan terhadap buruh migran yang minim. Maka sejak itu pula, cita-citaku satu, melakukan apapun untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. Dengan bentuk kontribusi apapun, karena diatas segalanya, aku mencintai negeri ini.

Aku pernah memilih arkeolog, lalu sejarawan, hingga wartawan olahraga sebagai profesi impian masa depanku. Hingga aku mengenal sebuah disiplin ilmu baru, Ilmu Hubungan Internasional ketika membaca sebuah buku karya Ahmad Fuadi. Buku yang kemudian membuatku memacakkan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran sebagai impian, yang kelak aku lepaskan ketika aku telah begitu dekat dengannya.

 

Sebuah Tujuan

Suatu siang, saat Facebook baru saja booming diseluruh dunia, guruku berkisah tentang sebuah universitas terbaik di dunia, almamater sang pencipta Facebook, Harvard. Beliau juga bilang tentang Harvard sebagai salah satu Universitas tertua di dunia, bersama Oxford, Al Azhar dan serangkaian nama besar lainnya.

Kemudian di hari lainnya, guruku bertanya tentang mimpi-mimpi kami. Tentang pencapaian duniawi yang membuat kami merasa sukses. Teman-temanku menyebutkan menjadi yang terbaik dalam pelajaran ini itu, masuk 5 besar, nilai diatas 9 atau paling jauh masuk SMP negeri favorit. Ya memang pencapaian apalagi yang dipikirkan anak SD kelas 5?

Tapi hari itu, dengan senyum aku dengan yakin berkata,

“Saya akan merasa sukses kalau saya berhasil masuk Harvard, Bu”. Saat aku mengatakannya, aku bahkan tidak tahu Harvard ada di bagian mana Amerika. Tidak tahu program apa saja yang ditawarkan di Harvard. Yang aku tahu, masuk Harvard tidak akan mudah. Berstatus sebagai universitas terbaik di dunia saat itu, aku cukup tahu diri bahwa berkuliah disana tidak akan menjadi soal sederhana.

Maka sejak itu, aku berusaha fokus menyiapkan diri. Memperbaiki bahasa inggris, menjadi patokan utama. Aku masih ingat bagaimana essay bahasa inggris pertamaku dibuat, berlari ke setiap sudut rumah mencari orang yang bisa membantu menerjemahkan kata-kata sulit. Essay yang dibuat karena tantangan guru TIK ku, untuk berkisah tentang pengalaman supercamp 3 hari kami.

 

Kala Mimpi Pecah Berkeping

Semenjak memilih Harvard sebagai tujuan, lalu kemudian menyandingkannya dengan Oxford dan Cambridge, aku hanya berfikir bagaimana caranya agar aku menempuh jalur yang tepat untuk menuju kesana. Bagaimana merealisasikan impian-impian besar itu.

Salah satu pijakan fundamentalnya adalah ketika memilih sekolah menengah pertama. Sejak lama orangtuaku memang menginginkan aku untuk menempuh pendidikan di pesantren. Mereka telah mencoba mengenalkan beberapa pesantren, membawa aku agar aku dekat dengan lingkungannya.

Tapi aku kukuh menolak. Aku tidak rela kedekatan dengan Nenek-Kakek, Om-Tante dan terutama orangtuaku harus tergadaikan demi masuk pesantren. Di sisi lain, aku juga sudah diterima di sebuah sekolah swasta yang menawarkan kurikulum semi-internasional dan program menghafal Al-Qur’an yang baik.

Pertimbangan lainnya adalah jika aku masuk pesantren, maka segala akses informasi akan tertutup. Jangankan akses internet, bahkan koran dan buku bacaan sepert biografi dan motivasi saja diharamkan untuk dibawa. Maka lantas bagaimana aku akan berkembang disana?

Orangtuaku kukuh membujuk untuk memilih pesantren. Bahkan guru-guru SD yang begitu kucintai ikut serta melobi agar aku berkenan melanjutkan sekolah ke pesantren. Aku terus mengulur waktu, menolak masuk pesantren. Hingga suatu sore, selepas ashar aku memeluk Ibuku sambil berkata, Ya aku akan masuk pesantren.

Hidup selanjutnya berjalan cepat, sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke pesantren. Hingga akhirnya hari yang tidak pernah aku inginkan datang, hari aku masuk pesantren. 11 Juli 2011. Berpisah dengan orangtua, rumah, kamar, yang memberikan kenyamanan selama ini.

Seminggu pertama kulalui dengan homesick berat, rindu yang mengakar. Mandi yang mengantri. Makan yang begitu berbeda dengan makanan rumah. Bangun dibangunkan oleh bel yang memekakkan telinga. Mana sempat memikirkan Harvard saat itu?

Yang sempat terfikir adalah beberapa tulisan mengenai kerajaan-kerajaan di Eropa yang sempat kubaca sebelum pergi. Tulisan yang kusalin sendiri dari laptop, kata perkata, karena takut akan disita kalau berbentuk print out. Sesekali tersenyum saat mengingat perjuanganku menyalinnya. Itu satu-satunya alasan aku tersenyum di seminggu itu.

Minggu selanjutnya, ketika mulai masuk sekolah, aku dihadapkan oleh sebuah fakta besar, aku akan belajar 22 mata pelajaran. Lebih dari setengahnya adalah pelajaran agama. Dengan waktu kegiatan yang begitu padat. Otak kritisku lantas cepat berfikir, lantas kapan waktuku mengembangkan diri? Mengikuti kompetisi? Bersenang-senang bersama artikel olahraga dan politik yang aku sukai? Bahkan koran saja sulit. Kegelisahanku bertambah, bagaimana aku akan masuk Harvard jika begini?

Maka setelah 2 minggu, aku berketatapan untuk bicara kepada kedua orangtuaku, aku tidak mau lagi melanjutkan pendidikanku disini. Aku ingin kembali ke Jakarta. Kembali ke duniaku. Kembali meniti jalanku kepada mimpiku. Orangtuaku menolak, memintaku untuk bersabar sedikit lagi dan bertahan.

Akhirnya aku menjalani hari disana dengan kesedihan. Berpisah dengan orangtua bagi gadis 11 tahun tentu bukan perkara sederhana. Belum lagi ditambah kedukaan tidak mempelajari hal-hal yang aku cintai. Seakan belum cukup, sama sekali tidak ada orang yang bisa diajak berbagi, tentang tekanan, ketidakbetahan dan utamanya impian.

Disamping fakta bahwa hampir semua mata pelajaran diajarkan dalam bahasa arab, aku juga harus menghadapi sekian inkonsistensi dan peraturan yang tidak masuk akal dari sekolah itu. Seolah itu semua belum cukup, peraturan disana labil sekali. Bisa berubah per 2 minggu sekali. Aku yang terbiasa dengan peraturan yang ajeg, tentu saja tidak bisa menerimanya. Aku benar-benar tersiksa disana.

Pada pertengahan masa studiku disana, orangtuaku akhirnya mendapatkan ilham untuk memberikan opsi pindah. Memilih sekolah manapun yang aku pikir cocok untukku. Hanya saja, dipertengahan jalan, ayahku melontarkan sebuah kalimat sederhana yang kelak menjadi cambuk bagiku untuk bertahan.

 

Menghadapi Realita

“Kalau bertahan disitu saja tidak mampu, bagaimana mau masuk NUS?” -Ayah

Loh kok jadi NUS? Di akhir masa SMP, aku akhirnya menyadari bahwa dengan persiapan yang sangat minim dan bahasa inggris yang masih berantakan, berat bagiku untuk masuk Harvard. Berat pula bagiku untuk kembali berpisah dengan orangtuaku sebegitu jauh untuk setidaknya 4 tahun masa studi S1-ku.

Akhirnya aku memutuskan memilih NUS atau NTU sebagai tujuan kuliah S1-ku. Fakta bahwa Singapura tidak begitu jauh dan posisi NUS dan NTU sebagai universitas dengan ranking tertinggi se-Asia membuatku cukup tertarik. Lagipula, masih ada S2 dan S3 untuk menimba ilmu di Harvard nantinya.

Aku pikir, tak apa bukan yang terbaik di dunia tapi yang terbaik di Asia. Ayah pernah diterima di NUS, jadi seharusnya masuk NUS tidak sesulit itu, pikirku saat itu. Pada saat itu, aku juga telah memilih untuk masuk sebuah SMA swasta berasrama di daerah Subang, Jawa Barat. Konon kabarnya, sekolah ini terkenal dengan prestasi akademik yang cukup baik dan management sekolah yang rapi. Oke, tidak ada inkonsistensi peraturan lagi, pikirku senang.

Sejak menginjakkan kaki di SMA-ku, tujuanku begitu terang dan jelas, bekerja keras agar nilaiku cukup untuk seleksi awal dua universitas di Singapura itu dan mempersiapkan diri untuk test masuk dua universitas tersebut.

Bergabung dengan organisasi intra sekolah juga menjadi salah satu aktifitasku. Untuk menambah pengalaman. Disamping itu aku juga mengikuti berbagai perlombaan agar pengalaman dan prestasiku cukup menarik pada saat proses aplikasi. Aku merasa sudah on the track, hingga diujung masa studiku, berbagai hal datang, membuat aku harus teguh menghadapi realita bahwa NUS dan NTU tidak berjodoh denganku saat ini.

 

Bersambung—

Hi there, Thank you!

Hi there, Thank you!

Hi there! National Geographic future journalist, NAFA future cum laude student!

It was the beggining of September when I first know you personally. Because of the Real Madrid tumbler you use, that left me curious since the beginning of FANTASTIC. We were glad to know each other, as we realized we have essential thing in common, we’re both football fans!

As times went by, our discussion grews from football to politics, life and sometimes boys, HAHAHA. We went into some competition together, you handle the 3D WALLMAGZ, while I did the speech. Sometimes, we went to debating competition together as a team.

When I see you at first, proudly telling your story of falling from the 2nd floor and ringing the break bell at your JHS, I never know that we will be connected this close. I thought you’re just one of those crazy girls I can’t be friend with, but it turns out that despite all the craziness you did, you have strong values that you keep deep inside yourself. The values that actually connects us.

We’re totally different poles. If others rely their friendship based on the similarities they have, we rely ours on the differences we have. A&B, photography and writing, all kinds of dramas and medical drama only, 3D wall and speech and many more!

This Tuesday, when I know I failed in the SBMPTN, you’re the first person I call, eventhough we said nothing. You just hearing me crying out loud and stayed there for a minute or so, before you hang up.

And today, when I fall again, you keep on motivating me and reminding me about our dream. The word that you keep repeating “Came on, finish our failures stock when we’re young”. The word that keeps on chanting inside my head today.

So Hay, please let me say this, THANK YOU FOR ALL THINGS YOU HAVE DONE TO ME, thank you. I do really owe you a lot, I really do. From all hours you spent to listen my thoughts on everything, my fears, my problems to all time you made a smile in my face bcs the silliness you did, to the times you taught me about life, to the times you spent in cheering me up, THANK YOU.

I am beyond blessed to know you and I am forever grateful. See you on the TOP, Syahira!

Hi, I’ll be Back, SOON!

Hi, I’ll be Back, SOON!

Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan disini, karena sudah lama sekali tidak menulis dan banyak sekali peristiwa yang terjadi di sekitar selama saya hiatus sementara ini. Dari mulai Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, kemenangan Real Madrid di Liga Spanyol dan Chelsea di Liga Inggris, turnamen tennis tanah liat Prancis Terbuka yang akan segera dimulai sampai kunjugan luar negeri pertama Presiden Amerika Serikat. Kalau boleh beralasan, kesibukan persiapan SBMPTN yang banyak menguras energi dan terutama emosi (hehehe) membuat saya hampir tidak punya waktu menulis. Ketika akhirnya ini semua agak mereda (belum tenang ya, soalnya saya belum dapat kampus) dan saya bisa nafas sejenak, saya jadi bingung mau nulis apa, karena banyaaaaaaakkkk banget yang pengen di share.

 

Tapi, sebelumnya saya mau bilang bahwa setelah ini di blog saya bakal mulai ada seri #TravelNotes dan #TravelTips. Walaupun sebenernya saya bukan traveller yang rajin banget travelling, tapi saya pikir bisa cerita tentang pengalaman saya bisa lumayan berguna buat orang lain, apalagi yang mau pergi ke tempat itu. Ide ini juga muncul dari kebiasaan saya sebelum travelling yang sering baca review orang lewat post di blog mereka. So far, sebenarnya bahan-bahan buat seri ini udah ada, tinggal nunggu saya mindahin dari notes ke laptop. So stay tune!

 

Buat yang nunggu seri “What it really takes to be a boarding school student”, tenang, bakal dilanjut kok. Tapi memang bertahap dan pelan-pelan. Boleh juga request topik tentang kehidupan asrama apa yang pengen ditanyain atau diceritain.

 

Pokoknya stay tune di blog yang InsyaAllah akan mulai dirawat dengan baik lagi sama saya.

Salam,

Salma R Zulfikar

 

What it takes to be an Assyifa Boarding School Student? (The Daily Routines)

What it takes to be an Assyifa Boarding School Student? (The Daily Routines)

Pas pertama kali bikin judul ini, kesannya saya sekolah dimana gitu, yang prestige, famous, etc. Well, sejujurnya saya juga nggak tahu kenapa saya tiba-tiba pengen nulis review tentang SMAIT As Syifa Boarding School, tempat saya 2,5 tahun ini hidup. Mungkin karena sekolah saya lagi buka penerimaan siswa/i baru, dan untuk pertama kalinya tahun ini (atleast selama saya sekolah di As Syifa) PMB dilakukan di putri, bukan putra. Vibes PMB yang menyebar (setiap sabtu, ketika KBM kita sibuk ngintip seberapa banyak mobil yang ada di lapangan belakang sekolah), lalu saya sadar tingginya animo untuk masuk As Syifa juga boarding lain, mungkin membuat saya tertarik untuk menulis ini.

Saya nulis ini sebenernya cuma biar pada nggak kaget pas masuk boarding, bener-bener tahu apa yang akan dihadapi ketika masuk boarding. Sedikit throwback, pas masuk SMP saya blank banget sama boarding life, jadi banyak kagetnya. Nah kekagetan ini (setidaknya dalam perspektif saya) salah satu pemicu utama homesick, penyakit klasik anak boarding.

Mungkin review saya kurang relevan karena saya masih ada di dalamnya, jadi nggak bisa membandingkan dunia di luar dan di As Syifa, dan saya nggak punya pengalaman sekolah di luar boarding, tapi saya bisa kasih real boarding life experience, atau lebih tepatnya real ISLAMIC boarding life experience.

Nah sekarang saya mulai bingung mau mulai dari mana. Banyak banget yang pengen saya ceritain soalnya. Tapi mari kita mulai dari keseharian alias rutinitas di As Syifa. Di As Syifa, semua bermula ketika pukul 03.30 (atau lebih kurang?? maaf saya bukan anak rohis, jadi nggak tahu detailnya) murattal berbunyi. Lalu 15 menit kemudian, akan ada pengumuman dari Rohis, kalau waktu keterlambatan menuju Aula Ad Duha tinggal 15 menit lagi. FYI, pengumuman akan dilakukan 3 kali, 15, 10 dan 5 menit lalu diakhiri dengan hitungan. Bagi yang datang setelah hitungan, ada hukumannya.

Terus ngapain di Aula?? Shalat qiyamullail dan shalat subuh berjamaah. QL dilakukan masing-masing kecuali di hari tertentu, 1 hari dalam seminggu ketika semua berjamaah. Setelah shalat subuh dan al ma’tsurat, bakal dilanjut sama tahfiz sampai jam 6. Setelah itu siap-siap ke sekolah.

Kecuali hari senin yang masuk jam 06.50, jam masuk di As Syifa pukul 06.55 tepat. Lagi-lagi akan dihitung sama Kedisiplinan, yang juga bakal nge-cek kamar asrama satu-satu, memastikan nggak ada yang bolos agenda pagi atau telat. Kalau telat? Nah selamat, maka bakal dapet bonus olahraga pagi, keliling lapangan sekolah 1 kali. Jam 06.55 itu nggak langsung masuk kelas, tapi ada agenda pagi yang bentuk kegiatannya macem-macem. Kalau Senin standart, Upacara Bendera. Selasa dan Kamis, pengondisian (semua murid baris perkamar, dan ketua kamar melaporkan siapa saja anggota kamar yang tidak hadir, dan apa alasannya). Rabu dan Jum’at, shalat dhuha (FYI di hari lain, shalat dhuha bisa dilakukan di jam istirahat). Dan sabtu, Apel. Biasanya ketika Apel ada pengumuman murid yang juara lomba eksternal, pengumuman dari BEM/MPK dll.

Setelah agenda pagi, masuk kelas, dan belajar sampai jam 09.55. Istirahat 20 menit dan masuk lagi sampai waktu Dzuhur. Ketika bel pulang sekolah, semua murid harus langsung balik ke asrama, dan shalat berjamaah di Aula.

Makan siang, lalu jam 13.30, bisa mulai aktifitas lagi. Ada yang ekskul, rapat BEM/MPK, ngerjain tugas di sekolah yang pake laptop (karena laptop kita nggak di simpan sendiri, ditaruh di loker khusus di sekolah), atau kadang ada stadium general di Aula. Kalau lagi kosong? Kesempatan istirahat, ngobrol sama temen di asrama, atau mempersiapkan hafalan untuk tahfiz setelah ashar.

Nah segitu dulu ya, nanti bakal bersambung di part-part selanjutnya, this one is going to be really long. Ahya, saya nulis ini bukan endorsment, nggak. Toh saya sudah 2 kali ngasih endorsment di video profil sekolah, hehehe (monggo di cek di youtube). Saya nulis ini karena saya pernah punya pengalaman nggak enak, masuk boarding tanpa tahu apa yang ada di dalam boarding. Jadi saya berharap anak-anak yang masuk boarding lainnya bener-bener punya gambaran utuh tentang kehidupan di asrama. Dan buat kalian yang mau kontak saya, nanya-nanya, feel free to send me an email to salmarafifah0@gmail.com atau line saya di salmaerzet, (but sorry for the slow respond in Line, I cant open my phone often since I am in boarding school).

Orizuka Replied my Email!! (plus a bit review of The Chronicles of Audy)

Orizuka Replied my Email!! (plus a bit review of The Chronicles of Audy)

Jadi beberapa waktu lalu, ketika saya sedang di rumah setelah thypus, dan lagi kelimpungan bikin artikel untuk lomba di salah satu PTN, tiba-tiba ada nama Orizuka di inbox email saya. I was very surprised back then, nggak pernah nyangka bakal di jawab emailnya sama Kak Orizuka.

Saya juga kirim email sudah agak lama, jadi saya juga nggak berharap email saya dibalas. Pokoknya yang penting saya sudah berterimakasih untuk diciptakannya Rex Rashad, dalam seri The Chronicles of Audy.

Jujur saja, saya bukan tipe orang yang banyak koleksi novel fiksi lokal. Awalnya pun nggak tertarik sama buku ini. Sampai ketika tante saya masuk rumah sakit, saya nyari buku iseng untuk mengusir kebosanan, memutuskan beli 2 seri pertama buku ini (yang memang sudah lama heboh di dorm saya). Surprise! Saya suka banget bukunya, suka banget.

Bercerita tentang 4 bersaudara, Regan, Romeo, Rex dan Rafael yang ‘bertemu’ dengan Audy Nagisa, mahasiswa tingkat akhir Hubungan Internasional UGM yang terpaksa bekerja karena orangtuanya terlilit hutang. Mungkin orang bakal nebak ini bakal jadi kisah se-klise FTV, pembantu jatuh cinta sama majikan, nggak, ini bukan tentang itu. Memang akhirnya ada kisah cinta Audy dengan salah satu dari mereka, but believe me, bukan itu yang utama. Saya suka buku ini juga bukan karena Regan atau Romeo, tapi karena Rex. Karena dalam diri Rex, I find a piece of me. Rasanya jadi orang yang terasing, rasanya tidak bisa difahami dan yang paling dalam, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.

Kebanyakan buku ketika membahas tentang nerd, si nerd ini akan berubah ketika mulai jatuh cinta. Tapi Rex nggak, dia mencintai dengan caranya, yang bahkan sulit untuk dimengerti. I even found my self crying when it comes to those part where Rex explains his true feelings, his loneliness, that he wants people to understand him rather than judging his way of thinking. 

So yeah, big applause untuk kak Orizuka! Sekali lagi, Terimakasih banyak sudah menciptakan Rex. Thank you for not making me feeling alone as that kind of teenager.

Those Olympics and I

Those Olympics and I

Banyak orang yang menuliskan kesuksesan-kesuksesan terbesar dalam hidup mereka. Entah dalam post-post di blog, buku, personal website, atau mungkin autobiografi. Tapi nggak banyak yang menuliskan detail kegagalan-kegagalan mereka, kalaupun ada lebih banyak yang menuliskannya ketika akhirnya sudah sukses. Terinspirasi dari beberapa artikel yang saya baca, ada beberapa orang yang kemudian membuat failures CV, karena bagi mereka, CV mereka yang keren itu bisa ada karena failures CV itu.

Ini kemudian membuat saya tertarik untuk menuliskan hal serupa, tapi dalam konteks dan format yang agak berbeda. Secara saya masih remaja 16 mau 17 tahun, pengalaman saya juga nggak banyak-banyak amat, masih bocah kalau kata orang mah.

Simply, saya mau cerita tentang olimpiade atau lomba akademik. Percaya atau enggak, sejak SD (OSN tingkat kelurahan jaman SD nggak masuk itungan lah ya) sampai mau lulus SMA ini, saya belum pernah ngerasain yang namanya menang lomba akademik. Yang olimpiade gitulah, belum pernah sama sekali. Dari yang saya niat banget ngusahainnya, sampe ikutan pre competition intensive training berhari-hari, sampe yang saya udah hopeless bahkan sebelum lomba mulai, belum pernah ada satupun yang bawa trofi ke rumah. Ini berbanding terbalik banget sama lomba-lomba public speaking yang Alhamdulillahnya beberapa kali udah nganter trofi ke rumah.

Kadang kecewa, karena kok bisa nggak dapet terus sih. Malu juga udah buang-buang uang sekolah buat daftar. Walaupun saya tetep seneng karena dapet sertifikat :). Nah, pada salah satu lomba terakhir yang saya ikutin, yang saya udah belajar sampe dini hari, dan hasilnya ya saya nggak menang juga, akhirnya saya bisa lebih santai. Bukan karena saya  nggak mengharapkan lomba itu, bukan juga karena saya nggak bisa jawab soalnya, tapi mungkin karena akhirnya saya ada di satu titik kepasrahan, nothing to lose dalam arti yang bener.

Dan akhirnya saya pikir-pikir, perjalanan lomba public speaking saya juga nggak mulus kok. Saya pernah grogi gara-gara Ibu saya nonton, butuh waktu hampir 5 tahun sampai akhirnya saya mengizinkan Ibu saya atau orang yang saya kenal untuk nonton saya lomba. Sekarang, disaat ketika bahkan debat aja saya bisa cengengesan dan senyum-senyum santai disaat lawan berapi-api mendebat argumen saya, ini adalah proses yang panjang. Jadi wajar aja sebenernya lomba akademik saya belum pernah dapet, karena walaupun frekuensinya hampir sama seringnya dengan lomba non akademik, tapi rentang waktunya belum sepanjang non akademik.

Satu lagi, pas saya lomba di salah satu universitas, ketika mengumumkan yang lolos ke babak selanjutnya, kakak panitianya bilang “Setiap orang punya jatah kegagalan yang sama dalam hidupnya. Jadi adek-adek, lebih baik kita habiskan jatah kegagalan kita ketika kita masih muda”. Saya sejak itu selalu menanamkan kata-kata ini ke diri saya sendiri setiap ada kemenangan yang tertunda. Mungkin Allah masih ingin saya fokus ke usaha, bukan hasil. Karena, Dia selalu tahu yang terbaik bukan?

Teruntuk Para (calon) Mantan,

Teruntuk Para (calon) Mantan,

Gue tau banget, pasti judul ini kontroversial, sekaligus bikin kepo. Hasil gue diajarin bikin judul sama Bu Sri, I learned a lot how to make people curious about what we write. Karena kalo judul nggak menarik, tulisan baguspun kadang nggak kebaca.

Sekarang gue lagi dirumah (LAGI) karena sebuah masalah nggak elite yang cenderung alay, keseleo. Baru aja obat alergi rhinitis habis, tiba-tiba ada hadiah lain dari Allah, keseleo sampe nggak bisa jalan setelah PE hari senin kemarin. Stress banget pasti, mau nyerah iya. Sampai hari pertama di rumah gue nangis sendirian, mikir, apalagi maksud Allah dengan semua ini? Kayak semacem di sinetron-sinetron gitulah. Disaat semangat hidup dan ritme mulai berjalan sebagaimana mestinya, di saat belajar udah firm lagi, tiba-tiba gue dianter ke rumah lagi. Mungkin sabar dan tawakkalnya kita diuji. Selain gue memang diingetin untuk sadar bahwa segimanapun kita usaha, ada takdir dari atas yang akan menentukan. The same goes for university.

Beberapa tahun lalu, gue sangat berambisi untuk ngambil undergrad di salah satu dari dua universitas ternama di Singapura. Gue bahkan sudah bikin time line kapan belajar untuk UEE, baca-baca review pengalaman-pengalaman yang ikut UEE  (University Entrance Examination) sampe keterima, bolak balik buka website dua kampus idaman itu. Gue sampe udah ngeliat course-nya, detail mata kuliah, hampir survei kesana jugak. Untuk akhirnya, di penghujung tahun ini, ketika dua uni top itu sudah buka admission untuk intake 2017-2018, gue nggak daftar.

Kecewa? Banget. Banyak teman gue yang mengingatkan, “Udah coba apply dulu aja, siapa tahu keterima. UEE pikirin belakangan lah”. Beberapa temen juga ngingetin impian gue dari masuk SMA, ngingetin juga setiap diary dan jurnal gue selalu ada nama dua uni ini. Tapi setelah pertimbangan sana sini, ngobrol sama orang tua, kayaknya memang belum waktunya gue pergi kesana. Fokus kejar negeri di dalam negeri dulu kayaknya.

Disini gue belajar bahwa, segimanapun kita keukeh maksain impian kita, mimpi kita, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Harus realistis, logis. Ketika masuk SMA dulu, gue langsung cari scholarship info, admission, course, dimana-mana. Tanpa tau high school life gue bakal kayak gimana. Kebayang kan anak kelas 10, baru masuk, udah mikirin uni. Bagusnya memang, gue one step ahead dari teman-teman gue, tapi juga sekaligus patah hati gue makin dalam, ketika nggak bisa dapat itu semua.

Tapi apa gue nyesel udah nyari-nyari course sampe mampus (karena selain di dua uni Singapura itu, gue juga nyari di berbagai uni top lain di Amerika, Eropa, Asia dan Australia)? Nggak. Seenggaknya dulu, sejak gue kelas 10, kalo gue down gue selalu bisa bangkit dengan mimpi-mimpi gue. Walaupun belum official mereka jadi mantan gue, karena gue belum lulus dan dapet uni disini, Terimakasih sudah jadi motivator andal yang pernah nyemangatin gue pas down, pas lagi capek-capeknya sama kegaiatan OSIS yang nggak ada habisnya, yang selalu sukses bikin melek sampe pagi untuk belajar, terimakasih untuk semuanya. Semoga kalau memang berjodoh, kita bakal ketemu, entah ketika master, summer school, PhD, post doct, confrence, atau apapun itu. Karena Allah pasti punya rencana yang indah untuk kita.

Terimakasih sudah membukakan jenadela dunia dan pemikiran ini, nambah pengetahuan. Terimakasih sudah jadi penyemangat, pengisi waktu liburan yang bermanfaat. Buat Semit and Islamic Studies Universidad Autonoma de Madrid, Public Policy and General Affairs Nanyang Technological University, International Affairs National University of Singapore, International Studies University of Melbourne, Oil and Gas Law Texas A&M dan semua mantan yang lain. Makasih seenggaknya kalian sudah pernah mewarnai buku-buku diary dan jurnalku.