Salma dan Makalah Diplomasinya; Sebuah Drama

Salma dan Makalah Diplomasinya; Sebuah Drama

“One Day, you will wake up and there will be no time to do the thing you’ve always wanted. Do it now”

-Paulo Coelho

Jadi ya sebenernya minggu minggu ini kondisi kesehatan gue lagi ngga bagus karena; sudah dua minggu gue selalu tidur diatas jam 12 malam. Kadang baru tidur abis subuh.

Puncaknya, hari selasa kemarin gue sakit. Menggigil, gitu gitu lah. Sedangkan gue punya tugas bikin paper tentang Two Level Games yang bahannya, to be honest, sangat sulit untuk dipahami. Gue tau gue bakal makin gabisa ngerjain kalau gue paksain, alhasil gue baru mulai ngetik papernya itu Rabu sore, kelar kelas dan ketika gue ngerasa udah baikan.

Tapi sayangnya, banyak banget godaan buat fokus (ya salah gue sih sebenernya). Dari mulai baca novel online, sampe bapak gue yang ngajak chatting karena dia lagi nunggu lama banget di Airport. Udah semingguan gitu, gue ngga chatting lama sama beliau, so gue ngerjain sambil chat sama bapak gue dan alhasil gue ngga fokus baca.

Meanwhile, progress paper gue (setidaknya menurut gue pada waktu itu; baik baik aja). Gue pake sitasi yang gue biasa pake, pake gaya bahasa yang bissa gue pake, dan karena gue males pake in text citation, gue mulai pake footnote.

Petaka datang ketika gue menyadari satu hal; CARA SITASI YANG GUE PAKE TIDAK MENERIMA FOOTNOTE. Pilihan gue, ganti cara sitasi atau bertahan dengan cara sitasi yang biasa gue pake (dan gue harus mengubah semua footnote itu ke dalam bentuk in text citation). Thankyouverymuch buat opsi kedua, jadi gue memilih buat ganti cara sitasi ke yang menerima footnote.

Masalah sitasi ini ngga kelar disitu ternyata, masalahnya adalah TERNYATA ADA BEBERAPA STYLE NYA. Dan karena gue pake auto citation machine yang beda (saking gue stressnya) akhirnya tipenya beda. Setelah ganti ganti beberapa kali, akhirnya gue menemukan cara yang benar. Oh ralat, gue menemukan auto citation machine yang bisa ngasi gue jenis sitasi yang gue mau (DAN INI TERNYATA WEB YANG GUE PAKE DARI AWAL).

Gue tenang, mayan. Masih belum tenang karena Principal Agent Theory nya belum gue jelaskan dengan baik. Dan pas gue menelaah silabusnya ternyata taraaaa harus ada CASE STUDY-nya. Jadi utang gue malam itu; case study dan PA Theory.

Bersyukur banget gue dapet beberapa makalah/scholarly articles yang ngebahas tentang study case dan relevansi teori yang gue lagi pelajarin. Tapi ternyata, tak seindah kelihatannya. Ada case yang gue buta banget jadi ngga kebayang, ada yang gampang tapi tebel banget jadi gue ngga mungkin kelarin dalam satu malam (ya secara itu disertasi orang).

Tidur. Itu jadi alternatif pilihan (yang menurut gue) paling bijak. Gue tidur dan terbangun sekitar 180menit sebelum kelas mulau dan yeah, gue masi utang 2 hal itu plus gue harus beresin kosan karenaaa nyokap mau datang.

Gimana coy jadinya? The power of kepepet works. Gue akhirnya berhasil menuliskan semua yang masih belum gue kerjain, selesai sekitar 80menit sebelum kelas mulai.

Gue mulai siap-siap, sambil ngecek ngecek paper gue. Gue tersenyum senang, 3 basic thing yang diminta dosen terpenuhi, study case yang membuktikan bahwa teori ini gak selamanya applicable oke, refrensi lebih dr yang dosen suruh. Tenang dong gue. Seneng juga akhirnya bisa nulis pake footnote instead of in text citation (iya norak, maaf ya 😅).

Sampai ditengah kuliah gue sadar; MAN, GUE ADA KURANG NULIS KATA “TIDAK”. Dan eksistensi kata ini sangat-sangat berpengaruh sama paper yang gue tulis. Panik (lagi) dong yaaa. Mau dicuekin, takut salah, mau di coret, ketauan banget sampe gue dapat ide!

AHA! GUE TIP EX AJA KALI YA ITU! Salma-pun kemudian men-tip ex materi itu dan sekarang gue cuma bisa doa, pasrah dan deg degan, apakabar nilai kuis ini. Nilainya 15% dari keseluruhan nilai total. Maka, please #PrayForSalma.

Moral of the story adalah; The power of kepepet, doesn’t always works. So please don’t keep on postponing your works. Please. You will (maybe) ended up missing some little details that matters a lot (LIKE ME) or even worse, you didn’t make it at all. Always be prepared, because in the end, process never lies.

Advertisements
On Being a Project Officer

On Being a Project Officer

Akhirnya masa ini datang juga, ketika gue nggak saja siap dipimpin atau memimpin sub bagian, tapi gue harus jadi pemimpin secara umum. Bukan acara sebesar event tahunan sekolah, bukan juga sebesar pemilihan umum raya di sekolah atau kampus gue. Tapi acara Alumnae Homecoming/Back to School/Campus Expo or whatever you guys may call it.

Sebelumnya gue pernah jadi Ketua Pelaksana Sidang Pleno Tengah BEM sekolah gue. Tapi Man, itu pleno tengah. Bukan pleno akhir. Cuma ada reshuffle, presentasi LPJ Tengah Tahun. But this event is a whole different thing.

Acaranya belum terjadi, mungkin pamali juga ya nulis tentang kayak gini. Tapi, menurut gue justru bagian terberat jadi Project Officer adalah pas persiapannya. Ditambah lagi, jarak yang terbentang diantara gue dan temen temen gue membuat kita ngga pernah melakukan rapat fisik sama sekali. Rapat semuanya online, koordinasi online via LINE.

Nanti final briefing baru kita bakal ketemu langsung. H-1. Deg degan gasih jadi gue? Iya deg degan banget. Takut ada persiapan yang miss. Takut sulit mengondisikan peserta acara. Takut ada kesulitan koordinasi, miskomunikasi dan sebagai sebagainya.

I mean, I am the project officer. The one who is responsible for this whole event. Yang bakal ditanyain sama semua orang kalau ada apa-apa. Kalau sebelumnya pas gue jadi Co Acara gue masih bisa rely ke Project Officer gue kalau ada apa-apa, sekarang gue ngga bisa. Apa-apa yang ditanya gue dan gue harus bisa jawab. Gue ngga bisa melempar ke orang lain dengan alasan gue ngga kapabel dalam menjawab hal tertentu.

Selain itu, semua problem yang ada pasti dilaporin ke gue. Dari mulai temen-temen yang ngga bisa hadir, pihak eksternal yang mau intervensi ini itu, sampe perubahan perubahan yang di request sama sekolah.

Memimpin itu ngga semudah kelihatannya. Gue punya konsep, gue punya dasar kenapa acara ini harus seperti ini seperti itu tapi men-deliver idea kita ke orang lain dan membuat mereka paham sungguh ngga sesederhana itu.

Gue belajar banget jadi orang yang mau mengerti orang lain, mampu menjelaskan berulang kali dengan cara yang baik, bersabar tapi di sisi lain tetap strict dengan landasan awal kenapa gue bikin acara ini.

Gue belajar menghargai pendapat orang lain, belajar ikhlas di maki-maki untuk hal yang bukan urusan gue sebenernya. Jadi pemimpin itu harus peka, bisa mengendalikan emosi teman-teman lu bahkan ketika all you wanted to do is to cry and scream and munching harsh word. Instead, you should remain calm, said that you don’t like it too, let others say what they feel and calm them down, finally.

Well guys, I am not a perfect PO nor a good person already. But one thing I can tell you is, I will always try to deliver my best, to give you the best of mine. This event is like a baby to me, so I will try my best to protect it and let it be the way we have been dreaming of. Keep my word, because insyaAllah I will never take down my word.

Family Found 136km Away From Home, Another Appreciation Post

Family Found 136km Away From Home, Another Appreciation Post

Alert! Emo post ahead!)

Aku masih ingat ketika hawa PEMILU menyapa angkatan kami, berlomba menjadi Presiden Badan Eksekutif Murid dan Ketua Majelis Perwakilan Kelas. Semua begitu menegangkan, panas dan menghebohkan.

Aku menolak maju, meski akhirnya tetap di calonkan. Pesta politik tanpa kampanye, karena sejatinya, kami berlima tidak ada yang menginginkan posisi itu.

Tapi kini aku tidak ingin membahas tentang itu, tapi tentang implikasi dari pemilu sekolah kami. Sebuah amanah yang kemudian dipercayakan padaku, memberikan sebuah keluarga baru, sekretaris jendral BEM SMAIT As Syifa Boarding School 2015-2016.

Aku ngga akan lupa tentang pertemuan pertama kita di aula sekolah. Lalu Hurin yang bicara banyak hal, tentang program kerja, tentang apa saja yang harus dirapihkan, hingga bagaimana kami berhasil membujuk sekolah menyediakan ATK lengkap untuk kami.

Lalu malam-malam yang habis di ruang OSIS, membersamai sekian printer, bergantian mengetik laporan, mutaba’ah, proposal, surat keluar dan masuk. Kadang, ruang OSIS lebih sering disambangi ketimbang asrama.

Fragmen kisah berpindah menuju masa ketika liburan dihabiskan dengan berkirim surel. Memastikan tidak ada yang terlewat. Memastikan tidak ada Laporan Pertanggungjawaban yang tercecer. Memastikan berkas semua tersedia.

Hingga akhirnya, tugas paripurna. Meski sempat tercyduck (HAHAHAHA) berkas tidak lengkap, sempat membuat aku ditanyai rekan rekan MPK tentang kinerja sekjen di sidang akhir, aku selamanya bangga pernah bersama kalian.

Melihat, bahwa episode panjang perjalanan dan kerja keras yang terkadang mengambil kesehatan dan waktu belajar, tidak merubah kalian. Tetap membuat kalian berprestasi di luar organisasi, menjadi teladan bagi siapapun.

Meski hasil bukan suatu ukuran yang pasti, karena banyak campur tangan pihak lain di dalamnya, aku bangga dengan hasil yang kita semua capai. Ranking 1 di kelas bahkan dalam periode amanah, 2 medali Olimpiade Sains, seorang diantara kita yang menyelesaikan hafalannya, dan sekian pencapaian lainnya yang membuatku tersenyum.

Yang membuatku kian bangga, adalah fakta bahwa dalam proses meraihnya kita semua terus berproses bersama menjadi support system bagi satu sama lain. Yang terus membersamai dan mendukung satu sama lain, mencapai puncak prestasinya di bidang masing-masing.

Kalian semua, adalah contoh bahwa keseimbangan antara dunia akademik, tanggung jawab sebagai santri dan tanggungjawab terhadap amanah bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Dengan doa, kerja keras, kegigihan dan support teman terdekat.

Bersama kalian, aku menemukan banyak kesamaan, banyak support dan banyak kasih sayang. Bersama kalian, aku menemukan keluarga. Keluarga yang selalu bisa jadi tempat pulang, sejauh apapun aku pergi.

Jadi, sampai ketemu di puncak kesuksesan, calon ahli gizi, ahli keselamatan kerja, psikolog dan pustakawan kesayangan!

 

Why She Writes

Why She Writes

[This not so little girl understand that actually she promised to write about another thing and post it to her blog. She got the ideas even the outline, but she didn’t feel like publishing it right now, because of the reason that she secretly hide within herself. She hopes you understand]

Its almost been a semester, that this not so little girl of her father lived apart from her parents. Her life changes a lot. She need to wake up on her own, manage her money on her own, cooked and do groceries on her own and even going to the coffee shop alone, on her own.

On this small lovely city, called Malang, her paradigm and perspective has changes. Her habit has changes too. She met new people, makes new relations and friendship, learned a lot of new things, discover new hobbies and found a lot of exciting things to know. But one thing never changes, she loves to write.

She is still the old Salma, who adores stationery like nobody did. Who adores her own arabic writing. Who writes arabic words randomly to release her stress. Who always prefer to write on book by a pen, no matter that she knew writing on her ultrabook or laptop is more efficient. Who writes anything that cross into her mind, who think by writing her ideas, feelings and argumentation.

This left a lot of people asking, why did she writes? Didn’t her paper works, essays, summaries aren’t heavy enough? How come she still finds time to write about those little things about her life? And How writing would heal her?

Because for her, especially in this kind of situation, its writing that made her alive. Because for her, a lot of her thought cannot be explained by words. Because for her, explaining her thoughts verbally needs too much time, too much ear and its not easy to find them in this circumstances. Because for her, writing is way more personal than speaking. And after all, when she writes she feels like half of the weight in her shoulder flown away, somehow.

Because above all, writing is the one of the most effective stress releasing way.

Because I Never Miss Any Boarding School the way I miss Assyifa (What it Really Takes to be Assyifa BS Student part 2)

Because I Never Miss Any Boarding School the way I miss Assyifa (What it Really Takes to be Assyifa BS Student part 2)

So this evening, in the middle of committee hectic, I saw @assyifaboardingschool instagram story. They are currently open for registration and it bring me into a major throwback.

Like it was just yesterday when ummi and ayah drove over Subang and we did the test. It feels like it was just yesterday when Ayah woke me up in the middle of the night, teary eyed, hugging me and said “Congratulations, you are accepted!”. It was one of the happiest moment in my life, I never wanted to be accepted in a boarding school the way I wanted to be accepted in Assyifa Boarding School, even more precisely, I never wanted to be accepted in a boarding school other than Assyifa. So being accepted in Assyifa is one of the greatest foot step I made in my whole lifetime.

Then everything goes fast. I finished up my sucks junior high school and prepared everything to be Assyifa student. It was hard, to be honest. To move up from your home (re: comfort zone), for the second time especially I have such a very bad experience with boarding school during my junior years, but then, I know one thing, I trust Assyifa Boarding School. I really do trust them. So there I go, packing up my things and move to a small city which later I cherished most, Subang.

Then, fantastic comes. Fantastic is Assyifa’s term for new student orientation. I woke up at 3, being rushed, learning Assyifa’s culture and dicipline. It was one of the best student orientation week I have even known. Unlike other schools who use their orientation week for seniority, Fantastic taught us a lot. From rules to habith, as well as giving chance for us to know our future three years friends better. We started to know the teacher well and at the end of the session, we all went out for camping which surely develop our bonding more than ever. Not just with our friends, but also with teachers and seniors.

After Fantastic, we started the real high school life. Where we started to learn a new focus, either science or social. Where we started our organization life. Becoming a member of each extracurricular activities according to our passion.

I choose to joined BEM (Student Executive Board) in Language Department on my first year. It was a good experience since organization enable us to develop friendship with seniors, taught us how manage time wisely, etc.

Talking about Assyifa and Organization will be very long topics, soo see u on the next post! I promise I’m trying to continue this ASAP. Because anyway I am currently on duty, writing Berita Acara. Ehehehehe

Mengapa Akhirnya Galau? On Choosing College and Major

Mengapa Akhirnya Galau? On Choosing College and Major

Akhir-akhir ini aku sedang dilanda kegalauan dan tentu saja bukan kegalauan tentang laki-laki seperti yang banyak remaja lain rasakan. Atau mahasiswi lain rasakan. Kurang lebih sudah sebulan semenjak statusku resmi menjadi mahasiswi melepaskan status terkatung-katung antara pelajar SMA dan Mahasiswi.

Aku bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya aku di takdirkan untuk menuntut ilmu di kota ini, di Universitas ini. Di kota kecil di ujung pulau jawa dan universitas negeri yang cukup bergengsi di Indonesia.

Akupun kemudian beruntung bahwa aku dapat menuntut ilmu di jurusan yang telah lama aku idamkan semenjak SD, Ilmu Hubungan Internasional. Sebuah bidang ilmu yang menjadi kegemaranku sehingga ketika banyak yang bertanya aku ingin jurusan apa, aku selalu mantap menjawab, HI.

Lantas kemudian apa yang membuatku galau? Jurusan. Yes you read that right, major. Kalau kalian bingung, aku juga. Tak pernah sebelumnya terbersit dalam pikiranku, bahkan dalam mimpi sekalipun, aku akan meragukan jurusan ini.

Aku mencintai berita, mengobrol tentang isu-isu terkini kemudian berdebat tentang apa yang seharusnya dilakukan bahkan sebelum aku lulus bangku sekolah dasar. Semua orang yang mengenalku dengan baik (berarti tidak termasuk saudara-saudara jauh yang terus berekspektasi aku akan jadi dokter atau akuntan) pasti tahu seberapa cocok aku dengan jurusan ini.

Aku mencintai ritme kelasku, bagaimana diskusi dan analisa saling beradu, bagaimana kami berebut menyampaikan pendapat dan pandangan tentang apa yang dosen kami sampaikan. Inilah yang selama ini aku impikan. Selama SMA, aku selalu kesal ketika diskusi dan tak ada yang kemudian mendebat argumenku atau kadang pertanyaan yang membuat teman-teman kelasku melirik sinis, anak ini nanya apaan sih, mungkin begitu pikir mereka.

Demi Allah, ini semua seperti mimpi. Too good to be true. Aku kemudian berfikir dan bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku benar-benar ingin melakukan ini seumur hidupku? Apakah aku benar-benar akan mendedikasikan hidupku untuk ini?”

Aku mencintai kemanusiaan, mencintai perdamaian, mencintai dunia akademisi. Aku memutuskan memilih Ilmu Hubungan Internasional selain karena aku mencintai dunia ini, aku ingin mengabdikan hidupku untuk kemanusiaan, aku ingin melihat lebih banyak lagi perempuan dan anak-anak yang bisa hidup tenang, bukan di daerah konflik. Aku ingin melihat lebih banyak lagi perempuan yang mampu meraih pendidikan tingginya, berkarya untuk masyarakat. Aku ingin melihat warga perbatasan bisa hidup makmur, karena batas-batas negara di hargai, tak lagi harus menggantungkan hidup pada penyelundupan dan tindakan illegal lainnya. Aku ingin melihat korban perdangangan manusia mendapatkan keadilannya, dilindungi dan dicegah untuk kembali terjadi. Aku ingin membantu memfasilitasi itu semua, maka aku memilih jurusan ini.

Harusnya aku tak akan pernah gamang. Harusnya aku yakin. Harusnya aku hanya tinggal menikmati anugerah yang luar biasa besar ini, menjadi bagian dari sedikit anak Indonesia yang mampu menikmati rasa berkuliah di jurusan impian. Jurusan yang telah terpatri di hatiku semenjak lama.

Bahkan rencana dan peta masa depan sudah jelas terpampang ketika aku memilih jurusan ini. Aku tahu kemana kakiku harus melangkah ketika aku menyelsaikan pendidikan ini nantinya. Apa cita-citaku, apa langkah-langkahku. Pencapaian apa yang kemudian aku inginkan di waktu-waktu tertentu. Semuanya sudah jelas.

Di negeri ini, ketika bahkan kebanyan generasi mudanya tak tahu apa yang mereka inginkan ketika memasuki universitas. Sekedar memenuhi tuntutan sosial untuk berkuliah. Memilih jurusan yang mereka pikir prestigious, keren atau melanjutkan tradisi keluarga bahkan karena celetukan singkat dari teman, saudara, kadang pula tetangga. Aku seharusnya bersyukur pada Allah karena aku punya informasi dan tujuan yang jelas sebelum memasuki dunia kuliah.

Aku kemudian mencoba berfikir, apa lagi yang membuat aku tidak kerasan? Lingkungan jelas out of option, karena aku mulai mencintai Malang. Meski dia tak sebising Jakarta, meski dia tak sedingin Bogor, meski dia tak seramah Bandung. Mungkin karena OSPEK atau apapun mereka menyebutnya. Mungkin juga rasa inferioritas yang mulai menghantui karena bertemu dengan orang-orang luar biasa dari seluruh Indonesia. Mungkin. Mungkin juga karena bingung menentukan kegiatan apa yang akan kupilih disamping kegiatan akademik.

Tapi baiklah, analisa kegalauanku cukup sampai disitu. Yang ingin aku sampaikan pada kalian, adik-adik yang luar biasa, adalah bahwa memilih jurusan dan universitas adalah suatu hal yang besar dan beresiko. Kalian akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang nantinya akan kalian jalani. Belum lagi jika kalian harus menerima penolakan-penolakan dari berbagai tempat, bagaimana kemudian kalian akan menjaga mental dan kepercayaan diri kalian ketika menghadapi penolakan. Ini penting, karena kehidupan paska UN SMA kalian tidak sesederhana liburan panjang 4 bulan sebelum memasuki jenjang kehidupan berikutnya.

Pre-College Life

  • Memilih Universitas dan Jurusan

Memilih ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak pernah akan menjadi hal yang mudah dan sederhana. Ada banyak pertimbangan seperti keinginan orang tua, passion dan minat kalian, lokasi universitas dan yang paling penting, kemampuan akademik dan passing grade/ranking jurusan dan universitas yang kalian inginkan.

Yang terakhir sebenarnya agak menyakitkan, karena pada faktanya banyak jurusan dengan passing grade tinggi yang akhirnya tidak diisi oleh mereka yang benar-benar punya minat di bidang itu. Hanya karena gengsi, kemudian memilih jurusan itu.

Padahal, untuk bertahan di sebuah jurusan pastinya dibutuhkan minat dan ketertarikan pada jurusan itu. Sebagai contoh, kamu ingin masuk Sejarah atau Sosiologi, tapi karena gengsi yang kurang akhirnya kamu memilih masuk HI. Walaupun kamu tidak suka public speaking, tidak suka berbicara tentang isu-isu Internasional. Dan hal ini, aku temukan secara nyata, tidak satu dua, tapi BANYAK.

Selain itu, banyak pula misconception (apasih bahasa Indo-nya? Mispersepsi?) tentang beberapa jurusan. Seperti hukum misalnya. Banyak yang berfikir ketika kamu masuk Hukum, kamu harus jago berbicara dan berdebat. Sure, itu benar. Tapi bukan asal bicara dan berdebat, tapi berdebat dengan menggunakkan logika Hukum, berdebat dengan argumentasi yang diterima secara Hukum. Remember, Law School doesn’t teach you about Law, they teach you to think like a Lawyer, Judge and etc.

Maka saranku sebelum memilih jurusan tolong pertimbangkan baik-baik. Riset, banyak bertanya, baca blog orang yang berkuliah di jurusan itu, lihat apakah prospek kedepannya cocok dengan kalian. Pertimbangkan juga seberapa berat kuliahnya, tugas-tugasnya, sanggup gak kalian bertahan dengan itu semua. Jangan hanya berfikir enak-enaknya saja, kayak HI bisa jalan-jalan keliling dunia gratis (ini mitos banget asli, karena banyaknya kalaupun keluar negeri ya kerja doang, jadi susah menikmati tempatnya. Kalau jadi diplomat juga gajinya mepet, saingan masuk Kemlu juga susah, gabisa banyak-banyak jalan, kalian itu di gaji sama pajak rakyat loh!). Pastikan bahwa kalian bener-bener suka dan mampu bertahan.

Setelah yakin sama jurusannya, tahap selanjutnya adalah memilih Universitas. Kalau aku, kemarin memilih UI karena beberapa faktor. Deket dari rumah, kondisi kesehatan dan amanat kakekku.

Untuk kalian yang orangtuanya ada di almamater tertentu, seperti UI, UGM dan ITB biasanya orangtua kalian punya pride dan legacy yang ingin dilanjutkan ke anak-anak atau cucunya. Walau gak semuanya gitusih, nenekku ga minta aku masuk UGM, hehehe. Gimana menghadapi ini? Kalau aku, selagi aku mampu akan aku usahakan. Itung-itung birrul walidain.

Selain itu ada ranking dan akreditasi Universitas yang kadang jadi pertimbangan. Ranking ini gak berarti segalanya, tapi kemudian bisa memudahkan kalian untuk melanjutkan kuliah pada jenjang selanjutnya.

Pertimbangan dosen. Pas milih UI, aku pengen karena dosennya banyak alumni LSE, which is my dream post grad school. Jadi aku bisa dapet pengalaman dan bantuan buat apply S2-ku, waktu itu sih mikirnya gitu. Jangan lupa juga riset, tanya ke senior yang udah berkuliah disana, gimana tipe dosennya? Secara umum cocok gak sama kepribadian kamu? Karena di kampus tertentu (off the record lah ya) ada dosen yang bisa ngasih nilai kamu jelek karena kamu nggak bicara pake kromo inggil dan kamu dianggap kurang sopan.

Yang gak kalah penting adalah aktifitas ekstrakulikuler. Misalnya kalian mau aktif di kegiatan MUN (Model United Nations) atau misalnya MAPALA, carilah kampus yang bisa memfasilitasi kalian dalam kegiatan-kegiatan itu. Karena kehidupan kampus kan gak cuma akademik, tapi juga kalian bakal berproses agar keluar dari situ bukan hanya kemampuan akademik kalian yang baik, tapi juga kalian bisa bener-bener jadi manusia yang berdiri sendiri dan bertanggungjawab.

Terakhir, lingkungan. Bagaimana lingkungan kampusnya. Borju gak? Pergaulannya gimana? Apakah orangtua kalian akan merasa aman meninggalkan kalian disana? Kalaupun borju dan kalian masih pengen kuliah disana, gimana ya kira-kira bertahannya?

Khusus yang sudah yakin memilih PTLN, pertimbangkan faktor beasiswa, lingkungan, asrama dan adaptasi kalian. Pertimbangkan juga bagaimana networking kalian kedepannya kalau masih ingin berkarier di Indonesia. Walau kemudian berkuliah di negeri orang akan memberikan pengalaman pendewasaan diri yang lebih (karena challenge(s) yang akan kalian hadapi juga lebih besar), meski kemungkinan besar kalian akan melalui masa perkuliahan yang relatif lebih lama daripada teman-teman kalian.

Buat anak IPA yang mau nyebrang ke IPS, let me ask you one thing, seberapa kalian yakin dengan IPS? Karena jangan dipikir kalian mau bebas dari ngitung terus kalian milih IPS. IPS itu dunia yang serba relatif, aku pernah disuruh baca makalah 16 halaman dengan tulisan super kecil dalam bahasa inggris yang njlimet untuk dapat kesimpulan bahwa gaada definisi pasti tentang HI, bahwa definisi itu harus kita dapatkan sendiri dalam perjalanan keilmuan kita nanti. Siap kalian deal dengan hal-hal kayak gitu? Ketidakpastian tingkat akut, hehehe. Baca dan nyari jurnal berlembar-lembar, baca text book tulisan kecil-kecil at least 1 bab per mata kuliah perminggu? Ini minimal loh ya, minimal.

Barulah setelah mempertimbangan semua faktor diatas, kalian bisa menentukan pilihan tujuan perkuliahan kalian.

  • Menghadapi Penolakan-Penolakan

Memilih jurusan dan universitas impian memang ribet, tapi yang lebih ribet lagi adalah ketika kalian harus memilih pilihan kedua, ketiga. Membuat Plan A, Plan B, Plan C, Plan D, Plan E dst. Sekarang kalian pasti bakal bilang, “Apaansih kak, pesimis amat. Sampe Plan E segala? Pesimis amat. Doa aja dulu biar keterima SNMPTN”.

Well, terserah sih kalau kalian mau kayak gitu. Tapi yang harus aku bilang ke kalian, untuk kebaikan kondisi psikis kalian kedepannya juga, hapus SNMPTN dari bayangan. Kenapa? Karena kita gak pernah tau apasih kriteria spesifik yang menentukan kelulusan SNMPTN. Jadi jangan pernah mengharapkan SNMPTN, pokoknya abis daftar, lupain ajadeh kalian pernah daftar. Pikirin aja SBMPTN, FOKUS!

Tapi meskipun kayak gitu, kalian juga mesti mikirin kira-kira mau naruh apa di SNMPTN. Tentunya kalau kalian gak punya kriteria spesifik universitas atau memang universitas yang kalian inginkan itu termasuk yang relatif bisa ditembus masuk lewat SNM, pilihlah universitas dengan proboabilitas masuk yang tinggi.

Kalau ternyata dream school kalian termasuk susah ditembus lewat SNM, tanyakan ke diri kalian sendiri, Apakah kalian nantinya gak akan menyesal gak pernah memperjuangkan untuk mimpi kalian? Kalau aku, aku memutuskan memperjuangkan jaket kuning sampe kesempatan terakhir, hehehe.

Yang harus aku bilang, walaupun aku tau aku hampir gak mungkin dapet SNM, di tolak SNM itu tetep nyesek. Tetep menyedihkan. Tetep menyakitkan. I thought I was ready, tapi pas buka pengumuman dan baca “Maaf anda dinyatakan tidak lulus dalam seleksi SNMPTN 2017”, Coyyyyy itu rasanya nyesek banget man. Nyesek!

Lalu ada yang namanya SBMPTN. Menentukan pilihan pertama di SBM sebenernya relatif mudah. Pilih dan perjuangkan impian kamu, no matter what happens. Kecuali, kalau memang yang kamu mau bener-bener tinggi banget dan nilai kamu masih jauh banget, kayak HI UI, FK UI, Akuntasi UI dan UGM dan pilihan kedua kamu masih tetap jurusan yang sama di Universitas lain.

Karena beberapa Universitas gaakan mau milih kamu, walau nilai kamu cukup, ketika kamu menuliskan jurusan favorit sebagai pilihan kedua atau bahkan ketiga. Ini kesalahan aku pas SBM tahun ini.

Nah pilihan kedua ketiga gimana nih? Kalau menurut aku, kamu harus pilih antara jurusan dan universitas. Pilih jurusan ketika kamu emang bener-bener sulit membayangkan kamu kuliah di jurusan lain. Ketika kamu bener-bener yakin bahwa emang jurusan itu masa depan dan dunia kamu.

Pilih universitas ketika kamu menginginkan universitas itu, orangtua kamu juga mendukung (biasanya karena faktor lokasi), ketika kamu juga sebenernya fleksibel dalam memilih jurusan (kayak kamu sebenernya suka HI, tapi gak keberatan ngambil Ilmu Politik, Hukum atau Ilmu Administrasi Negara atau bahkan Kesejahteraan Sosial) atau ada ekstrakulikuler yang bener-bener kamu bisa kejar dan kamu yakin bakal bersinar di ekskul itu.

Udah realistis gitu masih bisa ditolak Kak? Bisa banget. Bisa BANGET. Ditolak SBM itu jauh lebih nyesek daripada di tolak SNM, karena materi SBM itu susah banget, capeknya luar biasa kalian bimbel sebulan, tidur gak tidur, waduh asli nyesek banget. Desprate banget kalian mau kuliah dimana, putus asa, malu.

Disini, yang di uji adalah mental dan iman kalian. Sedih itu pasti, nyesek itu pasti. Bahkan bagi mereka yang diterima di SBM tapi nggak di pilihan pertama mereka, bahkan bagi mereka yang di terima di pilihan pertama tapi mereka nurunin standart mereka.

Mungkin akan datang masa ketika kalian akan menyalahkan diri kalian sendiri, menyalahkan orangtua karena memaksakan sesuatu terhadap kalian. Mungkin juga akan keluar kata-kata seperti ‘kalau dulu aku milih sekolah di sekolah x mungkin aku akan dapat SNMPTN’. Berhenti mikir kayak gitu, karena apapun yang kejadian sama kalian itu dari Allah. Seperti yang Tere Liye bilang, Takdir langit akan selalu adil, meskipun kadang kita belum mengerti bentuk keadilan itu. Dan menyesali ini semua gaakan membantu kalian mendapatkan universitas impian kalian.

Satu hal yang aku pelajari dari pengalamanku, bahwa semuanya akan datang ketika kita benar-benar ikhlas dan tidak menyalahkan keadaan. Aku dulu marah dengan konsep pendidikan di Indonesia yang membuat beberapa jam SBMPTN sebagai penentu masa depan, aku marah dengan fakta bahwa SBM tidak pernah diajarkan, ketidakseimbangan demand dan supply perguruan tinggi.

Aku kesal dengan pandangan meremehkan universitas swasta di Indonesia. Aku marah pada orangtuaku karena memaksaku masuk SMP-ku yang kuanggap jadi batu sandungan bagiku untuk ke Harvard, NUS dan UI. Kalian pasti pernah dengar ungkapan “Kalian tidak akan pernah mendapatkan sesuatu kalau kalian terlalu menginginkannya”. Aku merasakan betul bahwa ungkapan itu nyata. Aku akhirnya dapat HI UB ketika aku benar-benar tidak lagi mengharapkannya, ketika aku sudah siap menerima fakta aku harus masuk universitas swasta di Jakarta. Ketika aku tidak lagi marah dengan sistem yang ada di hadapanku.

So first, I’ll tell you, you’re not alone. You’re not the only person who faced rejections, you’re not the only person who feels miserable. Its always okay to be sad, to feel pathetic but you can’t do that forever. Tentukan waktu bersedih kalian, 3 hari aku pikir cukup, lalu pikirkan langkah kalian kedepannya mau ngapain.

Kalian harus daftar mandiri kah, mau ambil universitas swasta, mulai mempertimbangkan kuliah di PTLN atau bahkan memutuskan ronin. Semua keputusan baik dan kondisi setiap orang beda-beda.

Kalau kalian mau daftar mandiri, apakah kalian masih mau stick ke jurusan yang kalian inginkan atau kalian mau nurunin standart asal yang penting kalian keterima. Aku pernah mengalami ini dan ternyata kalau asal keterima itu gaenak. Jadi rasanya sama aja sama gak keterima (apa aku yang kurang bersyukur ya? Astagfirullah).

Tapi seriusan, pas kalian gadapet SBM kalian bakal kayak orang stress yang nyari jurusan apapun asal keterima disitu. Please jangan kayak gini, karena kuliah itu 4 tahun dan kalau kalian mentok di jurusan yang jauh banget dari kalian, itu nggak enak. Tapi ada untungnya juga sebenernya, diterima di jurusan dan uni (walau yang tidak kalian harapkan) bisa mengembalikan mental kalian setelah di tolak sana sini.

Kalau memutuskan ronin, kalian bener-bener harus menjaga semangat kalian. Fokus. Kerja keras. Buktikan sama keluarga dan orang-orang terdekat kalian bahwa kalian kalian bukan cuma main-main, tapi bener-bener mengejar SBM tahun depannya. Bagus juga kalau kalian nambah kemapuan lain seperti tahfiz, bahasa asing, menjelajah hobi kalian kayak fotografi atau menulis biar gak bosen nganggur setahun.

Pesanku, terus belajar, terus bersemangat, cari dan ketahui passion kalian apa dan dimana. Bicarakan baik-baik dengan orangtua, pertimbangkan semua hal, come to every single detail. Libatkan Allah dalam setiap keputusan yang akan kalian ambil.

Jangan pernah bandingkan kehidupan kalian dengan orang lain seperti ‘enak ya dia dapet SNMPTN’ karena kata Ismail Menk “The moment you started comparing your life with others is the start of your downfall. You’ll loose your peace and sense of gratitude. Thank The Almighty”.

Feel free to ask or to contact me, kalau mau ngobrol atau tanya-tanya tentang kuliah ke salmarzulfikar@gmail.com atau direct message instagram, line atau whatsap. Selamat bekerja keras dan berdoa!

 

“We all want to achieve, but nobody wants to do the hard works. Achievements only come with hard work, dedications and the help of The Almighty”

-Mufti Ismail Menk

Tentang Sebuah Pencarian, PART II

Tentang Sebuah Pencarian, PART II

“Kamu akan jadi lebih hebat dari Ayah, makanya kamu dikasih ujian seperti ini. Kamu akan dapet universitas, kamu akan diterima, Ayah percaya its just a matter of time”

Lama tidak menulis, banyak juga yang kemudian menagih janji karena di post sebelumnya ada kata-kata “To be continued” tapi kok gak dilanjut-lanjut. Oke, I have excuse, even EXCUSES. Banyak man, banyak yang bisa aku jadikan alasan dan kalau aku jabarkan satu-satu beserta tetesan airmata yang mengirinya (YEAH DRAMA YEAH) aku yakin kalian akan memakluminya dengan senang hati.

Tulisan ini akhirnya diketik di kamar kosan saya di Malang, ketika udara nggak begitu panas selesai kelas pengantar hubungan internasional, iya gapenting. Yaudahlah ya sebelum makin ngawur dan semoga kalian gak langsung tutup blog saya karena preambulnya ancur banget kayak gini, aku lanjut ajalah.

Where were we? Akhir masa SMA-ku yang akhirnya aku memutuskan melepaskan NTU dan NUS, meninggalkan impian yang telah dibangun sejak awal aku menginjakkkan kaki di SMA bukan? Alright. Ada banyak pertimbangan kenapa aku akhirnya melepaskan kesempatan mendaftar di dua universitas terbaik di Singapura itu.

Alasan utamanya adalah kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan untuk berada terlalu jauh dari orangtua. Oke, you may say Singapore its just 1,5 hours away from Jakarta and else, tapi yang ada di pikiran orangtuaku saat itu adalah itu adalah negara lain dengan kultur budaya yang cukup berbeda dengan lingkungan ku selama ini. Jika ditambah dengan kondisi kesehatan yang tidak stabil, mungkinkah aku bertahan? Mampukah aku bertahan?

Terlebih lagi pada saat masa-masa dua universitas tersebut membuka pendaftaran berkas, aku sedang di rawat di rumah sakit, sehingga makin menyurutkan kepercayaan orangtuaku untuk memberikan izin kepada sulungnya untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Destinasi pun kemudian berganti. Aku tetap memilih Ilmu Hubungan Internasional karena aku yakin, itulah jalanku. Itulah pilihan dan tujuanku. Aku tahu apa yang akan aku lakukan dengan ilmu yang kuperoleh dari studi ini.

Aku kemudian mempertimbangkan dua universitas negeri di Indonesia, Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran.

UI, dengan pertimbangan sebagai universitas terbaik di Indonesia (versi QS World University Rankings) selain juga faktor jarak yang dekat dengan rumah sehingga akan memudahkan orangtuaku untuk mengontrolku. Selain itu fakta bahwa aku telah menghabiskan 3 tahun di boarding school membuat aku ingin kembali ke Jakarta, mendekatkan diri dengan keluarga besarku, membayar waktu-waktu berpisah kami.

UNPAD, dengan pertimbangan lebih mudah bagiku untuk masuk kesana melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau biasa dikenal dengan jalur undangan. Faktor kakak kelas yang sudah banyak diterima pada jurusan yang sama membuatku kemudian cukup tertarik.

Setelah melalui berbagai kegalauan dan kebingungan, aku kemudian mantap memilih Universitas Indonesia sebagai satu-satunya pilihan SNMPTN-ku. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan, namun salah satu yang paling mengesan di hatiku adalah ketika kakekku berpesan, “Kuliah di UI aja, gausah jauh-jauh lagi”.

Mungkin bagi sebagian orang biasa saja, hanya sekedar ungkapan seorang Kakek yang ingin cucunya ada di dekatnya. Tapi bagiku, its everything. Kakekku adalah seseorang yang menanamkan kecintaan pada dunia politik, ekonomi dan hubungan internasional sejak aku kecil. Aku selalu ingat bagaimana dia mengajakku menonton televisi berita ketika bahkan aku belum tamat SD.

Kakekku adalah alumnus Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia dan tak ada anaknya yang mengeyam pendidikan di almamaternya, melanjutkan kebanggan berjaket kuning. Meskipun aku harus akui bahwa diluar sana, anak-anaknya menempuh pendidikan di universitas terbaik, yang secara ranking berada jauh lebih tinggi dari UI, tapi aku pikir kakekku masih menginginkan salah satu anak keturunannya melanjutkan kebanggaan berjaket kuning.

Memilih SNMPTN Hubungan Internasional Universitas Indonesia tentu bukan pilihan sederhana dan mudah. Semua orang tahu betapa berat persaingan masuk HI UI dan belum ada alumni sekolahku yang diterima di jurusan itu. Berbagai nasihatpun datang kepadaku, menyarankan agar aku memilih universitas lain, namun aku kukuh pada pilihanku. Permintaan kakekku adalah permintaan istimewa yang tidak akan pernah aku tolak.

Dan akhirnya, aku ditolak. Tidak lulus SNMPTN. I was prepared for that, I know that it is the things that actually would happened. Tapi ternyata tetap, ditolak itu menyakitkan. Meski aku tahu, sangat kecil kemungkinan bagiku untuk diterima, tapi ternyata kesedihan tetap datang.

Aku kemudian kembali belajar, berteman dengan soal, berkawan dengan guru les privat, mengurung diri di perpustakaan rumah, menyiapkan diri untuk bertempur melawan soal SBMPTN dan SIMAK UI yang terkenal sulit. Aku bersyukur aku pernah aktif menjadi tim lomba dan mengikuti pembinaan olimpiade untuk 3 mata pelajaran sosial humaniora, sosiologi, geografi dan ekonomi sehingga tidak terlalu harus mengejar dalam waktu yang begitu singkat.

Saat ujian SBMPTN berlangsung, aku cukup percaya diri dengan jawabanku dan aku cukup yakin bahwa setidaknya aku akan diterima di salah satu pilihan yang aku pilih. Namun kemudian fakta berkata lain, aku tidak diterima di pilihan manapun baik di SBMPTN dan SIMAK UI.

Sedih, marah, kesal, depresi kemudian mulai menghantui. Berbagai pertanyaan tidak pantas kemudian terlontar. Aku menjalani hari dengan kegamangan yang luar biasa, kepercayaan diri kemudian turun. Yang aku pikirkan hanya satu, apa yang harus aku katakan kepada keluarga besarku? Karena dalam catatan keluarga kami, tidak ada yang tidak masuk universitas prestigius.

Salah satu yang menyakitkan bagiku adalah aku tak mampu melihat sekelilingku kecewa. Walau kemudian kecewa itu tak pernah ditunjukkan secara frontal, tapi aku tahu pasti ada sudut hati mereka yang kecewa. Ada kalimat maaf yang tertahan dariku, bahkan hingga saat ini “Maaf karena aku nggak bisa membuat ayah merasakan kebanggaan yang sama dengan yang dirasakan nenek dan kakek dulu ketika ayah diterima di UI”.

Aku juga menolak penghiburan dari orang-orang terdekatku karena aku menganggap mereka tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Tanteku berkuliah di universitas terbaik di Australia, Ibuku masuk universitas swasta yang punya reputasi baik di Amerika, sedangkan Ayahku diterima di Akuntansi Universitas Indonesia tepat setelah beliau lulus SMA, bahkan nenekku alumni UGM. Tahu apa mereka tentang sakitnya ditolak univeristas negeri berkali-kali?

Berbagai kemungkinan kemudian aku telusuri, mulai dari mengambil seleksi mandiri berbagai universitas negeri, ikut test masuk universitas swasta, melihat kemungkinan mendaftar di Univeristas negeri di Malaysia dan Turki, serta banyak lagi.

Aku akhirnya mengikuti seleksi mandiri beberapa universitas, menerima beberapa penolakan lagi, hingga akhirnya dua univeristas negeri yang cukup reputable di Indonesia menerima aplikasiku. Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Brawijaya.

Aku kemudian memilih Universitas Brawijaya sebagai tempatku melanjutkan studi dengan beberapa petimbangan, meski aku akui tidak mudah memilih untuk berada jauh dari rumah, meninggalkan zona nyamanku. Apalagi pada saat itu aku juga telah diterima di sebuah universitas swasta di Jakarta.

Setelah melewat semua ini dan segala kesedihan dan cobaan yang ada bersamanya, aku pikir akhirnya aku akan dapat menikmati kehidupan, merasakan manisnya mengecap bangku perkuliahan. Tapi ternyata nol besar, aku salah. Semua lika-liku yang telah menjungkirbalikkan aku itu hanyalah sebuah permulaan. Jika film, itu adalah trailer awalnya. Dunia perkuliahan, terutama dengan kegiatan pengenalan kehidupan kampusnya adalah sebuah tantangan yang tidak kalah berat menguji ketahanan mental dan fisik kita.